Houthi Serang Arab Saudi Habis-habisan, Minyak Dunia di Ujung Tanduk
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia kembali meningkat setelah serangan terbaru di Arab Saudi dan insiden terhadap kapal di kawasan Teluk. Perkembangan ini terjadi menyusul serangan terhadap jalur pipa minyak Saudi serta kemajuan kelompok Houthi di Yaman, yang berpotensi memperburuk gangguan pasokan energi global akibat perang.
Dilansir Reuters, para pedagang minyak memperkirakan harga kembali naik saat pasar dibuka pada Senin (14/9/2026). Pasalnya, perkembangan sepanjang akhir pekan tersebut mengancam pasokan dari Arab Saudi, negara eksportir minyak terbesar dunia.
Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, mengatakan pada Minggu (13/9/2026) sebuah kapal terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz. Insiden itu memicu kebakaran dan memaksa seluruh awak kapal dievakuasi.
Iran juga melaporkan satu orang tewas dan empat awak terluka setelah sebuah kapal komersial Iran terkena serangan di lepas pantai negara tersebut.
Di Arab Saudi, media pemerintah menayangkan rekaman kerusakan rumah dan sebuah masjid akibat serangan lintas batas yang diduga dilakukan Houthi di Provinsi Jazan, wilayah selatan negara itu. Secara terpisah, Houthi mengeklaim telah menyerang sebuah pangkalan militer Saudi di provinsi tetangga.
Sejumlah kota di wilayah selatan Arab Saudi telah mengalami peringatan serangan secara berkala sejak pekan lalu. Situasi itu memuncak pada Jumat ketika serangan pesawat nirawak melumpuhkan jalur pipa minyak sepanjang 1.200 kilometer yang membentang dari timur ke barat melintasi Semenanjung Arab.
Pipa tersebut selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak Timur Tengah ke pasar global tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Pada hari yang sama, Houthi juga merebut Pulau Perim, yang terletak di tengah Selat Bab el-Mandeb. Selat yang dikenal sebagai "Gerbang Air Mata" itu mengendalikan akses keluar-masuk Laut Merah.
Harga Minyak Melonjak
Adapun harga minyak dunia telah melonjak menembus US$100 per barel pada pekan lalu, untuk pertama kalinya sejak Juli. Di Amerika Serikat, harga eceran solar yang sensitif secara politik kembali mencetak rekor pada Minggu, menembus US$6,2 per galon.
Sejumlah pedagang dan pembeli minyak Saudi mengatakan kepada Reuters bahwa Riyadh memiliki persediaan minyak di pelabuhan Yanbu, Laut Merah, yang cukup untuk mempertahankan ekspor selama lima hingga tujuh hari jika pipa yang diserang pada Jumat masih belum beroperasi.
Setelah persediaan itu menipis, sebanyak 4% pasokan minyak dunia berpotensi ikut terancam. Angka tersebut berada di luar jutaan barel per hari yang telah hilang akibat gangguan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Arab Saudi belum memberikan rincian lengkap mengenai tingkat kerusakan pipa maupun berapa lama jalur tersebut akan berhenti beroperasi. Sumber-sumber yang berbicara kepada Reuters juga memberikan perkiraan berbeda mengenai waktu perbaikan, mulai dari hitungan hari hingga beberapa pekan.
Citra satelit menunjukkan kepulan asap besar membubung dari sejumlah lokasi di sepanjang jalur pipa tersebut.
Perkembangan ini terjadi setelah arus minyak Timur Tengah sempat perlahan pulih pada Agustus. Namun, dalam dua pekan terakhir, perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel enam bulan lalu kembali mengalami eskalasi.
Sejak kesepakatan sementara pada Juni runtuh setelah berjalan beberapa pekan, belum ada perundingan damai yang digelar.
Pertemuan Oman
Dalam upaya diplomatik yang jarang terjadi, pejabat Iran sebelumnya mengatakan akan menghadiri pertemuan dengan negara-negara Arab Teluk di Oman pada Senin. Pertemuan itu sedianya membahas kesepakatan yang menurut Iran telah dicapai dengan Oman mengenai jalur pelayaran di masa depan melalui Selat Hormuz.
Namun, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi pada Minggu malam mengatakan pertemuan regional tersebut ditunda "demi kepentingan konsensus".
"Kami tetap berkomitmen untuk mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami," tulisnya dalam unggahan di X.
Kantor berita Iran Fars, mengutip seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran pada Minggu malam, melaporkan bahwa penundaan itu dilakukan atas permintaan sejumlah negara regional. Keputusan tersebut diambil melalui kesepakatan bersama antara Teheran dan Muscat.
Menurut Fars, pejabat tersebut mengatakan Iran akan berkoordinasi dengan Oman untuk menentukan tanggal yang sesuai bagi pelaksanaan pertemuan.
Irak sebelumnya menyatakan akan mengirim delegasi. Seorang pejabat negara Teluk juga mengatakan kepada Reuters bahwa Arab Saudi dan Qatar akan diwakili oleh menteri luar negeri masing-masing.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa para pejabat akan membahas Selat Hormuz dan sejumlah isu lain dalam pertemuan tersebut. Namun, ia menambahkan bahwa pertemuan itu kemungkinan tidak menghasilkan kesepakatan yang ditandatangani untuk membuka kembali selat.
Bahrain menyatakan tidak akan bertemu dengan pejabat Iran.
Dalam wawancara dengan media pan-Arab yang berbasis di London, Al-Arabi Al-Jadeed, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa meskipun ada kesepakatan dengan Oman, Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum AS memenuhi tuntutan Teheran.
Dilema AS
Di sisi lain, kemajuan Houthi di Yaman menghadirkan dilema baru bagi Washington. Amerika Serikat ingin mendukung sekutunya, Arab Saudi, sekaligus melindungi jalur pelayaran. Namun, Washington juga berhati-hati agar tidak terseret ke medan perang lain.
Serangan Houthi turut menempatkan negara-negara Teluk dalam pilihan sulit, yakni menerima dampak ekonomi yang semakin besar atau menjalin hubungan dengan Iran.
Houthi, kelompok pejuang dari wilayah pegunungan yang merebut ibu kota Yaman pada 2014, telah berperang melawan koalisi pimpinan Saudi selama lebih dari satu dekade. Namun, kelompok tersebut sebagian besar tidak terlibat dalam perang Timur Tengah yang lebih luas hingga beberapa pekan terakhir.
Kemajuan Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah menjadi bagian dari eskalasi pertempuran terbesar di Yaman dalam beberapa tahun terakhir.
AS pernah membombardir Houthi selama dua bulan pada 2025. Namun, Presiden Donald Trump menghentikan kampanye tersebut setelah mengumumkan bahwa kelompok itu telah mencabut ancaman untuk menyerang pelayaran di Laut Merah.
Tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, yang secara de facto memimpin negara tersebut, menelepon Trump pada Kamis lalu untuk meminta bantuan militer dalam menghadapi Houthi. Namun, untuk saat ini, bantuan yang ditawarkan hanya berupa dukungan intelijen.
Trump mengakui pada Sabtu bahwa dirinya telah berbicara dengan sang putra mahkota. Ia juga mengatakan Houthi telah menghubungi pemerintah AS dan meminta Washington tidak ikut campur dalam perang di Yaman.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]