MARKET DATA
Internasional

Perang Saudara Menggila di Tanah Arab, 100.000 Warga Mengungsi

tps,  CNBC Indonesia
16 September 2026 22:10
Para pendukung Houthi meneriakkan slogan-slogan saat mereka berdemonstrasi menentang serangan udara di Bandara Internasional Sanaa, di Sanaa, Yaman, 13 Juli 2026. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Foto: Para pendukung Houthi meneriakkan slogan-slogan saat mereka berdemonstrasi menentang serangan udara di Bandara Internasional Sanaa, di Sanaa, Yaman, 13 Juli 2026. (REUTERS/Khaled Abdullah)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 100.000 orang terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik berdarah di Yaman yang melibatkan kelompok pemberontak Houthi dan pasukan yang setia kepada pemerintah yang diakui secara internasional.

Mengutip Al Jazeera, Rabu (16/9/2026), Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa menyatakan bahwa permusuhan yang meningkat pesat di sepanjang pantai barat Yaman telah memicu gelombang pengungsian massal di dalam negeri.

Ribuan orang bahkan terpaksa mempertaruhkan nyawa menyeberangi selat Bab al-Mandeb yang berbahaya demi mencari perlindungan di Djibouti.

UNHCR memperingatkan bahwa kekerasan brutal ini mengancam memicu krisis kemanusiaan yang jauh lebih besar, di mana tekanan akan semakin mencekik komunitas yang memiliki sumber daya terbatas.

Untuk mengatasi bencana ini, UNHCR membutuhkan kucuran dana baru sebesar US$14 juta (Rp246,4 miliar) guna memenuhi kebutuhan mendesak keluarga pengungsi di Yaman, serta tambahan dukungan bagi mereka yang tiba di Djibouti.

"Banyak keluarga melarikan diri dalam waktu singkat dengan sedikit barang bawaan. Tempat penampungan, makanan, air bersih, perawatan kesehatan, dan layanan perlindungan adalah di antara kebutuhan yang paling mendesak, seiring dengan semakin padatnya komunitas penerima dan lokasi pengungsian," papar pihak UNHCR dalam pernyataan resminya.

Tak hanya warga lokal, lebih dari 65.000 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar di Yaman, yang sebagian besar berasal dari Somalia dan Ethiopia, juga menghadapi risiko mematikan akibat pertempuran tersebut.

Eskalasi besar-besaran ini dimulai ketika milisi Houthi yang bersekutu dengan Iran melakukan pergerakan kilat dan merebut kendali atas seluruh pantai Laut Merah Yaman untuk memperkuat cengkeraman mereka di Bab al-Mandeb.

Jalur air strategis tersebut telah menjadi koridor maritim kritis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, serta berfungsi sebagai rute pelayaran alternatif setelah perang Amerika Serikat melawan Iran mencekik jalur pengiriman utama di Selat Hormuz.

Kisah Pilu Korban Perang

Di lapangan, kengerian perang telah memisahkan banyak keluarga. Aisha Muhammad, seorang wanita pengungsi, terpaksa meninggalkan lima anaknya di desa mereka di dekat kota pelabuhan Mocha saat daerah itu diserbu oleh Houthi pada pekan lalu.

"Mereka diblokir dan ditembaki, sehingga mereka terjebak di dalam rumah. Mereka hanya memasak nasi, tidak ada roti, tidak ada yang lain. Putri-putri saya menelepon saya mengatakan bahwa mereka ingin bergabung dengan kami, tetapi itu sudah menjadi terlalu sulit," ungkapnya.

Kepanikan serupa dialami oleh Hussein Haydara, seorang pria yang mengungsi dari Hodeidah. Ia terpaksa melarikan diri secara mendadak bersama keluarganya saat mortir dan peluru beterbangan.

"Anda nyaris tidak bisa membawa anak-anak dan sedikit barang kebutuhan pokok bersama Anda. Kami sangat ketakutan oleh tembakan artileri dan penembak jitu, dan Anda hanya lari secepat yang Anda bisa karena takut akan keselamatan anak-anak dan keluarga Anda," tuturnya.

Hingga saat ini, UNHCR melaporkan bahwa lebih dari 2.400 orang telah melakukan perjalanan nekat melintasi selat Bab al-Mandeb dalam empat hari terakhir, dengan mayoritas pengungsi adalah wanita, anak-anak, dan lansia.

"Orang-orang tiba setelah perjalanan laut yang sulit, banyak yang kelelahan, tertekan, dan membawa sedikit barang yang bisa mereka bawa," ucap Perwakilan UNHCR di Djibouti, Sandrine Desamours.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Menggila-Minyak Bisa Kiamat: Usai Hormuz, Laut Ini dalam Bahaya


Most Popular
Features