MARKET DATA
Internasional

Dibikin Rugi Trump Rp143 T, Negara Komunis Ini Mulai Lawan AS

tps,  CNBC Indonesia
10 September 2026 06:05
Aksi protes pecah di sejumlah wilayah ibu kota Kuba, Havana, Rabu (13/5/2026) malam di tengah krisis pemadaman listrik bergilir terburuk dalam beberapa dekade terakhir. (Tangkapan Layar Video Reuters/)
Foto: Aksi protes pecah di sejumlah wilayah ibu kota Kuba, Havana, Rabu (13/5/2026) malam di tengah krisis pemadaman listrik bergilir terburuk dalam beberapa dekade terakhir. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kuba mulai mengambil sikap lebih keras terhadap Amerika Serikat (AS) setelah mengklaim kebijakan Washington di bawah Presiden Donald Trump telah menyebabkan kerugian ekonomi hingga US$8,1 miliar atau sekitar Rp143,37 triliun pada 2025. Pemerintah Havana kini menegaskan tidak ada perundingan yang sedang berlangsung maupun rencana negosiasi baru dengan AS.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mengatakan kerugian akibat embargo perdagangan AS yang telah berlangsung selama puluhan tahun meningkat 7% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tidak ada negosiasi atau agenda, meskipun kemauan untuk tetap berhubungan tetap ada meskipun tidak ada kemajuan," kata Rodriguez dalam konferensi pers di Havana.

Rodriguez memperkirakan tekanan terhadap ekonomi Kuba akan semakin berat pada awal 2026. Kondisi tersebut terjadi setelah pemerintahan Trump memberlakukan blokade terhadap pasokan minyak ke Kuba yang disebut telah memangkas produksi energi dan memicu pemadaman listrik nasional yang berlangsung hingga berhari-hari.

"Blokade ini tidak menghukum pemerintah, melainkan menghukum setiap orang dengan segala cara," ujar Rodriguez. Menurut dia, warga Kuba kini harus menghadapi kondisi ketika listrik hanya tersedia sekitar dua hingga tiga jam sehari atau bahkan kurang, sementara makanan membusuk dan panas menyulitkan masyarakat untuk tidur.

Krisis energi itu juga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Rodriguez mengatakan kondisi tersebut membuat anak-anak harus mengerjakan pekerjaan rumah dalam kondisi nyaris gelap, sementara keterbatasan listrik dan pasokan air semakin menekan masyarakat Kuba.

Pemerintah AS hingga kini belum memberikan tanggapan langsung terhadap pernyataan Rodriguez. Washington sebelumnya menyatakan embargo dan sanksi terhadap Kuba diperlukan untuk mendorong perubahan pada pemerintahan komunis yang dituding membatasi hak ekonomi dan hak asasi manusia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mengecam sanksi dan pengepungan energi terhadap Kuba. Pakar PBB pada Agustus memperingatkan meningkatnya risiko wabah penyakit di negara tersebut akibat memburuknya kondisi ekonomi, kesehatan, serta akses terhadap kebutuhan dasar.

Di tengah tekanan tersebut, AS bahkan mengeluarkan peringatan kesehatan terkait lonjakan penyakit usus dan diare di Kuba. Reuters melaporkan kondisi itu dikaitkan dengan memburuknya pasokan air dan listrik, menunjukkan bahwa dampak perseteruan AS-Kuba kini telah meluas dari sektor ekonomi ke kehidupan dan kesehatan masyarakat.

(tps/tfa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemadaman Listrik Massal Terjadi Lagi, Seluruh Negeri Gelap Gulita


Most Popular
Features