MARKET DATA

Jumlah Titik Panas Karhutla Bertambah

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
30 August 2026 17:15
Judan, seorang petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berusia 51 tahun, menyemprotkan air untuk memadamkan api di lahan gambut yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan di Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, pada 27 Agus
Foto: Judan, seorang petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berusia 51 tahun, menyemprotkan air untuk memadamkan api di lahan gambut yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan di Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, pada 27 Agustus 2026. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kehutanan melaporkan peningkatan titik panas atau hotspot, di tengah upaya pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 pada tingkat kepercayaan high, medium, dan low, jumlah hotspot nasional pada 29 Agustus 2026 tercatat 20.378 titik, meningkat dibandingkan 18.092 titik pada 28 Agustus dan 14.788 titik pada 27 Agustus 2026.

"Data menggunakan cut off 29 Agustus pukul 23.59 WIB," dikutip dari siaran pers Kemenhut Nomor SP. 469/HKLN/08/2026, Minggu (30/8/2026).

Meski begitu, empat dari enam provinsi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan penurunan jumlah hotspot pada 29 Agustus 2026. Penurunan terpantau di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Adapun perkembangan pada enam provinsi prioritas menunjukkan kondisi yang beragam, sebagaimana berikut ini:

Kalimantan Selatan: turun dari 1.354 menjadi 867 hotspot;
Sumatera Selatan: turun dari 1.036 menjadi 808 hotspot;
Riau: turun tipis dari 265 menjadi 254 hotspot;
Jambi: turun dari 181 menjadi 159 hotspot;
Kalimantan Tengah: meningkat dari 7.703 menjadi 8.488 hotspot; dan
Kalimantan Barat: meningkat dari 3.384 menjadi 6.526 hotspot.

Kemenhut menganggap, perkembangan tersebut menunjukkan situasi karhutla masih dinamis. Penurunan hotspot di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi serta mulai turunnya hujan di sebagian wilayah Riau menjadi perkembangan positif.
Namun, peningkatan hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat membuat penguatan kewaspadaan dan operasi di lapangan tetap menjadi prioritas.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian melalui patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan lokasi yang berpotensi mengalami penyalaan kembali.

Berdasarkan laporan operasi per 29 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, tercatat 112 laporan kejadian karhutla dan groundcheck firespot di 11 provinsi. Dari jumlah tersebut, 47 kejadian telah dinyatakan padam, sedangkan 65 lainnya masih dalam proses pemadaman.

Operasi pengendalian melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak lainnya. Strategi penanganan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah, termasuk karakteristik lahan gambut, ketersediaan sumber air, kondisi bahan bakar, arah penjalaran api, serta potensi dampaknya terhadap masyarakat dan fasilitas publik.

Selain operasi darat, pemerintah terus menyiagakan dukungan udara untuk kegiatan water bombing dan patroli udara. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung pengendalian karhutla.

Sepanjang 2026, tercatat 4.682 kali operasi penanganan karhutla dengan luas area yang ditangani mencapai 38.277,43 hektare. Data tersebut merupakan akumulasi penanganan yang dilakukan Manggala Agni Kemenhut bersama pihak terkait lainnya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article K/L Minta Anggaran Tangani Karhutla, Purbaya: Asal Jangan Mark Up


Most Popular
Features