MARKET DATA
Siaga El Nino Sangat Kuat

Kepala BMKG Ingatkan Bahaya El Nino, Pernah Bikin Inflasi "Meledak"

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
04 August 2026 12:35
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat menyampaikan paparannya di acara Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat menyampaikan paparannya di acara Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan fenomena El Nino tidak hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga dapat memicu tekanan inflasi melalui gangguan terhadap sektor pangan, sumber daya air, energi, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, El Nino yang terjadi tahun ini telah memasuki kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang sehingga meningkatkan risiko terhadap berbagai sektor.

"(El Nino) tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian, tapi juga pada penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, kelautan, hingga ekonomi masyarakat," kata Faisal dalam paparannya di acara Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, dampak El Nino terhadap sektor pangan berpotensi menurunkan produksi akibat terganggunya kalender tanam. Sementara di sektor sumber daya air, ketersediaan air baku dapat menurun, kapasitas waduk berkurang, hingga jaringan irigasi terganggu.

"Kemudian untuk sektor pangan risikonya penurunan produksi dan gangguan kalender tanam. Untuk sektor sumber daya air, ketersediaan air baku menurun, kapasitas waduk berkurang dan jaringan irigasi terganggu. Jadi kita sudah saat ini sedang melakukan operasi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk-waduk di Pulau Jawa," ujarnya.

BMKG juga mengingatkan dampak El Nino terhadap inflasi pernah terjadi pada sejumlah periode sebelumnya. Berdasarkan catatan BMKG, saat El Nino sangat kuat pada 2015, kebakaran hutan dan lahan mencapai sekitar 2,4 juta hektare dan inflasi berada di kisaran 6%-7%.

Sementara pada El Nino 2019, luas karhutla turun menjadi sekitar separuh dari 2015, dengan inflasi tercatat sebesar 2,72%. Adapun pada El Nino kuat 2023, kebakaran hutan masih melampaui 1 juta hektare, sedangkan inflasi berada di level sekitar 1,8%.

"Kita lihat bahwa pada saat tahun 2015, karhutla yang terjadi adalah 2,4 juta hektar dan juga terjadi inflasi 6%-7%. Kemudian ketika di tahun 2019 karhutlanya berkurang sampai separuh lebih ya, kemudian inflasi 2,72%, dan El Nino kuat di 2023 kebakaran hutan tetap terjadi lebih dari 1 juta hektar dan inflasi terjadi walaupun lebih rendah 1,8%," jelas dia.

Menurutnya, pemerintah kini menerapkan pendekatan yang berbeda dibandingkan saat menghadapi El Nino pada 2015. Jika sebelumnya penanganan lebih berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi, kini upaya pencegahan dilakukan lebih awal melalui operasi modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan lahan gambut.

"Kalau dulu kita hanya menunggu terbakar kemudian kita padamkan, tapi sekarang kita coba sebelum terbakar. Kementerian Lingkungan Hidup memiliki data fluktuasi muka air di tanah gambut. Kalau kurang dari 1 meter maka BMKG bekerja sama dengan BNPB itu melakukan operasi modifikasi cuaca ya untuk menaikkan muka air, menjenuhkan tanah sehingga lebih sulit untuk terbakar," katanya.

Selain itu, BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi waduk-waduk yang mengalami kekeringan guna menjaga pasokan air baku, irigasi, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Faisal menegaskan, pemerintah telah mempersiapkan langkah antisipasi menghadapi El Nino jauh sebelum rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto digelar pekan lalu.

"Jadi di sini untuk meluruskan, persiapan kita bukan dimulai sejak rapat minggu lalu yang dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, itu adalah kelanjutan dari koordinasi yang telah dilaksanakan sejak berbulan-bulan yang lalu," pungkasnya.

Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Pemutakhiran: Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG)Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Pemutakhiran: Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG) Foto: Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Pemutakhiran: Juli III 2026, Berlaku untuk Dasarian I Agustus 2026 dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, dirilis BMKG pada 3 Agustus 2026. (Dok. BMKG)

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 7 Provinsi Kena Peringatan BMKG Siaga 1 Efek Panas Mendidih Kemarau


Most Popular
Features