MARKET DATA
Internasional

Trump Tak Peduli Diteriaki Sana-sini, DPR AS Emosi-Iran Bantah Keras

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
15 August 2026 21:21
An F-35C Lightning II, attached to Marine Fighter Attack Squadron (VMFA) 314, is staged for flight operations on the flight deck of Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) in support of Operation Epic Fury, Mar. 3, 2026. (U.S. Navy
Foto: U.S. Central Command Public Affa/

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi setelah mengecilkan dampak yang dialami para pelaut USS Abraham Lincoln yang telah menjalani penugasan hampir sembilan bulan di laut tanpa jeda. Pernyataan Trump muncul ketika kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan mental dan pasokan logistik di kapal induk tersebut terus meningkat.

Trump menolak anggapan bahwa keluarga para awak kapal mengeluhkan lamanya penugasan. Bahkan, ia menyebut durasi penugasan itu belum cukup panjang, meski USS Abraham Lincoln telah mencatat lebih dari 240 hari berada di laut tanpa kembali ke pelabuhan.

"Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau akan segera bergerak, dan akan digantikan oleh kapal lain yang sangat mirip," kata Trump, dikutip dari APNews, Sabtu (15/6/2026).

Sementara itu, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao menyatakan melalui media sosial, USS Abraham Lincoln akan segera pulang ke tanah air.

Pernyataan Trump memicu sorotan karena ia sebelumnya berjanji menghindari keterlibatan militer yang panjang dan mahal ketika memulai masa jabatan keduanya. Namun, setelah melancarkan operasi militer terhadap Iran bersama Israel, konflik yang awalnya diperkirakan hanya berlangsung beberapa pekan kini telah memasuki bulan kelima.

Dalam pidatonya di Garden City, New York, Trump mengakui bahwa ia menggunakan kekuatan militer AS sedikit lebih banyak daripada yang diinginkan, tetapi tetap menegaskan operasi terhadap Iran berjalan dengan baik. Ia bahkan sempat melontarkan pernyataan bernada bercanda bahwa sebentar lagi ia akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat.

Trump juga menolak meminta maaf atas perang tersebut dan dampaknya terhadap harga minyak.

"Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar," ujarnya.

Penugasan kapal induk yang berkepanjangan selama konflik Iran memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap personel militer yang harus jauh dari keluarga dalam waktu lama. Selain itu, tekanan terhadap kapal dan peralatannya juga dinilai terus meningkat.

Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat, termasuk Senator Richard Blumenthal dari Connecticut dan Senator Ruben Gallego dari Arizona, mendesak Pentagon bertanggung jawab atas kondisi di USS Abraham Lincoln. Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa laporan mengenai kondisi kapal telah disalahartikan sepenuhnya.

Anggota DPR Jason Crow, veteran tiga penugasan di Irak dan Afghanistan, mengkritik pernyataan Trump melalui media sosial X.

"Presiden Trump tidak peduli terhadap anggota militer kita maupun keluarga mereka," tulis Crow.

Pimpinan Demokrat di Komite Pengawasan DPR AS juga meminta pengarahan tertutup dari Pentagon mengenai persediaan makanan, masalah sanitasi, ketersediaan layanan kesehatan, serta perkiraan berapa lama lagi USS Abraham Lincoln akan tetap dikerahkan sebelum mendapat pengganti.

Laporan mengenai meningkatnya tekanan psikologis di kalangan awak kapal turut menjadi perhatian publik. Namun, Angkatan Laut AS menyatakan belum melihat peningkatan kasus pikiran bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas USS Abraham Lincoln.

Meski demikian, pihak Angkatan Laut menolak mempublikasikan data tersebut dengan alasan keamanan operasional dan privasi pasien.

Seorang pejabat Angkatan Laut mengungkapkan, seorang pelaut USS Abraham Lincoln sempat jatuh ke laut pada awal Agustus. Personel tersebut berhasil diselamatkan, mendapat perawatan dari tim medis kapal, dan kemudian dipindahkan ke fasilitas lain untuk penanganan lanjutan. Pejabat tersebut tidak menjelaskan apakah insiden itu dikategorikan sebagai percobaan bunuh diri.

Iran Bantah Pernyataan Trump

Iran menolak keras pernyataan Trump yang mengklaim Selat Hormuz akan segera menjadi wilayah Amerika Serikat. Penolakan itu muncul di tengah memanasnya situasi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut setelah sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil, sementara peluang dimulainya kembali perundingan antara Washington dan Teheran masih buntu.

Mengutip CNBC Internasional, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan tidak dapat direbut melalui ancaman politik maupun kekuatan militer.

"Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka di bawah komando Iran," tulis Gharibabadi melalui akun X pada Jumat malam.

Ia juga menyindir langsung pernyataan Trump. "Selat Hormuz tidak bisa direbut dengan cuitan, kapal induk, perintah sepihak, atau pidato kampanye," tegasnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan bahwa hubungan kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda menuju gencatan senjata maupun negosiasi.

"Tidak ada negosiasi yang berlangsung antara kami dan Amerika Serikat saat ini," kata Araghchi seperti dikutip media Iran, Shahrara News, Sabtu.

Ia menambahkan bahwa Qatar dan Pakistan memang sedang bertukar pesan dengan kedua pihak, tetapi hal itu tidak berarti proses negosiasi telah dimulai.

Di sisi lain, situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memburuk. United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO), lembaga yang didukung Angkatan Laut Inggris, melaporkan telah menerima laporan terverifikasi mengenai sebuah kapal kargo curah yang terkena proyektil tak dikenal.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article AS Nekat Kirim Kapal Induk Baru ke Timteng, Alasannya di Luar Dugaan


Most Popular
Features