Ratusan Orang Ditangkap terkait Kebakaran Hutan, Motifnya Tak Terduga
Jakarta, CNBC Indonesia - Ratusan orang ditangkap di Prancis sepanjang musim panas ini karena diduga sengaja memicu kebakaran hutan. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat, sejak awal musim panas, sebanyak 514 orang, termasuk 198 anak di bawah umur, telah ditangkap karena dicurigai memulai kebakaran.
Seorang remaja 15 tahun diduga membuang rokok yang masih menyala ke area hutan dekat Bordeaux. Di dekat Perpignan, seorang pria berusia 36 tahun dituduh membakar kantong kertas berisi sampah di semak-semak. Sementara itu, seorang perempuan berusia 50 tahun dituduh memicu 17 kebakaran di selatan La Rochelle.
Adapun musim panas tahun ini menjadi salah satu yang terparah. Sekitar 115.000 hektare hutan, semak belukar, dan padang perdu dilaporkan terbakar. Kondisi tersebut mendorong pertanyaan mengenai siapa para pelaku pembakaran dan apa yang mendorong mereka melakukan tindakan tersebut.
Menurut Thierry Toutin, peneliti kriminologi di kepolisian nasional Prancis, pembakaran hutan merupakan bidang yang masih kurang diteliti. Ia menyebutnya sebagai "kejahatan misterius, yang sering kali sulit dipahami orang".
Dua abad lalu, pada masa pemerintahan Napoleon, sengaja memicu kebakaran hutan di Prancis merupakan kejahatan yang sangat berat dan otomatis diancam hukuman mati dengan guillotine. Kini, pelaku dapat dijatuhi hukuman penjara minimal 10 tahun dan denda 150.000 euro.
Hukuman meningkat menjadi 15 tahun jika kebakaran melanda hutan atau cagar alam yang dilindungi, dan dapat mencapai hukuman seumur hidup jika ada korban meninggal.
Toutin mengatakan pelaku pembakaran memiliki "banyak profil yang berbeda". Dalam esainya untuk The Conversation, ia menjelaskan bahwa sejumlah departemen di Prancis telah membentuk unit khusus pembakaran yang melibatkan polisi, ahli badan kehutanan, dan layanan setempat.
Tim tersebut bertugas membantu mengidentifikasi, menemukan, dan menuntut para pelaku. "Kejahatan-kejahatan ini sering kali tidak terpecahkan, atau tidak berujung pada vonis, karena api telah menghancurkan barang bukti," katanya.
Statistik resmi Prancis, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Senin (14/9/2026), mengelompokkan kebakaran hutan berdasarkan penyebabnya, yakni alami seperti sambaran petir; tidak sengaja, misalnya akibat kendaraan terbakar atau gangguan listrik; kelalaian profesional, seperti percikan dari mesin; kelalaian individu, seperti rokok atau barbeku; serta tindakan yang dilakukan dengan sengaja.
Dalam praktiknya, pemerintah Prancis sepanjang musim panas terus mengingatkan melalui radio, televisi, dan internet bahwa sembilan dari 10 kebakaran disebabkan aktivitas manusia.
Sekitar dua pertiga di antaranya masuk kategori tidak sengaja. Namun, jika kelalaian terbukti, pelakunya tetap dapat dijatuhi hukuman penjara antara satu hingga lima tahun.
Artinya, sekitar sepertiga kebakaran hutan di Prancis setiap tahun dipicu secara sengaja dengan maksud menimbulkan kerusakan. Pada 2025, tahun terakhir dengan data lengkap, pembakaran sengaja menjadi penyebab tunggal terbesar kebakaran hutan di Prancis, yakni 29,4% dari seluruh kasus.
Sejumlah pelaku telah dijatuhi hukuman sepanjang musim panas ini. Salah satunya pria berusia 27 tahun yang didiagnosis mengidap autisme dan skizofrenia.
Ia membakar surat untuk mendiang putrinya di area vegetasi yang sangat kering dekat Béziers. Pengadilan menjatuhinya hukuman empat tahun penahanan disertai perawatan.
Di Perpignan, pengadilan pekan lalu menjatuhkan hukuman lima tahun penjara kepada pria berusia 51 tahun karena menyalakan empat kebakaran pada Juli dan Agustus. Sementara itu, di Les Sables d'Olonne, seorang petugas pemadam kebakaran sukarela yang dilaporkan atasannya kepada polisi dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dengan masa percobaan.
