Arab Saudi Minta Tolong, China Diam-Diam Tekan Iran soal Houthi
Jakarta, CNBC Indonesia - China diam-diam meminta Iran menggunakan pengaruhnya untuk meredam kelompok Houthi di Yaman setelah Arab Saudi meminta bantuan Beijing menghadapi serangan cepat kelompok yang didukung Teheran tersebut dalam sepekan terakhir.
Permintaan itu disampaikan setelah Houthi bergerak cepat di sepanjang pesisir Laut Merah dan kawasan sekitar Selat Bab el-Mandeb. Pergerakan tersebut membuat jalur pelayaran serta ekspor minyak Arab Saudi semakin rentan, menurut tiga sumber Iran yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters.
Secara terbuka, Beijing memang menyerukan semua pihak menahan diri, membuka ruang dialog, dan memulihkan keamanan pelayaran. Namun, menurut ketiga sumber tersebut, pesan yang disampaikan China secara tertutup kepada Iran jauh lebih tegas dibandingkan pernyataan publiknya.
China ingin Iran memanfaatkan pengaruhnya terhadap Houthi agar konflik tidak meluas ke jalur-jalur energi yang sangat penting bagi Beijing. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, China sangat bergantung pada jalur tersebut untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Ketiga sumber Iran yang mengetahui pembicaraan tersebut berbicara dengan syarat anonim. Mereka tidak menjelaskan bagaimana pesan Beijing disampaikan kepada Teheran maupun apakah persoalan itu dibahas saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi berkunjung ke China pada Rabu (16/9/2026).
Menurut sumber-sumber tersebut, respons Teheran kepada Beijing adalah bahwa stabilitas dan perdamaian di kawasan bergantung pada berakhirnya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
China juga tidak mengeluarkan ancaman secara terbuka ataupun mengindikasikan akan memberikan tekanan ekonomi kepada Iran apabila Teheran gagal menggunakan pengaruhnya terhadap Houthi, kata ketiga sumber Iran tersebut.
Menanggapi permintaan komentar Reuters, Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing tidak menginginkan ketegangan regional meluas lebih jauh ke Yaman dan Laut Merah.
"China tidak ingin melihat ketegangan regional semakin meluas ke Yaman dan Laut Merah. Meningkatnya ketidakstabilan regional bukanlah kepentingan pihak mana pun," kata kementerian tersebut.
"Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dihormati, dan fasilitas yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat tidak boleh menjadi sasaran. China menyerukan penghentian tindakan yang semakin memperumit situasi dan mendesak penyelesaian masalah melalui dialog dan negosiasi," lanjutnya.
Ancaman Perang Regional Meluas
China telah menjadi mitra dagang terbesar Iran selama lebih dari satu dekade dan hingga kini merupakan pembeli utama minyak Iran. Data perusahaan analisis komoditas Kpler menunjukkan pembelian China menyumbang lebih dari 80% ekspor minyak Iran melalui jalur laut pada 2025, dengan rata-rata sekitar 1,4 juta barel per hari.
"Beijing adalah salah satu dari sedikit ibu kota yang masih dapat menekan Iran untuk mengendalikan Houthi," kata seorang diplomat senior Barat di kawasan tersebut.
Houthi muncul pada 1990-an sebagai kelompok yang menentang pengaruh keagamaan Sunni Arab Saudi di Yaman. Menurut sumber-sumber Iran dan negara-negara Barat, kelompok tersebut memperoleh persenjataan, pelatihan, dan pendanaan dari Iran. Houthi juga menjadi bagian dari apa yang disebut Teheran sebagai "Poros Perlawanan" yang menentang Barat dan Israel.
Ancaman Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb berpotensi memperburuk krisis energi global secara signifikan. Situasi tersebut menjadi semakin berisiko setelah Iran mulai memblokade Selat Hormuz, sekaligus meningkatkan kemungkinan konflik regional yang lebih luas.
Dengan Selat Hormuz yang sudah praktis tertutup, serangan Houthi secara berkelanjutan terhadap kapal atau pelabuhan di Laut Merah dapat mengganggu dua jalur utama ekspor minyak Timur Tengah secara bersamaan.
Kondisi tersebut berpotensi membuka front baru dalam krisis energi sekaligus memperluas konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat.
Salah satu sumber mengatakan Iran dan sekutunya kini memiliki kemampuan untuk menekan kedua ujung jaringan maritim utama kawasan tersebut.
"China bergantung pada keduanya," ujar sumber tersebut.
Alex Vatanka, Direktur Program Iran di Middle East Institute di Washington, mengatakan kepentingan China di Timur Tengah jauh lebih luas daripada sekadar hubungannya dengan Iran. Menurutnya, Beijing mungkin menentang tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran, tetapi China juga memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan.
Sekitar setengah dari impor minyak China berasal dari Timur Tengah. Sementara itu, nilai perdagangan antara China dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mencapai sekitar US$300 miliar per tahun.
"Iran dapat mengganggu Hormuz. Namun, pada titik tertentu, pengaruh tersebut mulai merugikan kekuatan yang semakin diandalkan Teheran," kata Vatanka.
Dilema China
Belum jelas apakah Teheran akan menindaklanjuti kekhawatiran yang disampaikan Beijing, menurut tiga sumber Iran tersebut.
Meski demikian, hubungan dengan China memiliki bobot ekonomi dan strategis yang besar bagi Iran, terutama ketika negara tersebut masih menghadapi permusuhan dengan Amerika Serikat.
China merupakan salah satu dari sedikit negara yang memiliki kapasitas keuangan untuk menyediakan investasi yang dibutuhkan Teheran guna mempertahankan industri minyak sekaligus mengurangi tekanan terhadap perekonomiannya yang terpukul perang dan sanksi.
Beijing juga telah menunjukkan pengaruh diplomatiknya di kawasan. Pada 2023, China menjadi penengah dalam kesepakatan yang memulihkan hubungan Iran dan Arab Saudi setelah bertahun-tahun berada dalam ketegangan.
Namun, pengaruh China terhadap Iran bukan tanpa batas. Sejumlah pengkritik di dalam Iran menyoroti relatif kecilnya perdagangan dan investasi China di sektor nonminyak sejak kedua negara menandatangani pakta kerja sama 25 tahun pada 2021.
Kritik tersebut semakin mencuat jika dibandingkan dengan meningkatnya komitmen investasi China di negara-negara Arab Teluk.
China tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan Teheran. Namun, dua dari tiga sumber Iran mengatakan kepentingan Beijing hanyalah salah satu dari banyak pertimbangan yang diperhitungkan Iran.
Menurut mereka, keputusan Teheran dibentuk oleh berbagai prioritas strategis, ekonomi, dan politik yang saling bersaing.
"Teheran dan Beijing saling membutuhkan. China adalah faktor yang tidak bisa diabaikan Teheran, sementara Beijing ingin Hormuz dibuka kembali dan pelayaran di Laut Merah diamankan," kata diplomat Barat tersebut.
Para analis menilai ujian utama hubungan kedua negara kini adalah apakah China siap memberikan konsekuensi atas tuntutannya kepada Iran.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]