MARKET DATA
Internasional

Xi Jinping Bakal Temui Trump di Washington, China-AS Menuju Akur?

tps,  CNBC Indonesia
03 September 2026 08:05
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan akan menjamu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi yang berisiko sangat besar. Namun, sejumlah pengamat politik dan ekonomi justru kembali memasang ekspektasi yang rendah terhadap hasil dari perundingan kedua negara adidaya tersebut.

Mengutip CNBC, Kamis (03/09/2026), keraguan ini muncul meskipun isu perang Iran diprediksi akan menjadi sorotan utama dalam pembicaraan kedua pemimpin. Hal ini menyusul adanya rencana baru AS untuk secara agresif memberikan sanksi tambahan kepada mitra bisnis Iran, yang berpotensi menyeret China sebagai mitra dagang terbesar Teheran.

Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya di Beijing, perang di Timur Tengah tampaknya hanya akan mengambil porsi kecil dari perbincangan. Kedua belah pihak dinilai lebih tertarik untuk menghindari langkah-langkah provokatif yang berisiko menghancurkan gencatan senjata perdagangan mereka saat ini.

Direktur Senior untuk China di Foundation for Defense of Democracies, Craig Singleton, mengatakan bahwa dunia menakar target dari pertemuan ini dengan ekspetasi yang rendah. Ia menyebut pertemuan ini hanya dilaksanakan untuk meredakan ketegangan keduanya.

"Hubungan ini semakin menghasilkan transaksi tanpa kepercayaan dan stabilitas tanpa penyelesaian. Ini adalah pertemuan puncak ekspektasi rendah yang sebagian besar difokuskan pada pengelolaan kebuntuan daripada menyelesaikannya," tegasnya.

Meskipun China belum secara resmi mengonfirmasi kunjungan Xi ke Washington yang dijadwalkan pada 24 September mendatang, perbedaan pandangan antara kedua negara sudah mulai terlihat jelas. Pada pertemuan menteri keuangan G20 baru-baru ini di North Carolina, China menjadi satu-satunya negara yang menentang pernyataan bersama terkait perdagangan dan perang Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bersikeras bahwa kedua negara memiliki banyak kesamaan pandangan terkait Iran, namun ia menegaskan bahwa menjadi kewajiban China untuk menemukan solusinya.

Agenda Pertemuan Puncak

Gedung Putih dilaporkan tengah merencanakan jamuan makan malam kenegaraan formal untuk menyambut kedatangan Xi. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menyatakan bahwa pertemuan ini akan membahas sejumlah kesepakatan penting.

"Presiden Trump memiliki hubungan yang kuat dengan Presiden Xi dan melakukan kunjungan yang luar biasa ke Beijing pada bulan Mei, di mana ia mengamankan perjanjian penting yang akan mendorong pekerjaan bergaji tinggi dan membuka pasar baru untuk barang-barang Amerika. Presiden Trump menantikan kunjungan bersejarah Presiden Xi ke Gedung Putih pada bulan September dan akan selalu memajukan kepentingan Amerika," paparnya.

Selain isu geopolitik dan ekonomi, Bessent juga mengonfirmasi bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) akan masuk dalam agenda pembahasan. Meski demikian, gaya kepemimpinan Trump yang dinilai sangat sentralistik dikhawatirkan akan meredam ekspektasi akan adanya terobosan diplomatik yang berarti.

Faktor Perang Iran

Pertemuan ini berlangsung di tengah bayang-bayang perang Iran yang akan memasuki bulan ketujuh. Upaya AS untuk memutus akses finansial pihak-pihak yang memberdayakan Iran melalui sanksi sekunder, termasuk ancaman terhadap China, dapat berdampak sangat besar. Target sanksi terhadap bank atau institusi China dapat memicu respons balasan yang mengancam relasi dagang dan akses AS terhadap pasokan mineral penting.

Associate Professor Ilmu Politik di Christopher Newport University, Taiyi Sun, menilai situasi ini menciptakan paradoks bagi Washington.

"Setiap pilihan yang lebih kuat menciptakan masalah China. Negara dengan potensi pengaruh ekonomi terbesar atas Teheran juga merupakan negara yang paling tidak mampu diasingkan oleh Washington sebelum pertemuan puncak bulan September," ungkapnya.

Sun juga meragukan kebijakan Operasi Pengasingan Ekonomi akan diterapkan secara penuh demi menghindari kekacauan sistem keuangan global. Ia memprediksi pemerintah Trump akan lebih memilih untuk bernegosiasi secara tertutup dengan China, terlebih menjelang pemilu paruh waktu yang kian dekat. Singleton pun setuju dengan prediksi tersebut.

"Iran mungkin muncul, tetapi saya memperkirakan hal itu hanya akan menempati sebagian kecil dari percakapan. Ambang batas bagi Departemen Keuangan untuk mengambil tindakan besar terhadap bank China menjelang pertemuan puncak sangat tinggi," pungkasnya.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Survei Terbaru: Xi Jinping Kalahkan Trump, Dunia Lebih Pilih China


Most Popular
Features