MARKET DATA
Internasional

Update Terkini Banjir Bandang Nepal: Korban Bertambah-Ada Bahaya Baru

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
29 August 2026 09:45
Petugas Polisi Bersenjata Rakyat Tiongkok membersihkan puing-puing di dekat Pelabuhan Gyirong setelah terjadinya tanah longsor di Kabupaten Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Tibet, Tiongkok, pada 28 Agustus 2026. (China Daily via REUTERS)
Foto: Petugas Polisi Bersenjata Rakyat Tiongkok membersihkan puing-puing di dekat Pelabuhan Gyirong setelah terjadinya tanah longsor di Kabupaten Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Tibet, Tiongkok, pada 28 Agustus 2026. (via REUTERS/CHINA DAILY)

Jakarta, CNBC Indonesia - Operasi pencarian dan penyelamatan kembali dilakukan Nepal dan China pada Jumat (28/8/2026), setelah banjir dahsyat melanda kawasan Himalaya. Tim penyelamat China untuk pertama kalinya berhasil mencapai kompleks perbatasan Gyirong yang hampir seluruhnya luluh lantak dan mendapati kawasan tersebut tinggal menyisakan reruntuhan.

Bencana bermula pada Rabu ketika runtuhnya gletser memicu aliran besar batu, es, lumpur dan material lainnya yang menerjang sistem sungai di kawasan Himalaya. Sedikitnya 579 orang tewas di Nepal dan tujuh orang lainnya meninggal dunia di Tibet, China.

Otoritas penanggulangan bencana Nepal pada Jumat menyebut jumlah orang yang masih hilang hampir dua kali lipat menjadi 1.924 orang. Sementara itu, sebanyak 558 orang dilaporkan hilang di Gyirong County, Tibet, berdasarkan laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV.

Dari keseluruhan orang yang hilang dalam bencana tersebut, sedikitnya 540 orang merupakan warga negara asing. Sebagian besar di antaranya adalah peziarah Hindu asal India.

Rekaman kamera pengawas di kompleks perbatasan Gyirong memperlihatkan derasnya air bercampur material longsoran menerjang bangunan dan orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri.

Tim penyelamat baru dapat mencapai kawasan tersebut pada Jumat. Media pemerintah China melaporkan, tim yang terdiri atas 21 penyelamat dan seekor anjing pencari harus melintasi pegunungan dan lembah serta menggunakan tali untuk melewati hutan dan tebing terjal. Akses jalan menuju kompleks perbatasan telah hancur.

"Tidak ada jalan, semuanya hutan yang belum tersentuh dan tebing-tebing curam," kata petugas penyelamat Zou Mingqi, dilansir Reuters.

Sesampainya di kompleks tersebut, Zou mengatakan, "sejauh mata memandang, tidak ada apa-apa selain reruntuhan."

Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terdampak bencana tersebut.

Banjir juga menyebabkan terbentuknya sebuah danau yang pada Jumat mulai meluap ke Sungai Lhende Khola dan Trishuli. Luapan tersebut memicu kepanikan dan peringatan dari otoritas Nepal sehingga operasi penyelamatan sempat dihentikan selama sekitar tiga jam.

Ancaman tersebut juga membuat seluruh personel dan kendaraan tim penyelamat China ditarik dari lokasi, menurut CCTV. Setelah kondisi dinilai lebih aman, operasi pencarian dan penyelamatan kembali dilanjutkan oleh kedua negara.

Pejabat Nepal mengatakan mereka masih berharap dapat menemukan korban yang selamat.

Di tengah upaya pencarian, Nepal masih memantau dua danau yang terbentuk akibat bendungan alami di bagian hulu wilayah terdampak banjir. Seorang pejabat memperingatkan risiko banjir akan terus ada hingga kedua danau tersebut benar-benar mengering.

Citra satelit menunjukkan danau kedua terus membesar tanpa terlihat memiliki saluran keluar. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa tekanan air masih dapat meningkat.

Sementara itu, kantor berita pemerintah China, Xinhua, mengutip analisis Kementerian Sumber Daya Air yang menyebut ukuran danau pertama mulai berkurang. Namun, seorang ahli geobencana pemerintah China memperingatkan danau tersebut masih berpotensi tidak stabil.

Selain itu, terdapat lebih dari 100 danau glasial yang tersebar di kawasan tersebut dan dinilai dapat menimbulkan ancaman.

Di Beijing, rapat Politbiro yang dipimpin Presiden China Xi Jinping menyerukan penguatan pemantauan terhadap danau glasial serta risiko longsor. China juga meminta peningkatan kerja sama internasional dalam penanganan bencana.

Perdana Menteri China Li Qiang, pejabat nomor dua di negara tersebut, telah tiba di wilayah Gyirong pada Kamis sore. Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Beijing menempatkan bencana ini sebagai salah satu prioritas nasional tertinggi.

Adapun pelabuhan perbatasan Gyirong memiliki peran penting dalam jaringan Belt and Road China yang menghubungkan negara tersebut dengan Asia Selatan. Dalam satu dekade terakhir, kawasan itu juga telah dilengkapi zona logistik dan area parkir.

Di negara bagian Uttar Pradesh, India, polisi mengatakan kepada Reuters bahwa 10 jenazah ditemukan di tiga lokasi di sungai-sungai yang mengalir dari Nepal.

Sebelumnya, tim penyelamat Nepal menggunakan helikopter untuk mencari korban yang selamat sekaligus menjatuhkan bantuan darurat kepada ribuan orang yang terisolasi di berbagai kota dan lembah.

Dibga Tamang merupakan salah satu korban terakhir yang diselamatkan dari Rasuwa pada Kamis. Ia diterbangkan bersama tiga orang lainnya menuju sebuah pangkalan militer di Nuwakot.

"Semua orang kami sudah pergi. Mereka sudah meninggal," kata Tamang. "Tidak ada lagi seorang pun yang menunggu saya. Semuanya dan semua orang sudah pergi. Tamat."

Pangkalan militer di wilayah tersebut dipenuhi warga yang datang mencari informasi mengenai anggota keluarga mereka yang hilang maupun meninggal. Jenazah dibawa ke barak, sementara daftar orang yang berhasil diselamatkan ditempel di luar.

Di berbagai negara, keluarga korban yang hilang juga masih menunggu kepastian mengenai keberadaan kerabat mereka.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama mitranya juga meningkatkan pengiriman bantuan. Sekitar 20.000 rumah tangga diperkirakan membutuhkan bantuan pangan, sementara lebih dari 50.000 orang membutuhkan air bersih dan dukungan darurat, kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.

Sejumlah negara telah menawarkan bantuan pencarian dan penyelamatan. Namun, pemerintah Nepal mengatakan belum membutuhkan bantuan dari negara lain.

Tim tanggap cepat Korea Selatan yang berada di Kathmandu juga belum dikerahkan karena Nepal belum memiliki rencana untuk menerima tim penyelamat asing, kata Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.

The Kathmandu Post melaporkan India, China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka dan Bangladesh telah meminta pemerintah Nepal mengizinkan tim pencarian dan penyelamatan mereka membantu penanganan bencana tersebut.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Gambaran Kronologi Banjir Nepal: Es Raksasa Jatuh Bikin "Gempa" M5,2


Most Popular
Features