MARKET DATA
Internasional

Siaga Kiamat Minyak, Perang Arab Makin Ngeri-Saudi Tutup Pipa 1.200 Km

tfa,  CNBC Indonesia
14 September 2026 15:40
Citra satelit memperlihatkan kepulan asap hitam membubung dari area jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi di sebelah selatan Madinah, wilayah Hijaz, Arab Saudi, pada 10 September 2026. (via REUTERS/2026 Planet Labs PBC)
Foto: Citra satelit memperlihatkan kepulan asap hitam membubung dari area jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi di sebelah selatan Madinah, wilayah Hijaz, Arab Saudi, pada 10 September 2026. (via REUTERS/2026 Planet Labs PBC)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi menutup sementara jalur pipa minyak Timur-Barat setelah fasilitas vital tersebut diserang drone, di tengah meningkatnya tekanan terhadap jalur pelayaran energi di kawasan Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak global dan berpotensi mendorong harga energi semakin tinggi.

Melansir Reuters, Senin (14/9/2026), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone yang menurut Baghdad dan Riyadh berasal dari Irak. Serangan itu menyebabkan sejumlah orang terluka dan menimbulkan kerusakan yang masih dalam proses penilaian.

Jalur pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut menjadi salah satu jalur alternatif terpenting bagi ekspor minyak Timur Tengah selama Selat Hormuz sebagian besar tertutup akibat perang. Pipa ini mampu mengalirkan sekitar 4 juta-5 juta barel minyak per hari, setara 4%-5% pasokan minyak global.

Tekanan terhadap pasar energi semakin besar karena kelompok Houthi di Yaman memperketat cengkeraman di Laut Merah. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi menyebut proyektil yang ditembakkan Houthi melukai dua orang di Jazan dan merusak sejumlah bangunan, sementara empat sumber pemerintah Yaman mengatakan Houthi telah merebut Pulau Perim di tengah Selat Bab el-Mandeb.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran kemungkinan berada di balik serangan terhadap jalur pipa Saudi. Di saat yang sama, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilaporkan meminta bantuan militer AS untuk menghadapi Houthi, tetapi Washington untuk sementara memilih tidak turun tangan langsung dan menawarkan dukungan intelijen.

Situasi tersebut terjadi ketika harga minyak telah melonjak dalam sepekan terakhir. Harga diesel ritel di AS bahkan telah menembus rekor US$6 per galon, mencerminkan semakin besarnya risiko gangguan pasokan dan distribusi energi.

Di sisi lain, peluang meredakan ketegangan melalui diplomasi masih terbatas. Pejabat senior Iran mengatakan pertemuan dengan negara-negara Teluk di Oman pada Senin akan membahas masa depan Selat Hormuz, tetapi tidak diharapkan menghasilkan kesepakatan tertulis.

"Selama pihak Amerika tidak menerima semua syarat Iran, dialog dan negosiasi tidak ada gunanya," kata Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi.

Tekanan akhirnya menjalar ke produksi dan arus ekspor. Badan Energi Internasional (IEA) menyebut pasokan minyak mentah Arab Saudi telah turun ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade, sementara pergerakan Houthi di sepanjang Laut Merah dan gangguan di jalur utama kawasan meningkatkan risiko terbentuknya krisis pasokan yang lebih luas, memunculkan ancaman "Kiamat Minyak" bagi pasar energi dunia.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Houthi Rebut Satu Pulau, Arab Saudi Minta Tolong AS


Most Popular
Features