MARKET DATA

BMKG Tiba-Tiba Beri Peringatan Soal Pasokan Listrik, Ada Apa?

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
31 July 2026 14:05
Foto udara suasana PLTA Rajamandala di Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (11/11/2021). PLTA Rajamandala memiliki kepasitas 47 Megawatt (MW) ini beroperasi sejak Mei 2019. PLTA Rajamandala memanfaatkan aliran sungai
Foto: PLTA Rajamandala (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi lonjakan konsumsi listrik nasional seiring fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027. Kondisi cuaca yang lebih panas saat musim kemarau diproyeksikan mendorong penggunaan pendingin ruangan secara masif, sementara di sisi lain pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menghadapi ancaman berkurangnya debit air.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan informasi prakiraan curah hujan menjadi faktor penting bagi pengelola PLTA untuk mengatur pemanfaatan cadangan air selama periode kemarau.

"Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya," kata Ardhasena dalam konferensi pers dikutip Jumat, (31/7/2026).

Kenaikan suhu udara selama musim kemarau akan meningkatkan beban puncak listrik karena penggunaan alat pendingin ruangan oleh masyarakat semakin tinggi. Pada saat bersamaan, kemampuan PLTA menghasilkan listrik berpotensi menurun apabila permukaan air waduk dan danau terus berkurang.

BMKG meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), hingga pengelola bendungan menjadikan pembaruan informasi iklim sebagai dasar dalam mengatur operasi turbin dan alokasi air agar pasokan listrik tetap terjaga selama musim kemarau.

"Manajemen alokasi air yang presisi dinilai menjadi kunci utama agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau," katanya.

Langkah antisipasi sejak awal akan membantu menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional meski menghadapi tekanan cuaca panas akibat El Nino.

Di sisi lain, BMKG juga memperbarui proyeksi perkembangan El Nino. Fenomena tersebut diperkirakan masih bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dengan peluang berkembang melampaui kategori kuat. Berdasarkan analisis BMKG, indeks El Nino diproyeksikan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027 sehingga potensi dampaknya terhadap iklim nasional perlu terus diwaspadai.

Pemantauan hingga dasarian terakhir Juli 2026 menunjukkan musim kemarau semakin menguat. BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan wilayah yang masih mengalami musim hujan tersisa 77 Zona Musim.

Wilayah selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua kini didominasi kondisi kering dengan tingkat Hari Tanpa Hujan (HTH) yang bervariasi, mulai dari kategori 21 hari hingga lebih dari 60 hari tanpa hujan.

"Kondisi tersebut sesuai pola klimatologis Indonesia, dimana musim kemarau umumnya bermula dari Nusa Tenggara Timur, kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat," ujar Ardhasena.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BMKG Kasih Update El Nino, Kapan Musim Kemarau di RI Berakhir?


Most Popular
Features