Ogah Kalah dari Vietnam, Ini Strategi RI Tarik Duit Investor Teknologi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus berpacu membenahi diri dan mempersiapkan Sumber Daya Manusia untuk meningkatkan daya saing, agar mampu menarik modal investor untuk berinvestasi di bidang teknologi yang saat ini berkembang pesat.
Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Eka Chandra Buana mengungkapkan berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menarik investor teknologi seperti perbaikan regulasi, transformasi tata kelola, hingga mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul.
Seperti diketahui, perkembangan teknologi terjadi dengan cepat dan menjadi sektor tujuan utama para pemodal. Investasi di sektor teknologi menjadi sangat menarik seiring dengan perubahan gaya hidup yang lebih praktis dan lekat dengan digitalisasi. Investasi di sektor ini biasanya menyasar infrastruktur termasuk pusat data, sumber daya manusia, industri, dan pasar.
Berdasarkan lokasi, Asia Tenggara pun mendapat perhatian dari perusahaan raksasa teknologi dunia untuk menanamkan modalnya. Hal ini membuat Asia Tenggara telah menjadi medan pertarungan industri teknologi bagi perusahaan teknologi raksasa dari negara Barat dan Timur.
Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara pun dipilih untuk menjadi rumah ekspansi para perusahaan teknolog raksasa dunia, diantaranya Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sayangnya, Indonesia hanya 'kecipratan bagian yang cukup kecil dari investasi beberapa perusahaan teknologi raksasa dunia tersebut.
Thailand dan Vietnam belakangan secara agresif merayu perusahaan semikonduktor untuk melakukan ekspansi, menawarkan insentif pajak, dan daya tarik lainnya. Bahkan terbaru, perusahaan mobil listrik Tesla dikabarkan oleh Reuters tengah mendirikan anak usaha Tesla Motors Vietnam Limited Liability Company di Kota Ho Chi Minh, Vietnam dengan modal 77,667 miliar dong Vietnam atau sekitar Rp52,78 miliar.
Sedangkan Malaysia sudah menjadi eksportir semikonduktor terbesar keenam di dunia. Malaysia sendiri kini fokus industri pada pengemasan chip yang lebih kecil dan lebih mampu meningkatkan daya komputasi.
Di tengah ketatnya persaingan dalam menarik investasi di sektor teknologi, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dengan terus melakukan pembenahan dan inovasi kebijakan.
Eka Chandra menjelaskan, langkah pertama yang telah dilakukan adalah mendiagnosa permasalahan investor enggan menanamkan modal di Indonesia. Masalah krusial yang ditemukan adalah soal regulasi dalam institusi.
"Ternyata hambatan utamanya tuh adalah ada di regulasi institusi," ungkapnya saat ditemui CNBC Indonesia di Menara Bappenas, Jakarta pada Rabu (16/9/2026).
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan pemerintah adalah regulasi yang tumpang tindih serta bertentangan antar institusi dan juga antara pusat dan daerah. Hal tersebut, ungkap Eka Chandra adalah persoalan yang harus dibenahi dan sangat perlu untuk melakukan transformasi tata kelola agar dapat menarik investasi.
Maka, dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2025-2045, pemerintah menginisiasi transformasi tata kelola yang diantaranya fokus pada transformasi tata kelola, termasuk penataan regulasi, pembentukan dan penguatan lembaga tunggal pengelola regulasi, dan peningkatan pelayanan publik berbasis teknologi informasi.
Transformasi sumber daya manusia juga disiapkan oleh pemerintah agar menjadi daya tarik investor. Transformasi SDM tidak hanya menyangkut kapabilitas, namun juga produktivitas.
Eka menjelaskan produtiktivas sumber daya manusia juga mencakup pendidikan, kesehatan, infrastruktur serta regulasi. Ia menganggap, digitalisasi seharusnya juga bisa menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas SDM di Indonesia.
Kemudian, Eka melihat tantangan lain yakni disrupsi teknologi harus dipandang sebagai peluang baru.
"Yang perlu kita lakukan adalah disrupsi itu kita lihat adalah suatu peluang mengenai keahlian baru. Itulah yang sedang kita lakukan dengan adanya STEM (Science Technological Engineering and Mathematics)," ujarnya.
Pemerintah, ucap Eka, saat ini sedang fokus dalam menanamkan STEM dalam pendidikan untuk mengatasi disrupsi teknologi dan hal tersebut sudah ditanamkan sejak dini.
Lewat kebijakan transformasi itu, ia mengatakan, SDM Indonesia juga akan lebih inovatif, sehingga pada akhirnya juga turut mampu menarik modal investor, terutama di sektor teknologi, untuk masuk ke dalam negeri.
"Makanya kita selalu bilang di dalam RPJP adalah transformasi itu ditunjukkan oleh apa? Kebijakannya not business as usual disitu," ujar Eka.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]