Di Lyon, seorang pria berusia 29 tahun yang memiliki catatan polisi terkait pencurian, perdagangan ilegal, dan kekerasan dalam rumah tangga dinyatakan bersalah karena memicu kebakaran yang menghanguskan lebih dari satu hektare lahan. Api tersebut membutuhkan 71 petugas pemadam untuk dipadamkan dan memaksa 150 orang dievakuasi.
Kasus kelalaian juga berujung pada hukuman. Seorang pengendara mobil dijatuhi hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan setelah menyalakan api untuk memberi tahu layanan darurat bahwa kendaraannya mogok.
Dua pemilik restoran di wilayah barat daya juga dihukum setelah tetap menyalakan pemanggang arang dan kembang api meski peringatan bahaya kebakaran berada pada level merah.
Analisis awal berdasarkan laporan polisi yang diperoleh Le Figaro menunjukkan 97,5% tersangka pembakaran yang ditangkap tahun ini adalah laki-laki. Usia rata-rata mereka 32,5 tahun, dengan 28,7% berusia di bawah 18 tahun.
Lebih dari 95% merupakan warga negara Prancis. Dari sampel yang relatif kecil, yakni 80 tersangka, sebanyak 37 orang diketahui tidak memiliki pekerjaan.
Namun, alasan yang mendorong mereka melakukan pembakaran sering kali jauh lebih sulit dipastikan. Para kriminolog pada dasarnya mengidentifikasi empat kategori motif utama.
Sebagian pembakaran dilakukan dalam konteks konflik, seperti perselisihan dengan tetangga, persaingan antargeng kriminal, atau aksi balas dendam terhadap seseorang maupun sesuatu. Pelaku lain mungkin mengejar keuntungan finansial, misalnya melalui klaim asuransi palsu, atau bertindak karena keyakinan ideologis dan politik.
Sisanya menunjukkan bentuk patologi tertentu, yang sering kali berkaitan dengan kondisi psikologis, termasuk sebagian kecil pelaku yang benar-benar mengalami pyromania atau dorongan patologis untuk membakar.
"Pelaku pembakaran mungkin mengejar uang, balas dendam, atau berusaha menutupi kejahatan. Mereka mungkin berada di bawah pengaruh alkohol atau zat lain," kata Laurent Layet, seorang psikiater. "Satu-satunya tujuan seorang pyromaniac adalah membakar sesuatu."
Layet mengatakan kepada radio France Inter bahwa penderita pyromania "mengalami kesulitan dalam mengatur kepribadian mereka". "Mereka sering impulsif dan kesulitan mengendalikan emosi. Sering kali, mereka cukup terisolasi secara sosial," ujarnya.
Pyromania dikategorikan sebagai gangguan pengendalian impuls. Kondisi ini ditandai oleh "ketertarikan terhadap api, meningkatnya ketegangan sebelum melakukan tindakan, lalu munculnya rasa senang atau lega segera setelahnya", kata Layet.
Meski demikian, penderita pyromania umumnya tetap terorganisasi, menyadari konsekuensi tindakannya, dan dianggap bertanggung jawab secara pidana. Mereka juga hanya mencakup sekitar 5% dari orang-orang yang sengaja menyalakan api.
Kelompok lain yang jumlahnya sama kecil adalah petugas pemadam kebakaran, terutama relawan dan sangat jarang petugas profesional, yang sengaja memicu kebakaran demi mendapatkan pengakuan atau kejayaan saat memadamkannya.
Selama bertahun-tahun, dinas pemadam kebakaran di berbagai departemen Prancis telah menerapkan mekanisme penyaringan untuk mendeteksi calon dengan karakteristik tersebut sejak proses rekrutmen, termasuk melalui tes psikologis.
Namun, mereka mengakui bahwa setiap tahun masih ada sejumlah orang yang lolos dari penyaringan.
Bagi sebagian besar orang yang sengaja menyalakan kebakaran hutan, motifnya tidak sesederhana kategori-kategori tersebut.
Menurut Johanna Rozenblum, psikolog klinis yang bekerja dengan layanan pemadam kebakaran, banyak kasus pada akhirnya bermuara pada "tindakan pembangkangan yang tidak jelas tujuannya, untuk menentang sistem dan mendapatkan kesenangan dari menghancurkan properti orang lain".
Rozenblum mengatakan sebagian besar pelaku pembakaran yang pernah ditanganinya memiliki "profil antisosial yang kuat".
Pada pelaku anak-anak dan remaja, impulsivitas serta frustrasi pada masa remaja berpadu dengan "ketidakdewasaan dan pemberontakan batin". Kombinasi tersebut membuat mereka tidak sepenuhnya menyadari besarnya kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh tindakan mereka.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]