MARKET DATA
Internasional

China Tolak Tuduhan Banjiri Dunia dengan Produk Murah, Singgung AS-UE

sef,  CNBC Indonesia
03 August 2026 18:35
Hampir 1 dari 2 Barang Impor Indonesia Made in China: Yakin Sudah Merdeka?
Foto: Infografis/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China secara resmi membantah tudingan negara-negara Barat bahwa Negeri Tirai Bambu mengalami kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) dan membanjiri pasar global dengan produk murah. Dalam sebuah white paper terbaru, Beijing menyebut tuduhan tersebut sebagai dalih untuk membenarkan kebijakan proteksionisme terhadap produk-produk China.

Dokumen kebijakan tersebut menegaskan bahwa isu overcapacity telah dipolitisasi oleh sejumlah negara yang khawatir kehilangan daya saing industri. Menurut China, persoalan kapasitas produksi seharusnya dipandang secara objektif berdasarkan mekanisme pasar, bukan dijadikan alat untuk membatasi perdagangan internasional.

"Proteksionisme hanya akan mengganggu tatanan perdagangan global, merusak stabilitas rantai pasok dunia, dan menciptakan risiko jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi global," tulis pemerintah China dalam dokumen tersebut, dilihat CNBC Indonesia, Senin (3/7/2026).

Beijing juga menegaskan bahwa hingga saat ini Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) maupun Dana Moneter Internasional (IMF) tidak memiliki definisi resmi mengenai overcapacity. Karena itu, China menilai sejumlah negara menggunakan standar yang dibuat sendiri untuk kepentingan geopolitik.

Balik Soroti Subsidi AS dan Uni Eropa

Dalam dokumen itu, China juga membalas kritik mengenai subsidi industri yang selama ini diarahkan kepada Beijing. Menurut pemerintah China, subsidi bukanlah penyebab otomatis terjadinya kelebihan kapasitas produksi.

Sebaliknya, banyak negara maju juga memberikan bantuan besar kepada industrinya. China mencontohkan Amerika Serikat melalui Inflation Reduction Act (IRA) mengalokasikan sekitar US$750 miliarberbagai bentuk subsidi pada periode 2022-2031.

Sementara itu, Uni Eropa disebut menyiapkan sekitar €1,44 triliunsubsidi pada 2021-2030. Beijing menilai negara-negara besar seharusnya memastikan kebijakan subsidinya sesuai aturan WTO dan tidak digunakan untuk menghambat perkembangan negara lain.

Surplus Dagang Bukan Bukti Overcapacity

China juga membantah anggapan bahwa surplus perdagangan mencerminkan kelebihan kapasitas produksi. Menurut Beijing, banyak negara industri seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris pernah menikmati surplus perdagangan dalam waktu lama.

Bahkan, Uni Eropa juga mencatat surplus besar di sektor otomotif, farmasi, dan kosmetik. China menegaskan pertumbuhan ekspornya didorong oleh meningkatnya inovasi, efisiensi manufaktur, serta tingginya permintaan global terhadap kendaraan listrik, panel surya, dan baterai.

Pemerintah China juga mengklaim tidak sengaja mengejar surplus perdagangan. Sebaliknya, China disebut telah menjadi importir terbesar kedua dunia selama 17 tahun berturut-turut serta memberikan fasilitas tarif nol persen kepada puluhan negara berkembang.

Tolak Narasi "China Shock 2.0"

Dalam white paper tersebut, Beijing juga menolak narasi "China Shock 2.0" yang belakangan banyak digunakan di Barat untuk menggambarkan membanjirnya produk-produk manufaktur China. China justru menyebut perkembangan industrinya sebagai "China Opportunity 2.0", yakni peluang baru bagi dunia melalui inovasi teknologi, transisi energi hijau, serta investasi di negara berkembang.

Beijing mengklaim industri kendaraan listrik, baterai lithium, kecerdasan buatan (AI), hingga energi terbarukan berkembang berkat investasi riset yang besar dan persaingan pasar domestik yang sangat kompetitif, bukan semata-mata karena subsidi pemerintah. Di akhir dokumen, China menyerukan agar seluruh negara mempertahankan sistem perdagangan bebas, memperkuat WTO, menolak proteksionisme, serta menjaga kelancaran rantai pasok global melalui kerja sama internasional.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article China Siaga di Hadapan AS-Eropa, Muncul "Garis Merah" Ekonomi


Most Popular
Features