MARKET DATA

Amran Geram, Beras Fortifikasi Abal-abal Rugikan Masyarakat Rp 89 T

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
15 September 2026 12:54
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat mengekspos temuan beras fortifikasi tak sesuai di kantornya, Jakarta, Selasa (15/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat mengekspos temuan beras fortifikasi tak sesuai di kantornya, Jakarta, Selasa (15/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman, mengungkap dugaan kerugian konsumen akibat peredaran beras fortifikasi yang tidak sesuai standar mencapai Rp89 triliun. Pemerintah pun menyiapkan langkah tegas dengan menarik produk bermasalah dari pasaran hingga mencabut izinnya.

Amran mengatakan, dugaan kerugian tersebut berkaitan dengan beras yang dipasarkan sebagai produk fortifikasi, tetapi kandungannya tidak sesuai dengan label setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium.

"Diduga ya. Kita praduga tak bersalah. Itu diduga kerugian Rp89 triliun," ujar Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Ia menuturkan, dugaan ini berawal dari pemerintah yang menemukan terjadinya pergeseran praktik dari beras premium ke produk yang diklaim sebagai beras fortifikasi. Adapun pemeriksaan dilakukan terhadap produk yang beredar di pasaran menggunakan sejumlah laboratorium kredibel dan bersertifikat.

"Ternyata ada dugaan beralih dari premium ke fortifikasi. Katanya fortifikasi. Setelah kita cek di lab, ada 4 lab kredibel, kita cek ternyata tidak sesuai dengan labelnya," katanya.

Dalam pemeriksaan tersebut, pemerintah menemukan 25 dari 27 merek yang diuji dinyatakan tidak memenuhi standar (TMS).

Salah satu produk yang menjadi sorotan yakni beras dengan nama dagang berinisial WFO. Produk tersebut dijual hingga Rp57.600 per kilogram (kg), sedangkan harga wajarnya hanya sekitar Rp13.500 per kg.

Artinya, terdapat selisih sekitar Rp44.100 per kg. Amran menyebut selisih tersebut sebagai dugaan penipuan. Bahkan, dalam volume 10 ton, selisih harga itu disebut bisa mencapai sekitar Rp44 juta.

"Ini Rp57.000 (per kg) harusnya Rp13.000 (per kg) harganya. Untungnya Rp44.100 per kg. Kalau 1 truk 10 ton itu Rp44 juta. Memang menggiurkan. Nah, ini tidak boleh. Kita sudah operasi pasar untuk menekan harga, ternyata ada juga penyimpangan di dalam," ucap dia.

Amran menilai persoalan tersebut serius karena beras fortifikasi sejatinya ditujukan bagi kelompok masyarakat rentan. Produk tersebut diperuntukkan antara lain bagi masyarakat miskin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta kelompok yang berkaitan dengan stunting.

"Fortifikasi ini adalah untuk stunting, orang miskin, ibu hamil, menyusui, balita, bukan untuk penipuan oleh oknum, pemburu rente. Ini harus tegas," tegasnya.

(wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Beras Medium Disulap Jadi Fortifikasi Abal-abal, Untungnya Gila-gilaan


Most Popular
Features