Harga BBM Biosolar B50 di SPBU Pertamina, Berlaku 31 Juli 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sudah meluncurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dengan campuran 50% minyak sawit atau dikenal dengan Biodiesel (B50) beberapa waktu yang lalu.
Peluncuran B50 ini merupakan agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan kedaulatan energi Indonesia.
Dalam catatan PT Pertamina Patra Niaga sudah ada sebanyak 82% SPBU Pertamina telah menyalurkan B50 sejak implementasinya dimulai pada 1 Juli 2026.
"Jadi mungkin sampai September, September kita akan 100% untuk B50 available in this country. Itu mungkin yang challenge nanti," kata Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia, beberapa waktu yang lalu, Jumat (24/7/2026).
Lantas Berapa harganya?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menjelaskan, pencampuran biodiesel dari FAME sebesar 50% pada minyak Solar ini berlaku untuk berbagai sektor, termasuk BBM non subsidi.
Tak hanya BBM bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), penggunaan BBM B50 juga berlaku di sektor pertambangan, pertanian, perikanan dan kelautan, perkeretaapian, serta transportasi laut.
Harga BBM Biosolar B50 ini pada dasarnya sama dengan harga BBM Solar subsidi yang memang sudah ditetapkan pemerintah.
Yang membedakan kali ini yaitu besaran persentase volume biodiesel atau FAME pada minyak Solar. Sebelumnya, Biosolar berisi campuran 40% biodiesel atau B40. Namun, kini kandungan biodiesel ditingkatkan menjadi 50% alias B50. Artinya, dalam satu liter BBM Solar saat ini terdiri dari 50% minyak Solar dan 50% biodiesel atau FAME.
"Untuk B50 ini untuk konsumsi domestik khususnya yang kena subsidi kepada saudara-saudara kita yang kena subsidi tetap harganya Rp6.800/liter. Jadi tidak ada penambahan harga dan ini adalah bagian daripada strategi untuk mendorong net zero emission kita, karena dengan ini mampu menurunkan CO2 kurang lebih sekitar 44 juta metrik ton," terang Bahlil.
Sebagi penjelasan, harga jual yang dibanderol ke masyarakat tetap berpatokan pada harga BBM subsÃdi yang ditetapkan oleh pemerintah. Bila produknya non subsidi, maka harganya akan ditentukan oleh badan usaha sesuai dengan formula yang ditetapkan pemerintah.
Untuk harga keekonomian, BBM B50 ini artinya akan mengikuti harga keekonomian minyak Solar dan juga biodiesel atau FAME.
Saat ini harga keekonomian minyak Solar di kisaran Rp 19.000-Rp 21.000-an per liter. Adapun, untuk harga biodiesel biasanya ditetapkan pemerintah setiap bulannya.
HIP Biodiesel
Kementerian ESDM resmi menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) untuk Juli 2026 sebesar Rp14.562 per liter + ongkos angkut. Perhitungan HIP biodiesel mengacu pada formula (Harga CPO KPB rata-rata + US$ 85 per ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut.
Harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) KPB periode 25 Mei hingga 24 Juni 2026 sebesar Rp15.217 per kg. Nilai konversi bahan baku biodiesel ditetapkan sebesar US$85 per metrik ton, sedangkan faktor konversi dari kilogram ke liter sebesar 870 kg/m3.
Adapun besaran ongkos angkut mengikuti Keputusan Menteri ESDM Nomor 290.K/EK.05/MEM.E/2025, sedangkan kurs yang digunakan mengacu pada rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 25 Mei-24 Juni 2026 sebesar Rp17.895 per US$.
Harga BBM di SPBU Pertamina (DKI Jakarta):
Pertalite: Rp10.000 per liter
Solar Subsidi: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp16.250 per liter
Pertamax Green 95: Rp17.000 per liter
Pertamax Turbo: 19.300 per liter
Dexlite: Rp19.700 per liter
Pertamina Dex: Rp21.150 per liter
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]