CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Jerman Hadapi Ancaman Perang Besar, Pemerintah sedang Bersiap

tps,  CNBC Indonesia
10 August 2026 22:00
Petugas kepolisian bekerja di dekat pesawat kargo Antonov di Bandara Leipzig/Halle, Schkeuditz, Jerman, Rabu (5/8/2026), setelah sebuah pesawat nirawak (drone) ditemukan di sekitar pesawat tersebut. Polisi menyatakan ahli bahan peledak telah memeriks
Foto: (REUTERS/Axel Schmidt)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jerman kini menghadapi ancaman serangan perang hibrida setiap harinya dari luar negeri. Peringatan ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt menyusul dugaan upaya serangan yang melibatkan pesawat nirawak atau drone bermuatan bahan peledak di Bandara Leipzig/Halle.

Mengutip Reuters, Senin (10/8/2026), Dobrindt memaparkan kepada surat kabar Bild am Sonntag bahwa kekuatan asing sengaja ingin menundukkan Jerman secara politik dan sosial dengan mengobarkan ketakutan. Surat kabar tersebut juga melaporkan bahwa pemerintah berencana untuk segera meningkatkan kapasitas anti-drone Jerman demi menghadapi ancaman nyata tersebut.

"Kami tidak sedang berperang, tetapi kami adalah target harian perang hibrida. Spionase, sabotase, serangan siber, atau operasi rahasia oleh kekuatan asing yang bertujuan untuk menggoyahkan Jerman atau menimbulkan kerugian langsung adalah kenyataan yang konstan," tegasnya.

Meskipun menyampaikan peringatan yang sangat keras, Dobrindt sama sekali tidak menyebutkan identitas negara-negara tertentu yang dicurigai sebagai dalang di balik teror tersebut. Setelah drone bermuatan bahan peledak itu ditemukan di bandara wilayah timur Jerman pada hari Selasa, beberapa anggota parlemen Jerman langsung menuding Rusia.

Negara tersebut diketahui telah berperang dengan Ukraina sejak invasi militernya secara penuh pada tahun 2022 lalu.

Kedutaan Besar Rusia di Berlin pada hari Jumat dengan cepat menepis peristiwa Leipzig tersebut sebagai sebuah provokasi yang sengaja dibuat-buat. Pihak kedutaan menyebut bahwa insiden tersebut hanyalah contoh lain dari rentetan tuduhan tidak berdasar terhadap negaranya.

Mengutip sumber pemerintah, surat kabar Bild melaporkan bahwa kementerian yang dipimpin Dobrindt ingin menggandakan tim ahli anti-drone federal Jerman dari 150 menjadi 300 personel. Mereka juga berencana memperluas jaringan pangkalan terkait dari empat menjadi delapan titik, meski pihak kementerian belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai komentar.

Di sisi lain, angkatan bersenjata Jerman pada hari Sabtu melaporkan bahwa dua pesawat nirawak kembali terlihat terbang melintas pada Kamis malam. Drone tersebut terpantau mengudara tepat di atas situs pangkalan militer Jerman di Mechernich, negara bagian barat Rhine-Westphalia Utara.

Secara terpisah, Presiden Serbia Aleksandar Vucic memberikan pandangannya mengenai konflik ini dalam sebuah siniar Jerman. Ia berpendapat bahwa perang hibrida Rusia terhadap kekuatan Eropa pada dasarnya sama persis dengan apa yang selama ini telah dilakukan Eropa terhadap Rusia.

Vucic menyoroti tindakan kekuatan Eropa yang telah mempersenjatai Ukraina, menjatuhkan sanksi ekonomi pada Rusia, serta memberikan dukungan keuangan yang masif kepada Kyiv. Meskipun demikian, ia menyatakan kepada pembawa acara siniar MD MEETS sekaligus CEO Axel Springer, Mathias Dopfner, bahwa Ukraina bukanlah pihak yang memulai perang.

Ia mengingatkan publik agar tidak kebingungan dalam membedakan secara jelas mana pihak yang menjadi korban dan mana yang merupakan agresor sesungguhnya. Berdasarkan teks bahasa Jerman dari komentarnya, pemimpin Serbia itu mengaku tidak melihat perang antara Rusia dan Ukraina akan berakhir sebelum musim semi tahun depan akibat keengganan untuk saling berkompromi.

"Saya percaya kita berada di awal perang besar," paparnya.

Komentar Vucic di acara siniar tersebut muncul tepat setelah ia mengadakan pertemuan tatap muka dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada pekan ini. Dalam pertemuan krusial itu, Vucic secara terbuka berjanji untuk mendukung penuh kemerdekaan Ukraina dan akan terus berupaya meningkatkan hubungan ekonomi bilateral kedua belah pihak.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Potret Pesawat Kargo DHL Mendarat Darurat Usai Tabrak Objek Misterius


Most Popular
Features