Spesifikasi Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Kapal induk pertama Indonesia telah tiba di Tanah Air pada Jumat (18/9/2026) pagi. Kapal bernama Giuseppe Garibaldi itu sampai di Tanjung Priok setelah berlayar dari Italia pada 24 Agustus 2026.
Kapal ini dibangun di galangan Monfalcone dan menjadi salah satu kapal penting dalam sejarah Angkatan Laut Italia.
Laman resmi Marina Militare mencatat kapal ini sebagai aircraft carrier kelas Garibaldi dengan nomor lambung 551.
Nama lengkapnya adalah Giuseppe Garibaldi, diambil dari tokoh nasional Italia yang sangat terkenal dalam sejarah penyatuan negara tersebut. Saat masih bertugas di Angkatan Laut Italia, kapal ini dikenal sebagai ITS Giuseppe Garibaldi atau Nave Garibaldi.
Secara desain, Garibaldi bukan kapal induk raksasa seperti milik Amerika Serikat atau China. Kapal ini lebih tepat disebut kapal induk ringan. Perannya dirancang untuk membawa helikopter, pesawat STOVL (short take off and vertical landing), operasi komando, serta mendukung operasi laut dan udara sekaligus.
Garibaldi bisa mengoperasikan pesawat seperti AV-8B Plus Harrier II, meski ukuran deknya tidak sepanjang kapal induk besar.
Melansir Marina Miltare situs resmi Angkatan Laut Italia, pembuatan Giuseppe Garibaldi dimulai pada 20 Februari 1978, lalu kapal ini diluncurkan pada 4 Juni 1983 dan mulai bertugas pada 1985.
Untuk kelas kapal induk ringan, kapal ini punya kemampuan yang cukup baik.
Selama digunakan Italia, Garibaldi mampu membawa helikopter EH101, SH90A, dan AB212. Kapal ini juga bisa membawa pesawat taktis STOVL AV-8B Plus Harrier II. Pesawat Harrier inilah yang membuat Garibaldi punya kemampuan tempur udara dari laut.
Dari sisi persenjataan, Garibaldi dilengkapi peluncur Albatros untuk rudal Aspide permukaan ke udara.
Kapal ini juga membawa tiga sistem DARDO dengan meriam Breda 40/70 untuk pertahanan jarak dekat. Marina Militare juga menyebut kapal ini memiliki sistem pertahanan aktif dan pasif untuk melindungi diri dari ancaman di laut.
Pengalaman operasi kapal ini juga cukup panjang. Garibaldi pernah terlibat dalam operasi di Somalia pada 1994 dan 1995. Kapal ini juga mendukung operasi di Yugoslavia pada 1999, menjadi kapal komando dalam Operation Enduring Freedom pada 2001 sampai 2002, serta terlibat dalam operasi Lebanon pada 2006.
Pada 2011, Garibaldi juga terlibat dalam operasi di Libya. Setelah itu, kapal ini pernah menjadi flagship dalam operasi Uni Eropa Sophia pada 2015 sampai 2017 di kawasan Mediterania Tengah.
Dengan pengalaman panjangnya, kapal yang sudah berusia lebih dari 40 tahun ini juga memiliki konsekuensi dari sisi biaya.
Meski Giuseppe Garibaldi sejauh ini disebut sebagai kapal hibah dari Italia, bukan berarti Indonesia tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Kapal sebesar ini tetap membutuhkan biaya besar untuk perawatan, pengoperasian, modernisasi, hingga penyesuaian dengan kebutuhan TNI AL.
Mengacu laporan parlemen Italia yang diberitakan Reuters, biaya perawatan kapal ini diperkirakan sekitar 5 juta euro per tahun atau setara Rp103,5 miliar (asumsi kurs Rp20.710 per euro).
Selain biaya perawatan, Italia juga memperkirakan pembongkaran dan peremajaan kapal ini bisa memakan dana hampir 19 juta euro atau sekitar Rp393,49 miliar.
Jika Giuseppe Garibaldi resmi masuk armada TNI AL, Indonesia akan menjadi negara kelima di Asia yang memiliki kapal induk.
Negara Asia seperti China, India, Jepang, bahkan Thailand sudah lebih dulu memiliki kapal induk.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]