MARKET DATA
Internasional

Terungkap Penyebab 6 Pesawat Nyaris Tabrakan dalam 1 Bulan di Bandara

sef,  CNBC Indonesia
04 September 2026 16:40
Penerbangan Qantas QF1, menggunakan pesawat Airbus A380-800. (REUTERS/Jason Reed)
Foto: REUTERS/Jason Reed

Jakarta, CNBC Indonesia - Update baru didapat dari insiden nyaris tabrakan dua pesawat Qantas di Bandara Sydney, Australia, pada Juli lalu. Terungkap persoalan serius terkait kelelahan dan kekurangan tenaga pengatur lalu lintas udara (air traffic controller/ATC) di terminal penerbangan tersebut.

Dokumen internal dan rekaman percakapan ditinjau Reuters, Jumat (4/9/2026). Ini menunjukkan bahwa lima dari 10 pengatur lalu lintas udara yang bertugas saat insiden tersebut masuk kategori berisiko tinggi mengalami kelelahan.

Secara rinci, insiden terjadi pada 27 Juli 2026, ketika pesawat turboprop Qantas yang sedang mendarat nyaris bertabrakan dengan Boeing 737 milik maskapai yang sama. Padahal, Boeing 737 sebelumnya telah mendapat izin untuk melintasi landasan pacu.

Ternyata, dari 10 petugas yang bertugas, lima mendapat kode "H" atau high fatigue risk dalam sistem manajemen kelelahan Australia. Satu petugas masuk kategori risiko sedang, satu lainnya berisiko rendah sementara tiga petugas lainnya tidak masuk kategori berisiko mengalami kelelahan.

Seorang manajer shift bahkan menyebut kondisi staf saat itu sebagai "sedikit gila". Ini tercatat di percakapan internal dengan seorang direktur manajemen lalu lintas udara.

"Kita punya sekitar lima orang dengan tingkat kelelahan tinggi pagi ini. Ini sedikit gila," ujar manajer tersebut dalam rekaman, dikutip Jumat (4/9/2026).

"Syukurlah mereka tidak bertabrakan, tetapi jaraknya sangat dekat dan semua orang di sini cukup terguncang," lanjutnya.

Enam Pesawat Nyaris Tabrakan dalam Sebulan

Sebenarnya, insiden 27 Juli menjadi salah satu dari enam kejadian nyaris tabrakan di Bandara Sydney dalam kurun sekitar satu bulan. Serangkaian insiden tersebut memicu sorotan terhadap kondisi tenaga kerja pengatur lalu lintas udara, di tengah kekhawatiran global mengenai kekurangan personel ATC dan dampaknya terhadap keselamatan penerbangan.

Badan keselamatan transportasi Australia, Australian Transport Safety Bureau (ATSB), saat ini menyelidiki keenam insiden tersebut untuk mengetahui apakah terdapat persoalan keselamatan atau faktor penyebab yang sama. Airservices Australia, badan pemerintah yang mempekerjakan pengatur lalu lintas udara di negara tersebut, menolak berkomentar mengenai insiden karena penyelidikan masih berlangsung.

Bukan Berarti Petugas Benar-Benar Kelelahan?

Sistem manajemen kelelahan yang digunakan Australia tidak secara langsung mengukur apakah seorang petugas benar-benar mengalami kelelahan. Sistem tersebut menggunakan penilaian otomatis terhadap sejumlah faktor, termasuk beban kerja dan jadwal kerja, untuk memperkirakan tingkat risiko kelelahan.

Berdasarkan tingkat risiko tersebut, manajer shift atau direktur manajemen lalu lintas udara dapat menerapkan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya memberikan waktu istirahat lebih panjang, membatasi volume lalu lintas yang ditangani petugas, atau mengakhiri shift lebih awal.

Namun, sejumlah pengatur lalu lintas udara mengatakan kepada Reuters bahwa petugas tetap dapat bekerja meskipun memiliki tingkat risiko kelelahan tinggi. Seorang petugas yang berbasis di Melbourne mengatakan dirinya bahkan belum pernah melihat seorang pengatur lalu lintas udara dikeluarkan dari jadwal kerja karena dinilai terlalu lelah untuk bertugas.

Presiden Civil Air, serikat yang mewakili sekitar 85% pengatur lalu lintas udara Australia, Scott Nugent, mengatakan jumlah shift dengan risiko kelelahan tinggi meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan waktu istirahat yang semakin sedikit serta jam kerja yang lebih panjang.

"Namun, kekurangan staf menyebabkan orang bekerja lembur lebih banyak, memiliki lebih sedikit hari libur, bekerja di bawah tekanan yang lebih besar dan tingkat kelelahan meningkat," kata Nugent.

Airservices Australia juga mengakui bahwa dalam enam pekan hingga 28 Agustus, Sydney mengalami tingkat ketidakhadiran jangka pendek yang tidak biasa. Kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap kemampuan perusahaan mengisi seluruh shift operasional.

Bisa Kerja 10 Hari Berturut-turut

Kekurangan tenaga kerja membuat persoalan kelelahan menjadi semakin serius. Berdasarkan perjanjian kerja Airservices Australia, pengatur lalu lintas udara dapat bekerja hingga 10 shift berturut-turut, termasuk tugas tambahan dan keadaan darurat, dengan batas maksimal 80 jam selama periode kerja tersebut.

Sebagai perbandingan, pengatur lalu lintas udara di Kanada dapat bekerja hingga delapan hari berturut-turut sedangkan di Amerika Serikat (AS) hingga enam hari. Tiga pengatur lalu lintas udara Australia dan Civil Air mengatakan kepada Reuters bahwa bekerja selama 10 hari berturut-turut sebelum memperoleh satu hari libur bukanlah hal yang tidak biasa.

Tekanan lembur juga disebut meningkat. Sejumlah petugas mengatakan mereka kerap menerima telepon dan pesan untuk mengambil shift tambahan karena absennya mereka dapat menambah tekanan terhadap rekan kerja yang sudah kekurangan personel.

Persoalan ini tidak hanya terjadi di Australia. Kekurangan pengatur lalu lintas udara juga menjadi masalah di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Kanada.

Di AS, berdasarkan laporan National Academies of Sciences, pengeluaran untuk lembur pengatur lalu lintas udara melonjak lebih dari 300% sepanjang 2013-2024, mencapai sekitar US$200 juta (Rp3,528 triliun) pada 2025. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana kekurangan tenaga kerja di sektor pengatur lalu lintas udara dapat menjadi persoalan keselamatan, terutama ketika petugas harus menghadapi beban kerja tinggi dan jam kerja panjang.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kepala Pria Nyangkut di Jendela Pesawat saat Terbang, Ini Kronologinya


Most Popular
Features