MARKET DATA

Blak-blakan! Hunter Biden Akui Kontroversi Pengampunan Joe Biden

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
09 August 2026 10:45
Hunter Biden. (AP Photo)
Foto: Hunter Biden. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Putra mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, yaitu Hunter Biden mengakui bahwa keputusan sang Ayah yang menggunakan kewenangan presiden untuk membebaskannya dari ancaman hukuman pidana federal bukan merupakan pilihan yang baik bagi AS maupun warisan politik Joe Biden.

Hunter mengakui, kontroversi pengampunan hukum yang diberikan pada tahun 2024 lalu tak dapat lepas dari kritikan publik.

"Itu adalah sesuatu yang mudah dikritik dan memang ada alasannya," ungkapnya mengutip BBC Internasional, Minggu (9/8/2026).

Ia menyebut dirinya menjadi orang yang paling istimewa setelah menerima putusan pengampunan hukum yang menjadi buah upaya mantan orang nomor satu di negara adidaya tersebut.

"Itu tidak adil... Yang saya tahu hanyalah bahwa saya bersyukur ia melakukannya untuk saya," ucapnya.

Namun, menurutnya, kondisi akan berbeda jika sang Ayah tak membantunya. "Apa yang akan Anda pikirkan tentang ayah saya jika ia tidak melakukan itu untuk saya," sebutnya.

Ia menilai bahwa tindakan sang Ayah memiliki alasan lain, karena kekhawatirannya pada sasaran pemerintahan Donald Trump yang akan datang.

Meskipun demikian, Hunter Biden juga menegaskan bahwa ia dan ayahnya tidak pernah membicarakan kemungkinan pengampunan sebelum pengampunan itu diberikan.

"Tidak mungkin Anda bisa melakukan pembicaraan semacam itu tanpa menjadi konsumsi publik," katanya.

Sikap Biden dalam memberikan pengampunan penuh dan tanpa syarat kepada putranya pada Desember 2024 bertolak belakang pada pernyataannta yang berulang kali dikatakan bahwa dirinya tidak akan menggunakan kewenangan kepresidenan untuk campur tangan dalam kasus-kasus hukum putranya.

Saat mengumumkan keputusan tersebut, mantan presiden itu mengatakan bahwa putranya telah dituntut secara selektif dan tidak adil.

Pengampunan tersebut mencakup vonis federal atas kepemilikan senjata api yang dijatuhkan kepada putranya, kasus pajak yang telah ia akui bersalah, serta segala tindak pidana federal yang dilakukan antara tahun 2014 dan 2024.

Selain itu, Hunter juga bicara tentang kondisi kesehatan Biden yang mengalami penyakit kanker. "Kanker itu benar-benar berat," katanya.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi kanker yang diderita sang Ayah karena telah menyebar, bermetastasis ke tulang-tulangnya dan ke bagian lain. "Sungguh menyedihkan melihatnya," ucapnya.

Namun, Ia menekankan, diluar karir dan reputasinya di dunia politik, hingga hari ini, Biden tetap menjadi pusat keluarga. "Dia adalah ayah terbaik, suami terbaik, dan kakek terbaik," tegasnya.

"Satu-satunya hal yang ingin kukatakan tentang ayahku, mengenai kesehatannya saat ini, adalah aku berharap dia lebih sering mengeluh," lanjutnya.

Hunter Biden juga menyinggung debat presiden pada Juni 2024 lalu yang pada akhirnya mengakhiri kampanye pencalonan kembali ayahnya. Ia mengatakan telah menonton debat tersebut dari rumahnya di California dan langsung merasakan ada yang tidak beres.

"Saya terkejut. Saya tahu ada yang tidak beres," ungkapnya.

Hunter Biden sebelumnya berpendapat bahwa penampilan ayahnya yang buruk dalam debat tersebut mencerminkan kelelahan fisik setelah perjalanan yang melelahkan. Menyusul diagnosis kanker yang diderita Joe Biden, ia juga mempertanyakan kemungkinan penyakit tersebut sudah memengaruhi ayahnya.

Meskipun sang ayahnya kala itu tetap aktif dalam politik dan bertekad untuk terus berbicara di depan umum.

Di sisi lain, Hunter juga bercerita tentang kondisinya saat mengalami kecanduan alkohol dan narkotika yang parah. Ia menggambarkan bahwa pada masa terburuknya, ia mengonsumsi hampir satu galon vodka setiap hari sambil menghisap kokain crack hampir setiap 15 menit.

"Itu adalah neraka di dunia," katanya.

"Tidak ada yang glamor dari hal itu," sebutnya.

Saat merenungkan alasan mengapa ia terjerumus ke dalam narkoba dan alkohol, Hunter Biden menolak anggapan bahwa ia merasa kebal hukum karena statusnya sebagai putra seorang presiden.

"Saya tidak mencari apa pun kecuali pelarian," katanya.

Ia mengaku, bahwa kecanduannya merupakan cara untuk melarikan diri dari perasaan cemas dan terisolasi. "Narkoba dan alkohol awalnya terasa seperti solusi sebelum akhirnya menjadi "hal yang nyaris membunuhku", katanya.

Namun, ketika ditanya mengenai rumor bahwa ia mungkin akan terjun ke dunia politik, atau bahkan mencalonkan diri sebagai presiden, Hunter mengatakan bahwa ia sendiri tidak tertarik pada politik elektoral dan menepis segala spekulasi bahwa suatu hari nanti ia akan mencalonkan diri untuk jabatan publik.

Sebaliknya, Hunter mengatakan ia ingin mencurahkan waktunya untuk berbicara tentang kecanduan dan pemulihan, yang ia gambarkan sebagai isu yang mampu menjembatani perpecahan politik di Amerika.

"Saya yakin bahwa kecanduan dan harapan akan pemulihan adalah hal yang menghubungkan kita semua," katanya.

Ketika ditanya apa yang paling membuatnya bangga terhadap ayahnya, Hunter Biden tidak menyebut masa-masa ayahnya menjabat di pemerintahan, melainkan ketangguhannya.

"Saya paling bangga dengan ketangguhannya," katanya.

"Ia telah membuktikan berkali-kali bahwa ketika Anda terjatuh, Anda bisa bangkit kembali. "Ia adalah pria terkuat yang saya kenal," pungkasnya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Drama Negara Sekutu, Trump Klaim PM Italia Memohon Foto-Meloni Ngamuk


Most Popular
Features