Mimpi Buruk Arab Saudi, Putra Mahkota Sampai Mohon-Mohon ke Trump
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan mengancam jalur pasokan energi global. Di tengah perang AS-Iran yang telah memasuki bulan ketujuh, Arab Saudi dilaporkan berada dalam posisi terhimpit akibat gempuran kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran di Yaman.
Situasi pelik ini mendorong Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mengambil langkah darurat dengan menghubungi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara langsung untuk meminta bantuan militer.
Berdasarkan laporan eksklusif Reuters yang mengutip tiga sumber internal, MBS melangsungkan setidaknya dua kali percakapan telepon dengan Trump guna mendesak Washington agar melancarkan serangan militer langsung terhadap basis-basis Houthi. Langkah agresif ini diambil setelah pasukan Houthi mencatatkan kemajuan dramatis di sepanjang pesisir Laut Merah dan berhasil menguasai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb yang sangat strategis.
Namun, harapan Riyadh tampaknya harus bertepuk sebelah tangan. Dalam perbincangan tersebut, Trump dikabarkan menolak permintaan Saudi untuk melancarkan intervensi militer langsung. Washington beralih ke pendekatan alternatif dengan hanya menawarkan dukungan berupa berbagi intelijen (intelligence sharing) dan bantuan penentuan target (targeting), alih-alih membuka front peperangan baru.
Tekanan Energi dan Beban Ekonomi Global
Bagi eksportir minyak terbesar di dunia ini, ancaman di Laut Merah merupakan mimpi buruk. Sejak konflik dengan Iran secara efektif menutup jalur vital Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur lintasan seperlima pasokan minyak mentah dunia, Arab Saudi praktis sangat mengandalkan rute alternatif di Laut Merah.
Kini, dengan dikuasainya Selat Bab el-Mandeb oleh Houthi, Iran berpotensi memegang kendali atas koridor transit energi kedua yang sangat krusial ini. Jika pasokan terganggu, lonjakan harga minyak global dipastikan tak terhindarkan, dikutip dari Reuters, Minggu (13/9/2026).
Bagi Gedung Putih sendiri, situasi ini juga menjadi dilema politik yang berat. Lonjakan harga minyak dan bensin di AS akibat perang berkepanjangan dengan Iran telah menghantam tingkat kepuasan publik (approval ratings) Trump ke titik terendah jelang pemilihan paruh waktu bulan November mendatang.
Seorang pejabat senior administrasi Gedung Putih menegaskan bahwa fokus utama Washington saat ini adalah mengamankan kebebasan navigasi di Laut Merah dan mendorong mitra-mitra di kawasan agar memegang kendali penuh dalam mengatasi tantangan keamanan domestik mereka.
Sebelumnya, hubungan Riyadh dan Houthi sempat membara kembali pada awal Juli lalu setelah pecahnya insiden di Bandara Internasional Sanaa, yang sekaligus meruntuhkan gencatan senjata empat tahun.
Meski sempat mengklaim mampu menghadapi Houthi seorang diri, desakan dan tekanan militer di lapangan kini memaksa Saudi kembali menengok ke Washington, meski dinding penolakan dari Trump untuk terjun langsung membuat posisi kerajaan kian terjepit di tengah pusaran konflik regional.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]