MARKET DATA
Internasional

Israel Siap Ganggu Negosiasi AS-Iran, Netanyahu Janjikan Ini

luc,  CNBC Indonesia
06 August 2026 06:29
Presiden AS Donald Trump menunjuk ke arah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mereka berjabat tangan dalam konferensi pers setelah bertemu di klub Mar-a-Lago milik Trump di Palm Beach, Florida, AS, Senin (29/12/2025). (REUTERS/Jonathan Ern
Foto: Presiden AS Donald Trump menunjuk ke arah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mereka berjabat tangan dalam konferensi pers setelah bertemu di klub Mar-a-Lago milik Trump di Palm Beach, Florida, AS, Senin (29/12/2025). (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan kemungkinan Israel mengambil tindakan militer secara sepihak terhadap Iran di tengah berlanjutnya upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan antara Teheran dan Washington.

Pernyataan Netanyahu disampaikan pada Rabu (5/8/2026) ketika proses mediasi antara Amerika Serikat dan Iran disebut telah memasuki tahap lanjut.

"Kami mendengar hari ini komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran berniat melanjutkan pengembangan senjata nuklir," kata Netanyahu, dilansir Anadolu Agency.

Ia menegaskan bahwa sebagai pemimpin Israel, dirinya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Netanyahu juga menyinggung hubungan erat negaranya dengan AS. "Amerika Serikat adalah sekutu terbesar Israel," katanya.

Meski demikian, Netanyahu menegaskan Israel siap bertindak demi menjamin keamanannya sendiri.

Pernyataan tersebut muncul ketika proses diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berlangsung.

Pada Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari mengatakan bahwa upaya mediasi antara Washington dan Teheran telah mencapai "tahap lanjut". Menurut Al-Ansari, kedua pihak saat ini telah saling bertukar rancangan proposal sebagai bagian dari proses negosiasi.

Berbicara dalam konferensi pers mingguan Kementerian Luar Negeri Qatar, Al-Ansari mengatakan berbagai upaya masih dilakukan bersama seluruh pihak yang terlibat untuk mencapai solusi diplomatik.

Ia menyebut pembicaraan masih terus berlangsung dengan tujuan mengakhiri konflik melalui jalur perundingan.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran dimulai pada 28 Februari ketika Washington dan Tel Aviv melancarkan perang terhadap Iran. Menurut otoritas Iran, lebih dari 3.000 orang tewas akibat konflik tersebut.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah negara kawasan yang menjadi lokasi aset-aset milik AS.

Pada Juni, Qatar bergabung dengan Pakistan dalam tim mediasi yang berupaya mempertemukan Washington dan Teheran. Upaya tersebut menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni dan menjadi dasar dimulainya perundingan menuju kesepakatan final.

Namun proses negosiasi kemudian mengalami kebuntuan. Perbedaan pandangan mengenai keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menghambat kemajuan pembicaraan.

Ketegangan kembali meningkat pada periode 8 Juli hingga 24 Juli. Pada rentang waktu tersebut, AS melancarkan serangan terhadap Iran.

Sebagai balasan, Teheran menargetkan apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab. Iran secara khusus menyebut Yordania, Bahrain, dan Kuwait sebagai lokasi aset-aset AS yang menjadi sasaran serangan balasan tersebut.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Diam-Diam Bantu Iran Lawan Rencana Kotor Israel


Most Popular
Features