Harga Cabai Melejit-Tembus Rp152.000, Pemerintah Mulai Turun Tangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengakui harga cabai rawit mengalami kenaikan di sejumlah daerah. Pemerintah pun menyiapkan langkah untuk menekan harga dengan memobilisasi stok cabai dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Salah satu skema yang akan kembali dijalankan adalah Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), yang sebelumnya telah dilakukan pemerintah bersama petani Champion Cabai untuk mengalirkan pasokan ke daerah dengan harga tinggi.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, langkah tersebut perlu segera dilakukan untuk merespons dinamika harga dan pasokan cabai rawit di sejumlah wilayah.
"Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons. Karena itu, kami ingin terkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP," kata Ketut dalam keterangannya, dikutip Jumat (11/9/2026).
Berdasarkan pantauan harga Bapanas per 10 September 2026, rata-rata harga cabai rawit secara nasional telah mencapai Rp81.052 per kilogram (kg). Harga tertinggi tercatat di Sulawesi Utara yang mencapai Rp152.872 per kg.
Sementara itu, harga terendah tercatat di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp56.604 per kg. Perbedaan harga yang cukup lebar antar wilayah tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong mobilisasi stok dari daerah surplus ke daerah yang mengalami harga tinggi.
Ketut mengatakan, petani Champion Cabai yang dibina Kementerian Pertanian (Kementan) akan kembali dilibatkan dalam distribusi tersebut. Pasokan dari daerah yang harganya relatif rendah akan diarahkan ke wilayah yang mengalami kenaikan harga.
"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," ujarnya.
Skema serupa sebelumnya telah dijalankan pada triwulan I-2026. Bapanas mencatat FDP cabai rawit saat itu mencapai 5.590 kg.
Rinciannya, sebanyak 3.150 kg cabai rawit dimobilisasi dari Enrekang, Sulawesi Selatan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Kemudian, sebanyak 1.140 kg dikirim ke Lombok Tengah dan 1.300 kg ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Program tersebut turut berdampak pada pengendalian inflasi pangan. Pada April 2026, terjadi penurunan inflasi, termasuk pada komponen harga bergejolak atau volatile food. Cabai rawit juga menjadi salah satu komoditas yang menyumbang deflasi pada bulan tersebut.
Kemarau hingga Hama Picu Harga Cabai
Adapun fluktuasi harga cabai rawit terjadi di tengah sejumlah tantangan produksi. Dalam rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai pada 26 Agustus 2026, terungkap beberapa faktor yang memengaruhi pasokan cabai.
Di antaranya kemarau berkepanjangan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, serta adanya alih tanam petani ke komoditas lain.
Meski demikian, Kementan memastikan produksi cabai rawit nasional masih mencukupi hingga akhir tahun.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto mengatakan, produksi cabai rawit nasional pada September diperkirakan mencapai sekitar 119 ribu ton.
"Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan," jelas Sudi.
Selain Jawa Timur, sentra produksi cabai di Pulau Jawa masih berada di sejumlah daerah seperti Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksi di wilayah tersebut diperkirakan akan meningkat seiring masuknya masa panen.
"Kemudian untuk di daerah Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun masih relatif rendah karena mungkin baru sebagian besar tanam, tapi nanti itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru," ucapnya.
Kementan juga memastikan petani Champion Cabai siap mendukung pemerintah apabila FDP kembali digelar untuk mengatasi disparitas harga antar wilayah.
"Nah seandainya nanti ada program pemerintah untuk dapat melakukan distribusi ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, artinya dari produksi yang ada. Mereka sudah bersiap untuk dapat membantu mengendalikan daerah-daerah yang harga cabai rawitnya tinggi. Mereka prinsipnya sudah siap untuk dapat membantu mensuplai daerah-daerah yang harganya cukup tinggi," pungkas dia.