MARKET DATA
Internasional

Trump Pamer Kontak Kim Jong Un, Adiknya Langsung Bilang Begini

tps,  CNBC Indonesia
20 August 2026 20:40
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menghadiri upacara peletakan karangan bunga di Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam. (REUTERS/JORGE SILVA)
Foto: (REUTERS/JORGE SILVA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saudari perempuan dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang sangat berkuasa, Kim Yo Jong, menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui apakah saudara laki-lakinya itu telah berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini.

Mengutip CNN, Kamis (20/8/2026), Kim yang merupakan salah satu pejabat tinggi Korea Utara mengakui bahwa sang kakak memang memiliki hubungan yang hebat dengan Trump serta secara pribadi memiliki kenangan dan perasaan yang baik terhadapnya. Namun, dalam sebuah pernyataan yang dirilis di media pemerintah pada hari Rabu, ia menahan diri untuk mengonfirmasi klaim kontak terbaru dari Trump tersebut.

"Saya sama sekali tidak menyadarinya, dan mungkin itu satu-satunya hal yang tidak saya ketahui terkait kebijakan luar negeri kepemimpinan tertinggi kami," ungkapnya.

Pernyataan Kim ini sangat menyoroti situasi yang ada mengingat ia adalah salah satu letnan utama dan orang kepercayaan dekat saudaranya. Ia sering terlihat mendampingi sang pemimpin dan kerap menyampaikan pernyataan penting atas nama rezim yang dikenal sangat tertutup tersebut.

Keriuhan dari Pyongyang ini muncul setelah Trump pada hari Senin lalu memberi tahu wartawan bahwa Kim Jong Un telah menanggapi permintaannya untuk bercakap-cakap.

Pada Rabu, Trump menambahkan bahwa ia berniat untuk bertemu dengan Kim pada akhir tahun ini, meski tidak membeberkan rincian lebih lanjut maupun mengonfirmasi apakah ia telah bertukar surat dengan pemimpin Korea Utara tersebut.

"Saya rukun dengannya. Dan tahukah Anda? Fakta bahwa saya rukun dengannya - itu hal yang baik," tuturnya.

Klaim sepihak Trump ini dilontarkan sesaat setelah sang presiden menuntut pengurangan mendadak dalam latihan militer gabungan dengan Korea Selatan yang merupakan sekutu dekat AS. Tuntutan mendadak ini didasarkan pada hubungan positifnya dengan Kim Jong Un, serta alasan kurangnya bantuan Seoul untuk perang di Iran.

Atas permintaan Washington, latihan tahunan yang biasanya dijadwalkan berlangsung selama 10 hari tersebut kini hanya akan berlangsung selama lima hari. Juru bicara Pasukan AS di Korea pada pekan lalu menjelaskan bahwa latihan ini sejatinya dirancang khusus untuk beradaptasi dengan kemampuan Korea Utara yang terus berkembang, dengan menggabungkan pelatihan khusus untuk menangkal drone, gangguan GPS, hingga ancaman serangan siber.

Latihan militer gabungan AS-Korsel telah lama membuat Korea Utara geram. Menanggapi penyusutan skala tersebut, Kim Yo Jong dengan tegas menyatakan bahwa mengurangi jadwal latihan sama sekali tidak mengubah sifat provokatif dan ofensif dari kegiatan tersebut.

"Mengurangi latihan militer seharusnya tidak dilihat sebagai ukuran niat baik," tegasnya.

Di sisi lain, para analis menyoroti bahwa latihan militer tersebut sebenarnya memuat modul krusial untuk memberikan sesuatu yang belum pernah dimiliki Seoul sejak Perang Korea dimulai pada tahun 1950, yakni kendali operasional masa perang atas pasukan gabungan.

Para analis telah memperingatkan bahwa dengan mengurangi porsi latihan ini, Trump justru berisiko melawan tujuannya sendiri agar Seoul memikul lebih banyak tanggung jawab atas pertahanannya.

Meski demikian, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara publik justru menyambut baik permintaan Trump tersebut dan menegaskan kembali dukungannya terhadap dialog dengan Korea Utara.

"Kami bersimpati dengan tekad dan upaya Presiden Trump untuk menciptakan kondisi dialog guna membangun rezim perdamaian di Semenanjung Korea, meskipun itu berarti mengurangi latihan militer gabungan Korea Selatan-AS dan latihan lapangan baru-baru ini, dan kami memberikan penghormatan pada keputusan itu," paparnya.

Lee juga kembali memvalidasi kesepakatannya dengan pandangan Trump bahwa Korea Selatan memang harus memikul tanggung jawab atas keamanan negerinya secara mandiri.

"Membangun kemampuan yang memadai untuk membela semenanjung secara mandiri dengan meningkatkan pengeluaran pertahanan secara cepat guna mencapai pengeluaran pertahanan sebesar 3,5% dari PDB," ucapnya.

Sebagai informasi latar belakang, Trump sebelumnya juga pernah mengambil langkah serupa untuk menyusutkan operasi gabungan dengan Korea Selatan selama masa jabatan pertamanya pada Maret 2019 lalu. Ia bahkan telah bertemu dengan Kim Jong Un sebanyak tiga kali untuk negosiasi denuklirisasi, yang mana pada akhirnya berakhir buntu dan memicu program senjata nuklir Korea Utara berkembang semakin pesat sejak saat itu.

Pertumbuhan armada nuklir ini divalidasi oleh Menteri Pertahanan Korea Selatan pada hari Kamis yang memperkirakan bahwa Pyongyang kini telah memiliki antara 80 hingga 120 hulu ledak nuklir, sebuah estimasi yang jauh lebih tinggi daripada klaim Trump baru-baru ini yang menyebut Korea Utara hanya memiliki 57 senjata nuklir.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Mau Temui Kim Jong Un, Hubungan AS-Korsel di Ujung Tanduk?


Most Popular
Features