Pipa Minyak Arab Saudi Dibom, Begini Dampaknya Bagi Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana cadangan untuk pasar minyak global yang telah babak belur akibat perang selama lebih dari enam bulan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berada di bawah ancaman kehancuran serius.
Mengutip CNN, Selasa (15/9/2026), pemerintah Arab Saudi pada hari Jumat mengumumkan bahwa mereka terpaksa menutup Pipa Timur-Barat menyusul gempuran pesawat tak berawak (drone) dari dalam wilayah Irak. Otoritas setempat menyatakan bahwa serangan mematikan tersebut telah mengakibatkan sejumlah korban luka dan kerusakan fasilitas.
Hingga saat ini belum ada kelompok yang mengeklaim bertanggung jawab. Namun, Presiden AS Donald Trump dengan cepat menuding kelompok proksi yang didukung Iran di Irak sebagai dalang di balik serangan tersebut. Merespons tuduhan ini, Kementerian Luar Negeri Iran secara tegas membantahnya pada hari Senin.
Penutupan paksa ini membawa konsekuensi fatal. Pipa Timur-Barat yang membentang hingga ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah ini sangat krusial dalam mengalihkan jutaan barel minyak mentah Saudi dari zona konflik Teluk Persia.
Menurut catatan Capital Economics yang diterbitkan pada Senin, penutupan pipa ini dapat memangkas hingga 4% dari total pasokan minyak global. Penghentian operasional yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu ini dinilai kian mencekik situasi pasar minyak dunia yang sudah menegang.
Cengkeraman Houthi & Lonjakan Harga
Ancaman krisis ini menjadi mimpi buruk sempurna setelah pemberontak Houthi di Yaman pada pekan lalu berhasil merebut kota pelabuhan Mocha dan Pulau Perim di selat Bab al-Mandeb. Jalur air sempit ini sebelumnya berfungsi sebagai rute alternatif ekspor minyak Saudi ketika Selat Hormuz diblokade.
Kombinasi cengkeraman Houthi atas Laut Merah dan penutupan pipa Saudi memicu ketakutan bahwa seluruh katup pelarian utama minyak di kawasan tersebut akan tertutup rapat. Imbasnya, harga minyak mentah berjangka kompak terbang pada perdagangan hari Senin. Acuan global Brent melesat lebih dari 3% menjadi US$ 108 (Rp 1.900.800) per barel, sementara acuan AS WTI meroket ke level US$103 (Rp1.812.800) per barel.
"Akan benar-benar menjadi malapetaka jika pipa Timur-Barat tidak dapat segera diperbaiki dan dioperasikan kembali. Sejauh ini rute tersebut adalah rute paling penting di mana Arab Saudi dapat mengalihkan aliran minyak mentahnya," tutur Presiden dan salah satu pendiri Rapidan Energy Group, Bob McNally.
Sebelum hancur dibom, ketahanan pasar minyak global sangat tertolong oleh jaringan Pipa Timur-Barat yang mampu memompa rata-rata sekitar 6 juta barel minyak mentah per hari, atau nyaris menyentuh kapasitas puncaknya di 7 juta barel per hari. Salah satu pendiri Energy Aspects, Richard Bronze, menyebut pipa tersebut berfungsi ganda, yakni mengekspor minyak mentah dan memasok kilang di pantai barat Arab Saudi yang kemudian diekspor menjadi produk olahan seperti solar.
"Para pedagang saat ini bahkan lebih sensitif terhadap gangguan di pasar produk olahan karena ukurannya lebih kecil dan juga menderita karena serangan Ukraina terhadap kilang Rusia mengurangi pasokan," paparnya.
Dampak krisis penyulingan ini langsung memukul ekonomi AS. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, memperkirakan bahwa penutupan pipa yang berkepanjangan dapat mendorong harga solar AS-yang pekan lalu sudah menembus US$6 (Rp105.600) per galon-naik melampaui angka US$6,50 (Rp114.400) per galon.
Ancaman Penipisan Stok
Kini, nasib pasokan minyak bergantung pada sisa persediaan di pelabuhan. Analis Minyak Mentah Senior Kpler, Johannes Rauball, mengungkapkan bahwa persediaan minyak di Yanbu saat ini menyimpan sekitar 15 juta barel minyak mentah.
"Dengan mengambil tingkat penarikan rata-rata, itu memberikan waktu sekitar empat hari sebelum tangki kosong," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Presiden Pasar Komoditas di Rystad Energy, Janiv Shah, memberikan estimasi waktu penipisan stok yang sedikit lebih lama, yakni berada di antara lima hingga tujuh hari.
Meskipun Richard Bronze dari Energy Aspects optimistis bahwa Arab Saudi akan mampu melanjutkan kembali beberapa aliran melalui pipa sembari melakukan perbaikan, ia memperingatkan bahwa pemadaman total yang berlangsung lama akan membawa konsekuensi mematikan.
"Kerugian yang berlarut-larut akan mengubah krisis yang berjalan lambat ini menjadi kobaran api yang cepat," pungkasnya.
(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]