Pengembang Properti Bangkrut, Karyawan di PHK-Ratusan Proyek Terancam
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar mengejutkan datang dari industri properti Australia. Pengembang Bathla Group yang berbasis di Western Sydney tengah menghadapi krisis keuangan serius setelah masuk ke dalam proses voluntary administration.
Voluntary administration adalah proses hukum di Australia ketika perusahaan yang sedang mengalami masalah keuangan menunjuk administrator independen untuk mengambil alih pengelolaan sementara.Tujuannya adalah mencari jalan terbaik bagi perusahaan dan krediturnya
Lebih dari dua pekan sejak proses tersebut dimulai, Bathla masih bertahan. Namun, kondisi perusahaan terus menyusut setelah Teneo mengambil alih pengelolaan perusahaan dan para kreditur mulai menentukan nasib proyek-proyek yang menjadi jaminan utang.
Mengutip ABC News, Rabu (16/9/2026), Bathla harus kembali mencari dana agar bisa mempertahankan operasionalnya. Lima kreditur sepakat menyediakan dana antara A$3 juta hingga A$5 juta (sekitar Rp37,8 miliar-Rp63,1 miliar)Â untuk membuat sebagian kecil operasi Bathla tetap berjalan selama dua pekan ke depan.
Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan awal yang diperkirakan administrator. Sebelumnya, sekitar A$20 juta (Rp252,1 miliar)Â disebut dibutuhkan untuk menjaga kegiatan konstruksi tetap berjalan selama lima pekan.
Krisis tersebut membuat proyek-proyek yang tidak didukung lima kreditur pemberi dana baru dihentikan sementara. Kreditur masing-masing proyek dapat mengambil alih pembangunan dan melanjutkannya secara terpisah dengan lisensi konstruksi yang berbeda.
Lebih dari 60% dari sekitar 350 karyawan Bathla juga telah dirumahkan. Saat ini, hanya sekitar 14 proyek yang masih berjalan sementara nasib proyek lainnya semakin banyak ditentukan secara terpisah oleh para kreditur.
Proyek Mulai Diambil Alih
Perpecahan bisnis Bathla mulai terlihat ketika para kreditur yang memberikan pembiayaan untuk proyek-proyek tertentu mulai menggunakan hak mereka atas aset yang menjadi jaminan. Dari sekitar 40 kreditur yang sebelumnya mendanai Bathla, hanya lima yang saat ini mendukung kelanjutan operasional perusahaan.
Salah satunya adalah 360 Capital Mortgage REIT yang sedang berupaya menagih A$31,7 juta dari empat pinjaman yang terkait dengan Bathla. Receiver telah ditunjuk untuk tiga pinjaman, sementara proses serupa tengah ditempuh untuk pinjaman keempat.
Untuk sebagian besar properti, strategi kreditur adalah menjual aset tersebut. Namun, terdapat satu pinjaman yang dijamin oleh 72 unit apartemen yang hampir selesai.
Kreditur berupaya menyelesaikan proyek hingga dapat dihuni agar transaksi penjualan yang sebelumnya telah dilakukan kepada pembeli dapat diselesaikan. Setelah itu, unit yang tersisa akan dijual.
Sejumlah kreditur lain seperti Ray White Capital, Leda milik investor properti miliarder Bob Ell, Balmain dan Woodbridge Capital juga telah menunjuk receiver atau mengambil kendali atas proyek tertentu.
Pengambilalihan proyek oleh kreditur sebenarnya bukan hal yang tidak biasa dalam kasus kebangkrutan pengembang properti. Namun, skala persoalan Bathla menjadi sorotan.
Perusahaan tersebut memiliki puluhan kreditur, ratusan perusahaan dan lebih dari 200 lokasi proyek. Akibatnya, meski Bathla secara keseluruhan masih berada dalam proses voluntary administration, nasib bisnisnya kini semakin ditentukan proyek demi proyek.
Kondisi tersebut juga membuat nasib kontraktor dan pembeli berbeda-beda. Kontraktor yang masih memiliki tagihan atas pekerjaan yang telah diselesaikan dapat tetap harus menagih melalui proses administrasi, meskipun proyeknya sudah diambil alih receiver dan pekerjaan dilanjutkan oleh perusahaan lain.
Sementara bagi pembeli rumah atau apartemen Bathla, hasil akhirnya akan bergantung pada masing-masing proyek, termasuk apakah pembangunan dilanjutkan, proyek dijual atau dibiayai kembali, serta ketentuan dalam kontrak mereka.
Masih Ada Upaya Penyelamatan
Meski situasi semakin rumit, sebagian bisnis Bathla masih memiliki peluang untuk diselamatkan atau direstrukturisasi. Dalam proses voluntary administration, Teneo bertugas mengkaji berbagai opsi untuk masa depan Bathla dan memberikan rekomendasi mengenai langkah yang dinilai dapat memberikan hasil terbaik bagi kreditur dibandingkan likuidasi.
Salah satu opsi yang sempat muncul adalah pembiayaan kembali sekitar 25 lahan Bathla yang belum dikembangkan dengan nilai sekitar A$1 miliar.
Renown Wealth sebelumnya mengoordinasikan proposal tersebut atas nama sindikasi investor yang didukung investor Jepang. Utang pada proyek-proyek tersebut direncanakan dibiayai kembali melalui Buildwell Australia Pty Ltd.
Namun, proposal itu akhirnya ditarik pada Jumat.
Renown mengatakan pihak-pihak yang terlibat tidak berhasil mencapai kesepakatan mengenai sejumlah persyaratan utama, termasuk struktur perusahaan dalam transaksi tersebut dan kebutuhan melakukan penilaian baru terhadap lahan.
Renown juga menyampaikan kekhawatiran mengenai rencana keterlibatan berkelanjutan pendiri Bathla, Bhart Bhushan.
Pemerintah Australia Tak Mau Bailout
Pemerintah Negara Bagian New South Wales (NSW) menyatakan masa depan Bathla merupakan urusan para krediturnya. Bendahara NSW Daniel Mookhey mengatakan pemerintah akan fokus melindungi pembeli serta menjaga agar rumah yang sedang dibangun dapat diselesaikan jika memungkinkan.
Namun, pemerintah tidak akan menggunakan uang pembayar pajak untuk menyelamatkan kreditur swasta. Dengan semakin banyaknya proyek yang diambil alih secara terpisah, upaya untuk mengembalikan Bathla menjadi satu kesatuan seperti sebelumnya juga semakin sulit.
Untuk saat ini, Bathla masih bertahan dalam proses voluntary administration. Namun, masa depannya akan sangat bergantung pada keputusan para kreditur dan kemampuan administrator mempertahankan nilai aset perusahaan.