"Pemberontak" di Dalam Iran Mulai Bikin Panik, Negara Tetangga Teriak
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang demonstrasi dan gejolak politik yang melanda kawasan barat Iran berdampak signifikan terhadap wilayah Kurdistan di Irak. Hubungan erat dari segi geografi, politik, dan keamanan menjadi pemicu utama, terutama karena banyak pemimpin partai Kurdi Iran bermarkas di wilayah Kurdistan Irak.
Mengutip laporan An Nahar, Senin (27/07/2026), Serikat Importir mengumumkan penurunan tajam impor komoditas dari Iran hingga tersisa hampir separuh dari level biasanya. Di saat yang sama, berbagai organisasi hak asasi manusia melaporkan bahwa pemerintah Iran bergerak cepat membangun tembok keamanan sepanjang lebih dari 600 kilometer di sepanjang perbatasan dengan kawasan Kurdistan Irak.
Aksi protes yang bermula pada hari terakhir tahun lalu tersebut dengan cepat meluas, khususnya di wilayah barat Iran yang didominasi warga etnis Kurdi. Laporan hak asasi manusia mencatat setidaknya empat pengunjuk rasa Kurdi tewas di Kota Malekshahi, Provinsi Ilam.
Para saksi mata mengungkapkan bahwa patroli militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melepaskan tembakan langsung ke arah massa saat demonstrasi melintas di dekat bangunan pemerintah di pusat kota. Serangan tersebut menewaskan empat orang dan melukai lebih dari 20 orang pengunjuk rasa lainnya.
Partai Kurdi Iran, Komala, mengecam keras tindakan brutal Garda Revolusi dan merilis imbauan agar masyarakat memperluas aksi jalanan.
"Krisis ekonomi mendalam yang disebabkan oleh kebijakan rezim Iran yang gagal dan destruktif telah memicu pemberontakan berlatar ekonomi. Gerakan ini dengan cepat meluas ke berbagai kota dan provinsi hingga berkembang menjadi aksi protes berkarakter politik," tegas pernyataan resmi Partai Komala.
"Pemberontakan Kurdistan Timur telah dimulai di Provinsi Kermanshah dan Ilam. Kami menyerukan kepada seluruh warga Kurdi Iran untuk memberikan segala bentuk dukungan bagi pemberontakan ini dan memperluasnya ke kota-kota lain," ancam anggota dewan pimpinan PJAK, Rivar Abdanan, dalam pernyataan videonya.
Dilema Perjanjian Keamanan dan Peta Politisi Kurdi
Pernyataan keras dari partai-partai politik Kurdi Iran ini menjadi yang pertama kali terjadi sejak Irak dan Iran menandatangani perjanjian keamanan beberapa bulan lalu. Di bawah kesepakatan tersebut, markas, kamp, dan pemukiman puluhan ribu warga Kurdi Iran telah direlokasi dari area perbatasan ke wilayah Kurdistan Irak yang lebih dalam, disertai komitmen untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran dari wilayah Irak.
Kesepakatan bilateral tersebut sebelumnya dicapai guna meredakan krisis politik dan keamanan serius, di mana Iran berulang kali meluncurkan serangan bom ke kota-kota di kawasan Kurdistan Irak.
Peneliti politik dan penulis Suwar Hasani menjelaskan bahwa terdapat tiga isu saling terhubung antara Iran dan Kurdistan Irak yang akan terdampak parah jika protes terus membesar. Wilayah barat Iran sendiri diperkirakan dihuni oleh sekitar delapan juta warga etnis Kurdi.
"Tiga berkas yang saling terhubung antara Iran dan wilayah Kurdistan akan terdampak secara signifikan jika aksi protes terus menghebat, terutama di Iran barat yang dihuni sekitar delapan juta warga Kurdi," terang peneliti politik dan penulis Suwar Hasani kepada An Nahar.
"Iran merupakan hambatan utama dalam memperbaiki hubungan antara wilayah Kurdistan dan pemerintah federal Irak, terutama terkait isu-isu strategis seperti minyak dan gas. Teheran khawatir bahwa perkembangan pesat di Kurdistan Irak akan meningkatkan daya tariknya bagi populasi Kurdi di Iran sendiri," lanjut Suwar Hasani menambahkan.
Hasani menambahkan bahwa Iran terlibat sangat dalam pada politik internal Kurdistan Irak dengan mendukung satu partai besar untuk melawan partai lainnya. Gejolak dan kerusuhan internal yang kini melanda Iran diprediksi dapat merusak keseimbangan politik tersebut, sebagaimana yang telah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]