Krisis Baru Hantam Singapura, Masyarakat Diminta Lakukan Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman terorisme kembali menghantam negara tetangga. Seorang pelajar berusia 14 tahun di Singapura belum lama ini merencanakan aksi radikal secara mandiri berupa serangan penusukan massal di sekolah menengahnya saat libur sekolah. Beruntung, rencana tersebut berhasil digagalkan setelah Departemen Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD) bergerak cepat meringkus remaja tersebut sebelum melancarkan aksinya.
Kendati berhasil dicegah, insiden ini memantik pertanyaan mendasar, yakni seberapa siap publik Singapura menghadapi ancaman teror yang kian senyap dan tak terduga?
Pemerintah Singapura menegaskan bahwa mitigasi keamanan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada aparat penegak hukum. Peran aktif masyarakat menjadi benteng pertahanan krusial, mulai dari kepekaan melaporkan aktivitas mencurigakan, membantu proses evakuasi, hingga menguasai keterampilan pertolongan pertama.
Kesiapan Psikologis
Asisten Direktur Divisi Psikologi Home Team di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri Singapura, Jasmine Tan, mengungkapkan bahwa kesiapan mental menghadapi teror menuntut kemampuan mengelola rasa takut yang mencakup aspek kognitif sekaligus emosional.
Menurutnya, masyarakat perlu dibekali pemahaman mendalam mengenai bentuk-bentuk serangan melalui latihan berkala atau simulasi, sehingga mereka memiliki gambaran konkret saat menghadapi situasi krisis di dunia nyata.
"Jadi kita tidak hanya berfokus pada rasa takut. Ini tentang membekali mereka dengan kemampuan menghadapi situasi dan rasa memiliki kendali, sehingga mereka tahu bahwa mereka sebenarnya bisa melakukan sesuatu dalam situasi tersebut," kata Tan, dikutip dari Channel News Asia, Minggu (13/9/2026).
Tindakan nyata tersebut dapat diwujudkan lewat aksi sederhana seperti mengevakuasi korban di tengah krisis atau memberikan pertolongan pertama. Pengendalian emosi yang matang juga membantu publik tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan massal.
"Pada akhirnya, inilah berbagai aspek ketika kita berbicara mengenai kesiapan psikologis. Yang benar-benar kita harapkan adalah ketika terjadi teror atau krisis, masyarakat tidak hanya diam dan membeku karena ketakutan," imbuhnya.
Urgensi Bantuan Psikologi Pertama di Tingkat Komunitas
Direktur Divisi Psikologi Home Team, Dr. Diong Siew Maan, menambahkan bahwa ketahanan krisis dapat dibangun secara kolektif di tengah masyarakat. Ketika langkah mitigasi dipikul bersama, beban psikologis dan rasa takut individu akan terpangkas secara signifikan.
Salah satu instrumen penting dalam pendekatan ini adalah Pertolongan Pertama Psikologis atau Psychological First Aid (PFA). Diong mengibaratkan keterampilan ini sebagai bentuk "plester emosional" bagi jiwa.
Masyarakat yang ingin berkontribusi dapat dilatih menguasai teknik dasar PFA. Langkah awal dimulai dari mempersiapkan diri menghadapi krisis, mengamati aspek keselamatan serta kebutuhan emosional korban, hingga mendeteksi tingkat stres yang dialami seseorang.
Keterampilan lanjutan mencakup kemampuan mendengarkan luapan emosi tanpa menghakimi serta menghubungkan korban dengan bantuan profesional maupun keluarga terdekat.
"Secara realistis, jumlah psikolog dan konselor sangat sedikit untuk menangani semua orang. Namun, jika setiap orang di masyarakat memiliki keterampilan tersebut, mereka bisa saling membantu. Ini seperti keterampilan hidup," jelas Diong.
Tantangan serupa juga dihadapi oleh para petugas garda terdepan (first responders). Rutinitas operasional bisa berubah menjadi situasi traumatik seketika tatkala mereka mendapati skenario tak terduga, seperti rekan sejawat yang terluka atau insiden kemanusiaan yang melibatkan anak-anak.
Oleh karena itu, pengawasan internal antarpetugas digalakkan secara ketat. Atasan di lingkungan Home Team diwajibkan memantau kondisi mental anak buahnya dan sigap merujuk mereka kepada psikolog internal jika terdeteksi adanya tekanan psikologis yang mengkhawatirkan.
Mengikis Kesenjangan antara Niat dan Tindakan
Perubahan pola pikir (mindset) publik menjadi kunci utama. Jika sebelumnya terorisme kerap dipandang sebagai ancaman abstrak yang terjadi di wilayah lain, kini masyarakat harus sadar bahwa potensi bahaya tersebut bisa meletup di lingkungan terdekat mereka di Singapura.
Sebuah eksperimen sosial yang pernah dilakukan mengungkap fakta mencolok: hanya 5,9% atau 26 dari total partisipan yang berniat atau berinisiatif melaporkan temuan benda mencurigakan, sementara sebagian besar lainnya memilih berlalu begitu saja.
Fenomena ini menunjukkan adanya hambatan psikologis berupa intention-action gap-kesenjangan antara niat dan tindakan nyata. Seseorang mungkin memiliki niat baik untuk melapor, namun terhalang oleh faktor kesibukan, sikap acuh tak acuh, atau terjebak dalam bystander effect, yakni asumsi keliru bahwa orang lain akan mengambil tindakan alih-alih dirinya sendiri.
Dampak psikologis dari aksi teror juga tidak hanya terbatas pada korban langsung. Mereka yang mengonsumsi informasi dan berita terkait insiden tersebut secara masif turut mengalami guncangan emosional, sehingga cakupan dukungan psikologis perlu diperluas bagi publik luas.
Rehabilitasi dan Menjaga Kewaspadaan Seimbang
Di sisi lain, penanganan terhadap pelaku radikalisme menuntut pendekatan rehabilitasi dan konseling yang komprehensif. Upaya ini berfokus pada pemahaman mendalam terkait motif, celah kerentanan, hingga latar belakang psikologis individu yang terpapar paham ekstrem.
"Yang paling penting, hal itu membuat saya percaya bahwa orang-orang ini layak mendapatkan kesempatan kedua. Terlepas dari kerugian yang mungkin mereka timbulkan atau ideologi yang pernah mereka yakini, saya memahami bahwa mereka tetap manusia yang mampu berkembang, berubah, dan memperbaiki diri," tutur Dave, seorang psikolog yang memilih identitasnya disamarkan.
Departemen Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD) sebelumnya telah mengingatkan bahwa eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut memicu instabilitas global dan mendongkrak risiko terorisme internasional, menempatkan Singapura sebagai salah satu target strategis kelompok radikal.
Lantas, bagaimana meracik kesiapan mental publik tanpa memicu kepororan massal? Jawabannya terletak pada keseimbangan proporsional.
"Rasa takut bisa menjadi sesuatu yang baik karena jika tidak ada rasa takut, orang tidak akan merasa perlu melakukan sesuatu. Jadi, harus ada tingkat ketakutan tertentu," pungkas Jasmine Tan.
"Namun, bagaimana melakukannya tanpa menimbulkan ketakutan yang tidak perlu? Dibutuhkan pendekatan yang sangat seimbang. Saya akan mengatakan bahwa sebagian besar adalah persiapan mental, yaitu mempersiapkan masyarakat terhadap kemungkinan bahwa hal ini dapat terjadi."
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]