Babi-Babi Ini Bikin Pening, Terbongkar Kerajaan "Cuci-Cuci" Rp 100 M
Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus dugaan kejahatan keuangan mengguncang industri daging babi Australia. Empat pemilik atau perwakilan perusahaan yang bergerak di industri daging babi diduga menyembunyikan penjualan senilai A$10 juta (sekitar Rp100 miliar) dari pembukuan selama hampir satu dekade.
Keempat orang tersebut diduga melakukan berbagai praktik kecurangan antara 2017 hingga 2026. Termasuk mengubah tanggal kedaluwarsa produk daging beku dan memindahkan uang tunai antarnegara bagian menggunakan kendaraan pengangkut barang.
Mengutip ABC News, Jumat (21/8/2026), mereka telah didakwa dengan sejumlah tindak pidana terkait penipuan. Termasuk melakukan penipuan, menghancurkan catatan dengan tujuan melakukan penipuan, menerima aset hasil kejahatan, serta membuat pernyataan palsu.
Otoritas juga menyita aset senilai lebih dari A$25 juta. Di mana ada uang tunai sekitar A$3 juta dan dua kendaraan bermotor yang diduga merupakan hasil kejahatan.
Kasus Cuci Uang Tak Biasa
Kasus ini muncul setelah Australia memperluas aturan anti-pencucian uang nasional. Kewajiban untuk memverifikasi asal dana dan melaporkan transaksi mencurigakan kini tidak hanya berlaku bagi bank dan kasino, tetapi juga mencakup agen properti, conveyancer, pengacara, dan akuntan.
Penyelidikan gabungan lalu dilakukan Queensland Crime and Corruption Commission (CCC) dan NSW Crime Commission. Penyidik juga bekerja sama dengan unit anti-pencucian uang Kepolisian New South Wales.
Direktur Griffith University Academy of Financial Crime Investigation and Compliance, Andreas Chai, mengatakan kasus tersebut menarik. Karena dugaan pencucian uang melalui perdagangan daging babi tergolong "tidak biasa."
"Ini cukup menarik... penggunaan daging babi untuk transaksi antarnegara bagian belum pernah benar-benar muncul dalam radar sebelumnya," kata Chai.
Menurutnya, penggunaan perdagangan legal untuk menyamarkan hasil kejahatan merupakan salah satu metode pencucian uang yang umum. Namun, kasus yang berkaitan dengan sektor pertanian relatif jarang ditemukan.
"Masuk akal karena banyak produk pertanian semacam ini yang terus bergerak antarnegara bagian. Namun biasanya yang digunakan adalah barang bernilai tinggi seperti anggur," ujarnya.
Chai menjelaskan praktik tersebut dapat masuk dalam kategori trade-based money laundering. Ini merujuk ke pencucian uang berbasis perdagangan dengan cara memanipulasi nilai barang dalam transaksi.
Modusnya dapat dilakukan dengan melaporkan harga barang lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai sebenarnya. Menurut Chai, metode tersebut digunakan untuk menciptakan cerita atau dokumen transaksi yang terlihat sah sehingga asal-usul uang hasil kejahatan sulit dilacak.
"Biasanya terjadi penumpukan uang kotor dan mereka perlu memindahkan uang tersebut dengan cara yang tidak mencurigakan," jelasnya.
Ketika bank, akuntan atau pengacara mempertanyakan asal uang tersebut, pelaku dapat menunjukkan dokumen perdagangan yang seolah-olah menjelaskan sumber dana tersebut. Padahal, menurut Chai, uang tersebut sebenarnya berasal dari aktivitas ilegal.
Catatan Perusahaan Jadi Kunci
Penyidik kini diperkirakan akan menelusuri perubahan dalam catatan perusahaan untuk mengetahui nilai sebenarnya dari barang yang diperdagangkan. Chai mengatakan audit forensik terhadap sistem perusahaan kemungkinan menjadi bagian penting dari penyelidikan.
Pasalnya, terdapat catatan dari perusahaan yang mengirim barang maupun perusahaan yang menerima barang. Pola perubahan catatan dari waktu ke waktu juga diyakini dapat membantu penyidik mengungkap modus yang digunakan.
"Mereka akan memeriksa sistem teknologi informasi secara sangat mendalam, termasuk kapan catatan diubah dan mengapa perubahan tersebut dilakukan," katanya.
Industri Babi Australia
Pihak Australian Pork Limited (APL), organisasi industri utama sektor daging babi Australia, menolak berkomentar karena kasus tersebut masih berada dalam proses hukum. Namun, APL menegaskan seluruh pelaku usaha wajib mematuhi hukum.
Data terbaru APL menunjukkan Australia memproduksi lebih dari 470.000 ton daging babi pada kuartal Maret tahun ini. Di seluruh Australia terdapat lebih dari 4.700 lokasi produksi babi terdaftar, di mana sektor tersebut menyumbang sekitar A$6,9 miliar terhadap perekonomian Australia pada tahun keuangan 2024-2025.