AS Minggir Dulu, Ada Kabar Baik Selat Hormuz dari Iran-Oman & Saudi
Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dikabarkan mulai membuka jalur komunikasi dengan Arab Saudi dan Oman terkait masa depan Selat Hormuz. Langkah ini memunculkan harapan baru bagi stabilitas kawasan sekaligus menjaga keamanan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.
Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon secara terpisah dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi. Meski demikian, Amerika Serikat (AS) tak dilibatkan dalam negosiasi.
Dalam keterangannya, Teheran menyebut pembicaraan tersebut membahas perkembangan bilateral dan regional terkini. Termasuk, kata Iran, Teheran menegaskan pentingnya kerja sama untuk menjaga stabilitas kawasan.
"Perlu memperkuat kerja sama dan memajukan upaya diplomatik bersama untuk menciptakan stabilitas di kawasan serta menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz yang disebabkan oleh tindakan agresif Amerika Serikat," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dikutip CNBC International, Rabu (29/7/2026).
Menurut laporan Reuters, Oman juga telah mengajukan rancangan pengelolaan masa depan Selat Hormuz kepada Iran dengan dukungan negara-negara Teluk. Skema tersebut mengusulkan penerapan biaya sukarela bagi kapal yang melintas, menggantikan pungutan wajib yang selama ini diterapkan Teheran.
Model itu disebut mengadopsi mekanisme yang telah diterapkan di Selat Malaka, di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengajak kapal-kapal yang melintas untuk berkontribusi secara sukarela dalam pembiayaan keselamatan navigasi, perlindungan lingkungan, hingga operasi pencarian dan penyelamatan.
Perkembangan tersebut terjadi ketika ketegangan antara AS dan Iran mulai mereda setelah kedua pihak menghentikan aksi saling serang yang berlangsung selama sekitar dua pekan. Sentimen positif langsung tercermin di pasar global, ditandai dengan penguatan indeks saham dan pelemahan harga minyak karena meningkatnya optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen.
Meski demikian, situasi keamanan di Timur Tengah belum sepenuhnya kondusif. Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat sejumlah drone yang diduga diluncurkan oleh kelompok milisi yang didukung Iran di Irak dengan sasaran fasilitas minyak milik kerajaan.
Namun, hingga kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kelompok Houthi di Yaman justru mengklaim telah menyerang fasilitas minyak Arab Saudi, sehingga identitas pelaku di balik insiden drone itu masih belum dapat dipastikan. Sementara itu, militer Yordania juga mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone yang memasuki wilayah udaranya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyambut positif perkembangan komunikasi dengan Iran. Ia menyebut tengah berlangsung "pembicaraan yang bagus" meski Kementerian Luar Negeri Iran kembali membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan menegaskan komunikasi hanya dilakukan melalui perantara.
Meski dalam perkembangan terbaru Rabu ini, militer AS menyatakan ada "serangan mendadak" Iran ke militer AS. Di mana empat rudal balistik ditembakkan walau bisa dihalau pasukan Washington.
source on Google [Gambas:Video CNBC]