CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Kondisi Kian Sulit, Raksasa Otomotif Ini Mau PHK Ribuan Karyawan

luc,  CNBC Indonesia
29 July 2026 21:40
A man photographs BMW cars on display at the New York Auto Show in the Manhattan borough of New York City, New York, U.S., March 28, 2018. REUTERS/Brendan McDermid
Foto: REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa otomotif, BMW, mengumumkan akan memangkas ribuan pekerja di Jerman hingga akhir 2027 melalui program pengunduran diri sukarela. Langkah ini menjadikan BMW sebagai produsen mobil terbaru yang melakukan efisiensi tenaga kerja di tengah tekanan laba, melemahnya permintaan pasar, serta perubahan besar yang sedang melanda industri otomotif global.

Mengutip Reuters, Rabu (29/7/2026), program pesangon sukarela tersebut telah disepakati antara manajemen BMW dan dewan pekerja perusahaan. Program ini akan menyasar karyawan di divisi administrasi dan pengembangan, sementara operasional produksi tidak termasuk dalam rencana pengurangan tenaga kerja tersebut.

Juru bicara BMW mengatakan program tersebut difokuskan pada area non-produksi. Sementara itu, seorang sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut jumlah tenaga kerja yang akan berkurang diperkirakan mencapai sekitar 8.000 orang.

BMW yang berbasis di Munich saat ini mempekerjakan sekitar 150.000 karyawan di seluruh dunia.

Adapun langkah BMW terjadi ketika industri otomotif Jerman menghadapi tekanan berat dari berbagai arah, mulai dari mahalnya transisi menuju kendaraan listrik, persaingan ketat dari produsen China hingga tarif impor Amerika Serikat.

Sebelumnya, Volkswagen dan Mercedes-Benz telah lebih dahulu mencapai kesepakatan untuk memangkas puluhan ribu pekerja.

Awal pekan ini, produsen mobil sport Porsche, yang merupakan bagian dari Grup Volkswagen, juga memperluas program restrukturisasinya dengan target memangkas sekitar 20% tenaga kerja hingga 2035.

Di saat yang sama, ribuan pekerja melakukan aksi protes di pabrik Audi di Neckarsulm pada Rabu. Audi, yang juga berada di bawah Grup Volkswagen, menghadapi ancaman penutupan fasilitas sebagai bagian dari rencana restrukturisasi perusahaan induknya.

Selama ini BMW kerap dipandang sebagai salah satu produsen mobil Jerman yang relatif lebih stabil dibanding para pesaingnya. Namun kondisi pasar yang memburuk, terutama di China, mulai memberikan tekanan besar terhadap kinerja perusahaan.

Pada Juni lalu, BMW memangkas proyeksi labanya untuk tahun berjalan setelah bisnisnya di China menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.

Penjualan kendaraan di pasar otomotif terbesar dunia tersebut mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir, menambah tekanan terhadap produsen mobil global yang selama bertahun-tahun mengandalkan pertumbuhan dari China.

Setelah memangkas target laba, Chief Executive BMW Milan Nedeljkovic mengatakan perusahaan akan mempercepat dan memperkuat upaya efisiensi biaya yang telah berjalan.

Dalam pertemuan dengan para pekerja pada Rabu, Nedeljkovic menegaskan bahwa industri otomotif sedang mengalami perubahan mendasar yang memengaruhi model bisnis BMW.

Menurut seorang peserta rapat pekerja di Munich yang mengetahui isi pertemuan tersebut, Nedeljkovic mengatakan aturan yang selama ini menjadi dasar industri otomotif telah berubah secara signifikan.

CEO BMW itu juga memperingatkan bahwa perusahaan akan menghadapi masa yang penuh tantangan ke depan.

Meski demikian, ia menegaskan langkah-langkah efisiensi tersebut diperlukan agar BMW dapat meningkatkan profitabilitasnya di masa depan.

Menurut sumber yang hadir dalam pertemuan itu, Nedeljkovic menyampaikan bahwa langkah restrukturisasi penting dilakukan untuk memastikan BMW menjadi perusahaan yang lebih menguntungkan.

Pengumuman pemangkasan tenaga kerja ini muncul sehari sebelum BMW dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal kedua pada Kamis, yang akan menjadi indikator penting untuk melihat seberapa besar tekanan yang saat ini dihadapi produsen mobil premium asal Jerman tersebut.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Raksasa Otomotif PHK 9.000 Orang, Tumbang karena China & Mobil Listrik


Most Popular
Features