CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Jepang Temukan 'Harta Karun' di Dasar Laut, China Bisa Ketar-ketir

sef,  CNBC Indonesia
24 July 2026 21:10
Beberapa pulau yang disengketakan, pulau Uotsuri (atas), Minamikojima (bawah) dan Kitakojima, yang dikenal sebagai Senkaku di Jepang dan Diaoyu di Tiongkok terlihat di Laut Cina Timur, dalam foto ini diambil oleh Kyodo September 2012. (REUTERS/KYODO
Foto: Ilustrasi (REUTERS/KYODO Kyodo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang menemukan potensi besar logam tanah jarang (rare earth) di dasar laut dekat pulau terpencil di Samudra Pasifik. Temuan ini berpotensi mengurangi ketergantungan Negeri Sakura terhadap pasokan logam strategis dari China.

Mengutip Reuters, Jumat (24/7/2026), pemerintah Jepang mengungkap hasil analisis lumpur dasar laut yang diambil dari perairan sekitar Pulau Minamitori. Analisis menunjukkan sekitar 54% kandungan rare earth dalam lumpur tersebut terdiri dari unsur logam tanah jarang kategori menengah dan berat yang bernilai tinggi.

Meski demikian, pemerintah belum mengungkapkan besarnya cadangan yang ditemukan. Alasannya, pengambilan sampel masih terbatas baik dari sisi lokasi maupun durasi penelitian sehingga datanya belum cukup untuk menghitung total deposit.

Sampel tersebut diambil menggunakan kapal pengeboran ilmiah Chikyu dalam misi selama satu bulan yang selesai pada Februari 2026. Lokasi pengeboran berada sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo, dengan kedalaman sekitar 6 kilometer di bawah permukaan laut.

Misi itu menjadi yang pertama di dunia yang berhasil mengangkat lumpur dasar laut yang mengandung logam tanah jarang secara berkelanjutan dari kedalaman ekstrem. Temuan ini datang di saat Jepang berupaya mendiversifikasi sumber mineral kritis setelah China memperketat pembatasan ekspor logam tanah jarang berat dan magnet terkait.

Perlu diketahui rare earth saat ini dianggap bak harta karun baru bumi. Bahan baku tersebut sangat penting bagi industri pertahanan, kendaraan listrik, hingga semikonduktor.

Dari sekitar 50 ton lumpur yang berhasil diangkat, para peneliti menemukan sejumlah unsur bernilai tinggi, seperti yttrium yang digunakan dalam industri kedirgantaraan, energi, dan semikonduktor. Selain itu, ditemukan pula gadolinium yang dimanfaatkan untuk mesin magnetic resonance imaging (MRI) dan berbagai perangkat teknologi tinggi, serta dysprosium, unsur penting dalam pembuatan magnet berkinerja tinggi untuk kendaraan listrik.

Pemerintah Jepang berencana melanjutkan proyek ini dengan uji coba penambangan skala besar pada Februari 2027. Dalam tahap tersebut, Jepang menargetkan mampu mengeruk sekitar 350 ton lumpur per hari dari dasar laut.

Material yang diangkat akan dikeringkan di Pulau Minamitori sebelum diproses di daratan utama Jepang. Tahapan itu dilakukan untuk menguji teknologi pemisahan, pemurnian, dan peleburan logam tanah jarang.

Manajer proyek dari Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), Kazushige Kikuchi, mengatakan uji coba tersebut akan menjadi dasar untuk menilai kelayakan produksi logam tanah jarang dalam negeri. Pemerintah menargetkan evaluasi menyeluruh mengenai potensi industrialisasi proyek ini rampung pada Maret 2028.

Langkah Jepang ini dinilai strategis di tengah meningkatnya persaingan penguasaan mineral kritis dunia. Sejak April 2025, China memberlakukan pembatasan ekspor sejumlah logam tanah jarang berat dan magnet terkait, kemudian memperketat lagi ekspor ke Jepang pada Januari 2026, termasuk terhadap sejumlah konglomerasi besar.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China "Hukum" Jepang, Perusahaan hingga Lembaga Riset Kena Gebuk


Most Popular
Features