AS Nekat Kirim Kapal Induk Baru ke Timteng, Alasannya di Luar Dugaan
Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) bersiap mengganti kapal induk USS Abraham Lincoln dengan USS George Washington dalam rotasi penugasan terjadwal ke Timur Tengah. Pergantian ini dilakukan ketika kekhawatiran terhadap kondisi hidup awak USS Abraham Lincoln dan tekanan psikologis personel yang terlibat dalam perang Iran semakin mengemuka.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Kamis (13/8/2026), sejumlah pejabat AS mengatakan USS George Washington akan mengambil alih tugas USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah. Langkah tersebut dilakukan saat laporan mengenai kekurangan pasokan makanan, perlengkapan pribadi, hingga masalah fasilitas dasar di atas kapal induk tersebut menjadi perhatian para anggota Kongres AS.
Beberapa legislator menyatakan keprihatinan atas laporan mengenai minimnya makanan dan kebutuhan pribadi bagi awak kapal, serta masalah saluran pembuangan yang tersumbat ketika masa penugasan USS Abraham Lincoln memasuki bulan kesembilan.
Seorang pejabat AS pada Kamis juga mengonfirmasi bahwa ada satu personel yang jatuh ke laut dari USS Abraham Lincoln pada awal Agustus. Namun, personel tersebut berhasil diselamatkan dengan cepat.
USS Abraham Lincoln telah menjalani penugasan selama lebih dari 250 hari dan tidak singgah di pelabuhan selama 200 hari terakhir. Menurut Senator Richard Blumenthal dari Partai Demokrat, kondisi tersebut mencetak rekor hari berturut-turut terlama di laut bagi kapal induk AS.
Dalam surat yang ditujukan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao, Blumenthal menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi awak kapal.
"Telah ada laporan luas mengenai kekurangan pasokan dasar, kontaminasi air, masalah saluran pembuangan, memburuknya kesehatan mental, persoalan keselamatan di dek kapal, serta gangguan sistem surat yang menyebabkan banyak paket kiriman untuk awak kapal hilang dalam perjalanan selama berbulan-bulan," tulis Blumenthal.
Kongres Minta Penjelasan Pentagon
Anggota DPR dari Partai Republik, Marlin Stutzman, mengatakan dirinya akan meminta pembaruan informasi dari Pentagon dan pemerintahan AS terkait kondisi tersebut.
"Pada akhirnya, kita tahu bahwa mereka yang bertugas harus merasa tenang karena mengetahui bahwa mereka dirawat dan diperhatikan dengan baik," kata Stutzman dalam wawancara dengan CNN pada Kamis.
Meski demikian, Hegseth membantah berbagai laporan yang beredar mengenai kondisi USS Abraham Lincoln.
Berbicara kepada wartawan dari atas kapal Angkatan Laut AS di Panama City, Panama, pada Kamis, Hegseth mengatakan kekhawatiran mengenai USS Abraham Lincoln telah disalahartikan.
"Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, dan setiap komandan kapal mendapatkan segala sesuatu yang bisa kami berikan setiap saat," tegas Hegseth mengenai berbagai laporan tersebut.
Hegseth juga menegaskan bahwa AS mampu mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tanpa batas waktu karena memiliki kemampuan untuk merotasi kapal-kapal perang masuk dan keluar dari wilayah operasi.
Tekanan Berat Akibat Penugasan Panjang
Pejabat AS mengatakan kondisi yang dialami USS Abraham Lincoln sebenarnya tidak luar biasa untuk sebuah penugasan pada masa perang. Namun beberapa pihak mengakui bahwa berbulan-bulan tanpa singgah di pelabuhan dapat memberikan tekanan besar kepada personel.
Dalam penugasan normal, kapal induk biasanya singgah di pelabuhan untuk mengisi ulang logistik sekaligus memberikan kesempatan bagi awak untuk beristirahat dan memulihkan kondisi.
Sebagai perbandingan, USS Gerald R. Ford berada di laut selama 11 bulan sebelum kembali ke pangkalan pada Mei lalu dan menjadi kapal induk AS dengan masa penugasan terpanjang sejak runtuhnya Uni Soviet.
