Iran Buat Taktik Baru Lawan AS, Sebut Strategi Mematikan-Agresi Taktis
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Kepemimpinan sayap kanan Iran kini tengah menyusun dan mempromosikan strategi baru melawan Amerika Serikat (AS). Ini berupa "operasi ofensif untuk konfrontasi berkelanjutan" dengan Washington.
Strategi yang disebut "mematikan" itu dirancang tepat ketika Presiden AS Donald Trump diklaim masih mencari jalan keluar dari perang yang ia mulai sendiri enam bulan lalu. Mengutip CNNÂ International, Kamis (20/08/2026), sikap agresif Teheran ini muncul seiring dengan kadaluwarsanya Nota Kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran pekan ini, sementara kendali atas Selat Hormuz masih menjadi sengketa panas.
Secara rinci, strategi ini dimulai dengan serangkaian dekrit yang dikeluarkan pada pekan lalu atas nama Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Dekrit tersebut secara drastis merombak struktur keamanan, termasuk mengesahkan Ahmad Vahidi sebagai Kepala Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dengan mandat utama "mempersiapkan operasi ofensif yang kuat terhadap musuh".
Penasihat Khamenei, Mohammad Mokhber, menyuarakan ancaman dari strategi baru ini. "Strategi mengalihkan perang ke postur ofensif jika persyaratan Iran tidak dipenuhi niscaya akan mengubah keseimbangan kekuatan di dunia," tegasnya.
Hal sama juga dikatakan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru, Mohsen Rezaie. Ia meyakini bahwa "satu-satunya cara untuk mendapatkan konsesi dari AS adalah dengan melanjutkan pertempuran dan memberikan penderitaan konstan pada Trump".
Deputi Politik IRGC Brigadir Jenderal Yadollah Javani juga membuka peluang "agresi taktis" tersebut. Agresi taktis adalah tindakan menyerang secara terbatas dan terukur untuk mencapai tujuan militer tertentu, bukan untuk melakukan serangan besar-besaran atau perang total.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa Iran sejatinya hanya akan mengambil tindakan defensif terlebih dahulu. "Tindakan Iran bersifat defensif, meskipun mereka juga dapat mengambil aspek ofensif di masa depan," ucapnya.
Sementara itu, Teheran sangat percaya diri akan keunggulan militernya untuk merampas kendali ruang, geografi, serta waktu peperangan dari AS. Hal ini dikatakan analis Royal United Services Institute, H.A. Hellyer.
Ia menyebut hal ini membuat rezim Iran sukses bertahan dari gempuran AS, Israel, dan negara-negara Teluk. "Mereka belum meresmikan kendali atas Selat Hormuz, dan sementara mereka tidak terburu-buru, mereka ingin menekan keunggulan mereka," ungkapnya.
Doktrin ofensif yang baru ini didukung secara kuat oleh inovasi drone dan rudal balistik bermanuver dengan hulu ledak klaster. Iran juga aktif mengancam lewat perang asimetris, mulai dari sabotase kabel bawah laut di Teluk, hingga serangan tak terduga terhadap kapal tanker milik perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab (ADNOC) demi menjaga tingginya harga minyak.
Di sisi lain, Iran terus memobilisasi sekutu proksinya, di mana milisi Houthi di Yaman dan milisi di Irak kini semakin beringas menargetkan infrastruktur minyak Arab Saudi. Arab Saudi diyakini akan segera terkepung dari tiga sisi secara bersamaan karena Houthi dan kelompok Irak saling berbagi intelijen dan saran pertempuran berkat kucuran investasi Teheran.
Iran tidak akan melepaskan pengaruh proksinya di kawasan, bahkan ketika beberapa di antaranya telah dilemahkan oleh Israel atau telah kehilangan pijakannya akibat pergantian rezim di Suriah. Hal ini terbukti dari kunjungan diam-diam Komandan Pasukan Quds, Esmail Qaani, ke Baghdad tepat ketika pemerintah baru Irak di bawah tekanan AS mencoba melucuti senjata milisi pro-Iran.
(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]