MARKET DATA
Internasional

Makkah Kena Alarm Perang, Saudi Jadi Pusat Perang Baru di Timteng

luc,  CNBC Indonesia
16 September 2026 05:37
Citra satelit memperlihatkan jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi yang membentang melintasi Semenanjung Arab, setelah serangan yang hancur, Jumat (11/9/2026). (Vantor/Handout via REUTERS)
Foto: Citra satelit memperlihatkan jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi yang membentang melintasi Semenanjung Arab, setelah serangan yang hancur, Jumat (11/9/2026). (Vantor/Handout via REUTERS)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi mengeluarkan peringatan keamanan di sejumlah wilayah, termasuk Kota Suci Makkah dan Jeddah, kota terbesar kedua di negara tersebut pada Selasa (15/9/2026). Peringatan itu muncul setelah serangkaian serangan yang dilakukan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran dan membuat Riyadh makin terseret ke dalam perang di Timur Tengah.

Peringatan keamanan tersebut kemudian dicabut dalam waktu singkat. Hingga kini, otoritas Saudi belum menyampaikan apakah ada proyektil yang berhasil mencapai wilayah negara itu. Tidak ada pula kelompok yang langsung mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Meski berlangsung singkat, peringatan itu mencakup wilayah yang lebih luas dibandingkan peringatan sebelumnya sejak konflik meningkat pada pekan lalu. Alarm di Makkah juga menjadi yang pertama kali terdengar selama perang berlangsung di kota yang menjadi lokasi sejumlah tempat suci bagi umat Islam.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dalam beberapa hari terakhir menguasai sejumlah bagian pesisir Laut Merah di Yaman. Wilayah tersebut menghadap ke Bab el-Mandeb, salah satu selat pelayaran terpenting di dunia, sehingga menimbulkan ancaman baru terhadap ekspor minyak Arab Saudi yang dialihkan dari Selat Hormuz.

Ketika pertempuran meluas ke wilayah-wilayah baru di Timur Tengah, posisi Iran dalam perang melawan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama tujuh bulan turut menguat. Konflik tersebut sebelumnya telah membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz menyusut drastis, sehingga pasokan minyak global semakin terancam.

Dalam sepekan terakhir, Houthi mengumumkan sejumlah serangan besar terhadap Arab Saudi. Salah satunya adalah serangan ke pangkalan udara pada Senin yang disebut sebagai aksi balasan atas serangan udara terhadap wilayah Yaman.

Arab Saudi juga menuduh kelompok pro-Iran lain yang berbasis di Irak berada di balik serangan pada Jumat. Serangan tersebut melumpuhkan salah satu jalur utama pengangkutan minyak Saudi, yakni Pipa East-West yang membentang melintasi gurun Arab.

Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan kepada CNBC bahwa aliran minyak mentah melalui pipa tersebut diperkirakan dapat kembali berjalan dalam beberapa hari.

Serangan Kilat

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi di Yaman menyatakan bahwa serangan Houthi terhadap Saudi pada Senin melukai 13 warga sipil.

Houthi melancarkan serangan cepat di sepanjang pesisir barat Yaman pada pekan lalu. Operasi tersebut berujung pada pengambilalihan sebuah pulau yang berada di mulut Laut Merah.

Pejabat dari pemerintahan Yaman yang didukung Arab Saudi, yang berbasis di bagian selatan negara itu dan menentang Houthi, mengatakan angkatan udara Saudi dan Yaman merespons kemajuan kelompok tersebut dengan meningkatkan serangan udara terhadap target-target Houthi.

Serangan itu termasuk dilakukan di sekitar pelabuhan bersejarah Mocha di Laut Merah, yang direbut Houthi pada pekan lalu. Namun, para pejabat Yaman mengakui bahwa Houthi kini secara efektif menguasai hampir seluruh garis pantai barat negara tersebut di sepanjang Laut Merah.

Pipa East-West milik Arab Saudi memiliki panjang sekitar 1.200 kilometer dan menghubungkan ladang-ladang minyak di kawasan Teluk dengan Laut Merah. Selama pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang yang berlangsung selama enam bulan, pipa tersebut menjadi jalur ekspor utama Saudi.

Sejak pipa ditutup menyusul serangan pada Jumat, para pedagang minyak memperingatkan bahwa penutupan berkepanjangan dapat memangkas pasokan minyak global hingga 4%.

Riyadh belum mengungkapkan kapan operasi pipa akan kembali normal. Namun, Wright mengatakan di sela-sela pertemuan energi G20 di Houston bahwa pemulihan tersebut kemungkinan "akan dihitung dalam hitungan hari".

Ia juga menyebut Arab Saudi sedang mengambil langkah untuk mengalihkan lebih banyak minyak keluar dari Selat Hormuz dengan bantuan militer AS.

Harga Minyak Mendidih

Kehadiran baru Houthi di Bab el-Mandeb, yang berarti "Gerbang Air Mata", dapat makin membahayakan jalur ekspor penting tersebut. Selat yang berada di mulut Laut Merah itu menjadi penghubung strategis antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Harga minyak telah naik sejak pekan lalu ke level tertinggi sejak Mei. Kontrak berjangka minyak mentah Brent menembus US$108 per barel pada Selasa. Sementara itu, harga rata-rata ritel solar di Amerika Serikat, yang sensitif terhadap perkembangan politik, mencapai rekor tertinggi baru, yakni hampir US$6,27 per galon.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa membahas memburuknya krisis di sekitar Bab el-Mandeb.

Wakil Duta Besar AS untuk PBB Jennifer Locetta mengatakan kemajuan Houthi di dekat selat tersebut mengancam keamanan energi global. Ia juga menyebut serangan maritim kelompok itu telah menewaskan pelaut dan membahayakan perdagangan internasional.

Locetta mendesak Dewan Keamanan menghentikan pengiriman senjata dan bantuan keuangan dari Iran kepada Houthi, yang menurutnya melanggar embargo senjata PBB.

Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil menuduh milisi Houthi sedang "memiliterisasi selat-selat internasional untuk memeras ekonomi global".

Arab Saudi telah memimpin koalisi yang memerangi Houthi sejak 2015. Konflik tersebut sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir setelah diberlakukannya gencatan senjata. Namun, pertempuran kembali pecah bulan ini ketika Houthi mendorong mundur pasukan yang bersekutu dengan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Dilema AS

Sementara itu, AS, yang membombardir Houthi selama dua bulan pada tahun lalu, kini menghadapi dilema. Washington harus memilih antara membiarkan ancaman baru terhadap ekonomi global berkembang atau memberikan dukungan militer kepada Saudi dengan risiko terseret ke medan perang lain yang mahal.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Kairo pada Selasa. Dalam pernyataan setelah pertemuan, kepresidenan Mesir menyebut kedua pemimpin menekankan pentingnya menjamin kebebasan dan keamanan navigasi di Bab el-Mandeb serta Laut Merah.

Sehari sebelumnya, Putra Mahkota Mohammed bertemu dengan komandan militer regional AS, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah. Ia juga menelepon Presiden Donald Trump pada pekan lalu untuk meminta dukungan militer. Namun, bantuan AS sejauh ini masih terbatas pada dukungan intelijen.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Dianggap Cari Perkara ke "NATO Islam", Perang Besar Menanti?


Most Popular
Features