Pada Maret, saat perang Iran sedang berlangsung, kapal tersebut sempat singgah beberapa hari di Split, Kroasia, untuk menjalani perawatan dan memberi kesempatan para pelaut beristirahat. Namun penugasan yang panjang dan kondisi yang menantang tetap membebani para personel militer di kapal tersebut.
Rotasi Sudah Direncanakan
Salah satu pejabat AS mengatakan rotasi USS Abraham Lincoln keluar dari Timur Tengah sebenarnya telah direncanakan sebelum muncul kekhawatiran mengenai kondisi hidup awak kapal.
Pergantian ini berlangsung ketika Presiden Donald Trump terus berupaya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk melalui blokade berkepanjangan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang dilakukan oleh sejumlah besar kapal perang AS.
USS Abraham Lincoln memulai penugasan rutinnya pada November dan kemudian dialihkan ke Timur Tengah pada Januari menjelang perang AS melawan Iran.
Kapal induk tersebut bersama pesawat-pesawat tempurnya memainkan peran penting dalam kampanye pengeboman AS yang diberi nama Operation Epic Fury. Setelah itu, kapal tersebut turut berpartisipasi dalam blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Respons Angkatan Laut
Seorang pejabat Angkatan Laut AS menyatakan pihaknya tidak melihat adanya peningkatan masalah kesehatan mental di USS Abraham Lincoln.
Pejabat tersebut mengatakan Angkatan Laut tidak menemukan peningkatan pemikiran bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas kapal.
Menurutnya, Angkatan Laut sangat serius memperhatikan kesejahteraan setiap personel dan menyediakan tenaga keagamaan, medis, serta profesional kesehatan mental untuk menilai dan menangani berbagai persoalan yang muncul.
Kekosongan di Asia
USS George Washington yang akan menggantikan USS Abraham Lincoln berbasis di Jepang dan dalam beberapa pekan terakhir beroperasi di Laut China Selatan.
Kapal tersebut juga baru saja melakukan kunjungan pelabuhan ke Vietnam.
Penugasan USS George Washington di kawasan Asia-Pasifik selama ini menjadi bagian dari strategi AS untuk menyeimbangkan pengaruh China di kawasan.
Baru-baru ini kapal induk tersebut melintasi Selat Malaka menuju arah barat bersama sejumlah kapal perusak berpemandu rudal, menurut data pelacakan kapal dan seorang pejabat AS.
Namun perpindahan USS George Washington ke Timur Tengah diperkirakan akan meninggalkan kekosongan sementara di kawasan Pasifik, ketika China terus meningkatkan pengaruhnya dan mengerahkan kapal induknya sendiri.
Bryan Clark, mantan perwira Angkatan Laut AS yang kini menjadi peneliti senior di Hudson Institute, mengatakan kehadiran USS George Washington biasanya berfungsi untuk menunjukkan komitmen AS kepada negara-negara sekutu di kawasan.
"Biasanya George Washington melakukan patroli, menunjukkan kehadiran, serta memperlihatkan komitmen dan dukungan kami kepada negara-negara seperti Filipina dan Jepang. Kami akan kehilangan berbagai peluang strategis untuk memengaruhi hubungan dengan negara-negara di kawasan tersebut," kata Clark.
Armada AS Tertekan
Rotasi kapal induk ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan Angkatan Laut AS untuk merespons peristiwa global sekaligus mempertahankan operasional jangka panjangnya.
AS saat ini memiliki 11 kapal induk aktif yang semuanya membutuhkan perawatan ketika kembali ke pangkalan.
Menurut Clark, dampak perang Iran dapat membuat Angkatan Laut AS membutuhkan waktu hingga tiga tahun untuk mengembalikan armadanya ke tingkat kesiapan ideal.
"Jika ada dua atau tiga kapal induk di masing-masing pantai yang berada pada berbagai tahap perbaikan atau perawatan, mereka akan harus mengantre," katanya.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]