MARKET DATA

Pasar Asemka Ramai-Ramai Diserbu Reseller Online, Barang Ini Diburu

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
09 September 2026 06:30
Pasar Asemka tiba-tiba ramai pembeli. (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia)
Foto: CNBC Indonesia/Elga Nurmutia

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemandangan di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, kini terlihat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Lorong-lorong pertokoan kembali dipenuhi pembeli yang berburu aksesori, mainan, hingga barang-barang yang sedang viral di media sosial.

Pasar Asemka kini ramai diserbu para reseller online. Banyak Generasi Z atau Gen Z membuat konten di media sosial terkait produk-produk yang dijual di Asemka.

TikTok dan media sosial yang dulu dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu pintu masuk pembeli baru ke Asemka. Mereka datang bukan hanya untuk mencari barang kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk menemukan produk yang bisa dijual kembali secara online.

Kini Pasar Asemka menjadi salah satu tempat berburu barang dagangan dengan harga grosir. Sejumlah pedagang menyebut ada beberapa produk yang saat ini banyak dicari pembeli umum hingga reseller online, mulai dari slime, squishy, aksesori rambut, hingga gantungan kunci.

Pantauan CNBC Indonesia di Asemka menunjukkan sejumlah toko dipenuhi berbagai barang yang tengah tren atau viral di media sosial (medsos), yang bisa dijual kembali. Produk-produk itu terlihat mendominasi sejumlah etalase, karena permintaannya relatif cepat mengikuti tren.

Salah satu pedagang mengatakan slime, gantungan kunci, gelang, hingga aksesori menjadi produk yang banyak dicari saat ini.

"Sekarang yang lagi banyak dicari itu ada slime, squishy, gantungan boneka, aksesori lucu-lucu," ujar Manto, salah seorang pedagang di Pusat Grosir Asemka, saat ditemui di lokasi, Selasa (8/9/2026).

Kondisi Pasar Asemka Jakarta Jelang Pergantian Tahun 2026. (CNBC Indonesia/Chandra Dwri Pranata)Kondisi Pasar Asemka Jakarta Jelang Pergantian Tahun 2026. (CNBC Indonesia/Chandra Dwri Pranata) Foto: Kondisi Pasar Asemka Jakarta Jelang Pergantian Tahun 2026. (CNBC Indonesia/Chandra Dwri Pranata)

Untuk produk squishy, misalnya, Manto menjual butter squishy sekitar Rp50.000 per buah. Namun, pembelian satu kotak berisi 12 buah bisa mendapatkan harga sekitar Rp45.000 per buah atau Rp540.000 per kotak.

Sementara itu, aksesori rambut juga menjadi salah satu barang yang banyak diburu. Pedagang lainnya, Nina, bahkan menyebut jepit rambut berbentuk bintang sempat habis karena tingginya permintaan.

"Banyak Gen Z datang nyari barang yang viral. Jepitan bintang yang kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ungkap Nina.

Harga grosir yang relatif terjangkau membuat produk-produk tersebut menjadi pilihan bagi calon reseller yang ingin mencoba berjualan dengan modal terbatas.

Modal Rp500 Ribu Jadi Untung Jutaan

Peluang tersebut dirasakan langsung Teni, reseller squishy dan slime. Ia mulai berjualan sekitar dua bulan lalu setelah terkena PHK.

Dengan modal awal Rp500 ribu, Teni mengambil dua lusin slime untuk dicoba jual kembali. Tak disangka, produk tersebut laku karena kembali ramai atau hype.

"Kayaknya waktu itu saya modal Rp500 ribu, modal ambil dua lusin slime, nggak nyangka laku, karena ternyata hype lagi si slime itu," kata Teni.

Penjualan yang berjalan baik membuat Teni terus mengambil stok. Dalam dua bulan, ia memperkirakan omzetnya sudah mencapai jutaan.

"Yah 2 bulan ini ya berarti omset saya adah lah udah jutaan ya, saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang," ujarnya.

Kini, Teni rutin datang ke Asemka untuk melihat barang baru. Jika sedang tidak sempat datang, ia memilih meminta barang dikirim oleh toko.

Selain squishy dan slime, Amira seorang reseller bulu mata palsu, juga memanfaatkan Asemka untuk mendapatkan barang dengan harga grosir.

Ia awalnya mengetahui Asemka dari TikTok ketika mencari bulu mata untuk pernikahan kakaknya sekitar tiga bulan lalu. Dari kunjungan tersebut, ia justru menemukan supplier dan mulai berjualan.

"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lalu itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh ternyata saya malah dapat supplier yang oke, sekalian saja saya survey-survey sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira.

Ia mengaku membeli bulu mata sekitar Rp67.000-Rp120.000 per lusin, kemudian menjualnya kembali dalam kemasan per pack seharga Rp25.000.

"Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.

Cerita Teni dan Amira menunjukkan bahwa untuk memulai bisnis, produk dengan harga grosir tidak harus selalu berupa barang mahal atau dalam jumlah besar.

Barang-barang kecil yang tengah viral justru bisa menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha bermodal terbatas. Tinggal bagaimana mencari produk yang sedang diburu, mendapatkan harga kulakan yang tepat, lalu mengemas dan memasarkannya kembali.

(wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasar Asemka Bangkit dari Kubur, Ramai-Ramai Diserbu Reseller Online


Most Popular
Features