Buruh Mogok! Produksi Hyundai Terancam & Penjualan Hilang Rp30 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Hyundai Motor Co. menghadapi kerugian produksi puluhan ribu kendaraan akibat aksi mogok kerja serikat buruh di tengah kebuntuan negosiasi upah.
Mengutip Yonhap, Sabtu (22/8/2026) serikat pekerja Hyundai menggelar mogok parsial selama empat jam pada Rabu dan Kamis, dilanjutkan mogok penuh selama delapan jam pada Jumat. Aksi mogok penuh tersebut menjadi yang pertama dilakukan serikat pekerja Hyundai dalam 10 tahun.
Serikat pekerja juga berencana menggelar mogok parsial selama empat jam pada Senin dan Selasa pekan depan. Dengan demikian, rangkaian aksi mogok terbaru akan berlangsung selama lima hari.
Aksi tersebut diperkirakan membuat kerugian produksi kumulatif Hyundai sejak bulan lalu hingga 25 Agustus 2026 mencapai sekitar 62.000 kendaraan.
Selain kehilangan produksi, nilai penjualan yang hilang diperkirakan mencapai 2,6 triliun won atau sekitar US$1,85 miliar.
Perselisihan antara serikat pekerja dan manajemen Hyundai terjadi setelah negosiasi mengenai upah mengalami kebuntuan.
Aksi mogok tersebut menambah tekanan terhadap Hyundai yang juga tengah menghadapi pelemahan penjualan global.
Penjualan Hyundai di seluruh dunia pada Juli 2026 tercatat sebanyak 318.454 kendaraan, turun 5,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi yang ke-10 secara beruntun secara tahunan bagi penjualan global Hyundai.
Dengan berlanjutnya aksi mogok hingga 25 Agustus, kerugian produksi dan penjualan Hyundai diperkirakan masih dapat bertambah.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, seorang pejabat serikat pekerja membeberkan bahwa sekitar 40.000 anggota serikat pekerja Hyundai Motor diperkirakan bergabung dalam aksi mogok kerja tersebut, sementara 1.200 hingga 1.300 anggota hadir langsung di unjuk rasa Seoul. Anggota dari serikat pekerja lain dan berafiliasi dengan serikat payung juga terlihat bergabung, sehingga total massa pada rapat umum di ibu kota mencapai sekitar 3.000 orang.
Aksi mogok kerja tersebut menggambarkan keresahan buruh yang terus berkembang di Korsel menyusul terpilihnya Presiden liberal yang pro-buruh, Lee Jae Myung, pada tahun lalu.
Tindakan para buruh ini jelas menambah deretan tantangan berat yang tengah dihadapi produsen mobil tersebut. Pada bulan Juli lalu, Hyundai telah menyatakan perkiraannya untuk meleset dari target penjualan global tahun ini di tengah meningkatnya persaingan ketat dari China di Eropa dan anjloknya penjualan di Korea Selatan.
Adapun tuntutan serikat pekerja untuk menaikkan usia pensiun wajib sejatinya sejalan dengan janji Presiden Lee untuk secara bertahap meningkatkan batas usia di salah satu negara dengan penuaan populasi tercepat di dunia tersebut. Serikat pekerja juga gigih menuntut kenaikan bonus menjadi 800% dari gaji pokok bulanan dari yang sebelumnya 750%, serta menuntut jaminan mutlak untuk melindungi pekerjaan saat perusahaan mulai masif mengadopsi AI dan otomatisasi.
(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]