MARKET DATA

Blok M Dulu Sepi Bak Kuburan Sekarang Tiba-Tiba Ramai, Ini Rahasianya

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
11 September 2026 06:25
Penukaran uang di tempat penukaran uang atau Money Changer Tri Tunggal kawasan Blok M Plaza, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Penukaran uang di tempat penukaran uang atau Money Changer Tri Tunggal kawasan Blok M Plaza, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, kini menjadi salah satu titik keramaian yang ditopang oleh aktivitas transportasi publik dan pengembangan kawasan. Namun, kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengungkapkan jumlah pengunjung kawasan Blok M sebelumnya hanya sekitar 400 orang per hari.

"Dulu itu kalau kita lihat Blok M, itu cuma 400 orang per hari," kata Samuel di Jakarta, dikutip Jumat (11/9/2026).

Angka tersebut kemudian meningkat signifikan setelah dilakukan pengembangan kawasan melalui konsep placemaking dan optimalisasi konektivitas transportasi publik. Kini, jumlah pengunjung Blok M dapat mencapai sekitar 40.000 orang pada hari kerja. Sementara pada akhir pekan, jumlahnya bisa menembus 60.000-70.000 orang per hari tanpa adanya acara khusus.

"Kalau sekarang itu weekday bisa 40 ribu, weekend bisa 60-70 ribu. Kalau ada event bisa 80-90 ribu," ujarnya.

Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Lonjakan jumlah pengunjung tersebut menunjukkan perubahan fungsi kawasan yang tidak lagi hanya menjadi tempat transit. Kawasan sekitar stasiun dan pusat aktivitas MRT dikembangkan agar masyarakat juga datang untuk beraktivitas, bersosialisasi, berbelanja, maupun menikmati ruang publik.

"Jadi sebenarnya yang kita lakukan itu bagaimana mengubah tempat yang tadinya cuma transit menjadi destination," katanya.

Pengembangan kawasan juga melibatkan komunitas dan pelaku usaha yang telah lebih dulu berada di kawasan tersebut. Hal ini dilakukan agar perubahan kawasan tidak menghilangkan identitas dan ekosistem yang sudah terbentuk.

Peningkatan jumlah pengunjung tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pengembangan kawasan berbasis transportasi publik dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih luas.

"Karena kalau orang datang ke satu tempat, dia bukan cuma naik MRT, tapi dia akan makan, minum, belanja, dan melakukan aktivitas lainnya," pungkasnya.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bak di Tokyo, Jakarta Bakal Punya Mal Bawah Tanah Nyambung MRT


Most Popular
Features