MARKET DATA

Tambal APBN, Ini Rencana Utang Pemerintah hingga Akhir Tahun

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
18 September 2026 17:35
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI, Suminto saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY,
Foto: Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI, Suminto saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan strategi penerbitan surat utang atau surat berharga negara (SBN) untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan hingga akhir tahun tidak ada perubahan.

Hal ini diungkap oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto pada APBN KiTA, Jumat (18/9/2026).

"Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan hingga akhir tahun, dari sisi instrumen mix kami, masih sesuai dengan strategi di lelang SUN dan SBSN setiap hari Selasa, tetap seperti biasa," kata Suminto.

Adapun strategi pembiayaan tersebut juga masih sejalan dengan target, di mana strategi tersebut ditujukan untuk memenuhi outlook defisit APBN 2026 sebesar 2,85%.

Pihaknya juga menegaskan penerbitan SBN domestik akan tetap di dan tidak ada tambahan penerbitan melalui lelang yang lebih besar yang dapat menambah risiko supply SBN.

"Jadi kami ingin pastikan bahwa supply risk penerbitan SBN domestik akan tetap kami jaga. Artinya tidak akan ada tambahan penerbitan melalui lelang yang lebih besar yang menambah risiko supply SBN yang tentu akan potentially meningkatkan yield," terang Suminto.

Dengan strategi yang masih sejalan dengan target, pihaknya berharap dapat menjaga imbal hasil SBN. "Jadi dengan strategi yang on track, kami harapkan kami tetap dapat menjaga level timbal hasil dari SBN kita," ujarnya.

Selain itu, pemerintah masih akan menerbitkan dua seri SBN ritel, yakni Sukuk Tabungan dan SBN ritel konvensional.

Pemerintah juga memiliki opsi menerbitkan SBN dalam valuta asing dengan mempertimbangkan kondisi pasar.

Sementara itu, pinjaman program dari Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) telah tersedia untuk dicairkan.

(chd/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Panda Bond RI Laris Manis di China, Permintaan Masuk hingga Rp45 T


Most Popular
Features