MARKET DATA
Internasional

Siaga PD3 Depan Mata, Perang Rusia-Ukraina Melebar ke Perang AS-Iran

sef,  CNBC Indonesia
27 July 2026 10:07
Ledakan di lokasi yang tidak diketahui, selama apa yang dikatakan Komando Pusat AS (CENTCOM) sebagai serangan terhadap Iran, dalam tangkapan layar ini yang diambil dari video yang dirilis pada 20 Juli 2026. (via REUTERS/U.S. Central Command)
Foto: Ilustrasi (via REUTERS/U.S. Central Command)

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik Rusia-Ukraina kini mulai bersinggungan langsung dengan ketegangan di Timur Tengah. Laporan CNBC International menyebut Iran menuduh Ukraina melakukan serangan terhadap kapal dagangnya di Laut Kaspia, yang menewaskan satu pelaut dan melukai beberapa lainnya.

Kementerian Luar Negeri Iran bahkan memanggil kuasa usaha (chargé d'affaires) Ukraina di Teheran untuk menyampaikan protes keras atas insiden tersebut, Minggu waktu setempat. Pemerintah Iran menyebut serangan itu sebagai tindakan bermusuhan dan kriminal.

"Menyampaikan protes keras Iran atas tindakan bermusuhan dan kriminal tersebut," demikian dilaporkan laman itu mengutip Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA), Senin (27/7/2026).

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi pasukannya melakukan serangan jarak jauh di Laut Kaspia. Dalam unggahannya di media sosial X, Zelenskyy mengatakan serangan tersebut menargetkan kapal-kapal yang digunakan untuk mengangkut logistik militer yang melibatkan Iran, termasuk sebuah kapal perang.

Selama perang melawan Ukraina, Rusia disebut banyak menggunakan drone Shahed buatan Iran. Drone tersebut menjadi salah satu senjata andalan Moskow dalam menyerang berbagai wilayah Ukraina.

Serangan terbaru ini dinilai memperluas cakupan konflik, terlebih ketika Arab Saudi juga meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Masih mengutip laman yang sama, pertahanan udara Arab Saudi dilaporkan berhasil mencegat dua rudal balistik yang ditembakkan dari Yaman pada Sabtu.

Ketegangan di Laut Merah dan Laut Kaspia kini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dan perang Ukraina semakin saling terkait. Di tengah eskalasi yang meningkat, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump justru menghentikan sementara serangan militer terhadap Iran guna memberi ruang bagi jalur diplomasi.

Iran Bicara ke Rusia

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dirinya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov terkait respons terhadap serangan tersebut. Ia juga sudah menghubungi Uni Eropa (UE).

"Dalam pembicaraan dengan Uni Eropa dan Rusia, saya menegaskan bahwa apa yang dilakukan Kyiv tidak bisa dibiarkan tanpa balasan," tulis Araghchi di platform X.

Sebelumnya, harapan pasar terhadap kemungkinan dibukanya kembali jalur diplomasi turut menekan harga minyak dunia pada Jumat. Minyak Brent ditutup turun hampir 4% ke level US$96,78 per barel sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 3% menjadi US$89,31 per barel.

Tiga sumber Reuters sebelumnya menyebut Pakistan tengah berupaya memfasilitasi dimulainya kembali dialog antara Amerika Serikat dan Iran. Disebut China juga memberi dukungan.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Gencatan Senjata Buyar, Ini Skenario Terbaru Perang AS-Iran


Most Popular
Features