Harga Sulfur Melejit, Ini Strategi Vale Jaga Operasional Smelter
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketergantungan terhadap impor sulfur mulai menjadi tantangan bagi keberlangsungan industri hilirisasi nikel di Indonesia. Dengan adana gangguan rantai pasok global, terutama yang dipicu kondisi di kawasan Timur Tengah, turut menekan ketersediaan, sehingga mendorong lonjakan harga sulfur.
Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Budiawansyah menyampaikan bahwa pihaknya tengah mengkaji sumber alternatif sulfur untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan sulfur.
Menurutnya, salah satu opsi yang sedang dikaji adalah mengekstrak sulfur dari material lain yang tersedia, salah satunya pirit.
"Oke ini ada pirit, kita coba trial. So far testing-nya dengan komposisi tertentu itu bagus, menarik gitu kan. Ini terus kita kaji titik optimumnya ada di mana. Gitu sehingga tanpa harus menimbulkan dampak-dampak baru," ungkap Budi di Jakarta, dikutip Jumat (14/8/2026).
Di sisi lain, ia menegaskan aspek lingkungan tetap menjadi perhatian utama dalam pengembangan alternatif tersebut. Karena itu, sebelum diterapkan dalam skala lebih besar, seluruh parameter yang berpotensi terdampak akan terlebih dahulu dikaji.
"Jadi intinya di dalam sebuah kesulitan itu kita coba melihat itu ada opportunity baru di situ. Dulu kan nggak ada yang melirik, oh ternyata ini menarik juga untuk diekstrak dan dicoba sampai tingkat tertentu untuk mendapatkan komposisi apa namanya feed sulfur yang mencukupi lah begitu," ujar Budi.
Sebelumnya, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengungkapkan sekitar 75-80% kebutuhan impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Adapun dari total sekitar 5,3 juta ton impor, porsi terbesar disuplai oleh negara-negara di kawasan tersebut.
"Pasokan yang sangat terkonsentrasi ini, setelah penutupan Selat Hormuz, mengakibatkan terganggunya bahkan akan terputusnya sumber bahan baku utama untuk refinery HPAL di Indonesia," ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (27/4/2026).
Arif menilai sulfur merupakan komponen krusial dalam industri hilirisasi nikel, khususnya untuk memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian (leaching) pada fasilitas pengolahan berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL).
"Produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) battery grade nickel dengan menggunakan teknologi HPAL yang sangat bergantung pada asam sulfat," katanya.
Dari sisi kebutuhan, industri membutuhkan sekitar 10-12 ton sulfur untuk menghasilkan 1 ton nikel dalam bentuk MHP. Hal ini menjadikan sulfur sebagai salah satu komponen biaya terbesar dalam proses produksi HPAL.
"Sebagai negara produsen terbesar untuk material nikel-kobalt (MHP) dari proyek-proyek HPAL, Indonesia sangat bergantung pada impor sulfur dari Timur Tengah," katanya.