MARKET DATA

Wamen Investasi Bocorkan Timah Solder Malaysia Lebih Murah dari RI

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
13 August 2026 19:25
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu saat menyampaikan pemaparan dalam Mindialogue dengan tema Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI di Jakarta, Ra
Foto: Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu saat menyampaikan pemaparan dalam Mindialogue dengan tema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” di Jakarta, Rabu (12/8/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu membeberkan lemahnya daya saing produk timah solder dalam negeri. Bahkan, harganya justru lebih mahal dibandingkan produk serupa asal Malaysia.

Hal itu menjadi evaluasi serius pemerintah karena bahan baku timah untuk kedua produk tersebut berasal dari sumber yang sama, yakni Bangka Belitung.

Menurutnya, ekosistem hilirisasi timah nasional saat ini masih belum berjalan sempurna. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk meninjau ulang strategi fiskal agar industri pengolahan di dalam negeri bisa lebih kompetitif.

"Timahnya dari Bangka Belitung, dari smelter yang sama, masuk ke bursa komoditi, dibeli sama pabrik solder di Malaysia, dan dibeli sama pabrik solder di Batam. Soldernya dari Malaysia masuk ke Indonesia, masih lebih murah daripada harga solder pabrik di Batam," katanya dalam acara Mindialogue 2026, di Jakarta, dikutip Kamis (13/8/2026).

Ketimpangan harga tersebut dipicu oleh kurangnya efisiensi struktur biaya produksi di tingkat industri hilir domestik. Dia menilai Indonesia sebenarnya sudah memiliki seluruh perangkat pendukung mulai dari tambang hingga pabrik kimia timah, namun keterpaduannya belum mampu menghasilkan harga jual yang bersaing.

"Saya yakin dan percaya, produksi smelter, apa soldernya timah sama tin chemical-nya gak punya ada yang saing. Jadi yang menjadi persoalan berikutnya adalah, bagaimana caranya kita memitigasi cost terhadap hilirisasi," tambahnya.

Pemerintah memandang tidak adanya daya saing harga akan menghambat ambisi industrialisasi nasional di masa depan. Fokus pihaknya saat ini yakni merumuskan strategi mitigasi penggunaan energi serta perbaikan rantai pasok untuk memastikan hilirisasi memberikan manfaat ekonomi lebih besar untuk negara.

"Akan menjadi omong kosong semuanya kalau kita pun memaksakan hilirisasi di negara kita, tetapi tidak mempunyai daya saing. Buat apa? Ini yang menjadi persoalan besar," tegasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bahan Baku Berlimpah, Komponen Panel Surya RI Ternyata Masih Impor


Most Popular
Features