CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

'Tangan Kanan' Trump & Putin Bertemu di Tetangga RI, Ada Apa?

tps,  CNBC Indonesia
24 July 2026 06:10
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, penasihat kebijakan luar negeri Presiden Rusia Vladimir Putin Yuri Ushakov, dan anggota delegasi menghadiri pembicaraan di Istana Diriyah di Riyadh, Arab Saudi, 18 Februari
Foto: Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, penasihat kebijakan luar negeri Presiden Rusia Vladimir Putin Yuri Ushakov, dan anggota delegasi menghadiri pembicaraan di Istana Diriyah di Riyadh, Arab Saudi, 18 Februari 2025. (Kementerian Luar Negeri Rusia/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menggelar pertemuan bilateral di sela-sela KTT ASEAN di Manila, Filipina. Pertemuan tatap muka pertama mereka sejak September 2025 tersebut berlangsung singkat selama sekitar 35 menit akibat padatnya jadwal.

Mengutip laporan Russia Today, Kamis (23/7/2026), perundingan tersebut berfokus pada hubungan bilateral kedua negara serta isu internasional utama, khususnya konflik Ukraina dan situasi di Teluk Persia. Pertemuan di Manila ini digelar atas permintaan pihak Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali negosiasi perdamaian yang berusaha dimediasi oleh Presiden Donald Trump.

"Menteri Lavrov membeberkan gambaran kondisi nyata di garis depan pertempuran dan memperingatkan bahaya pengiriman senjata lanjutan ke Kyiv. Beliau juga menuding negara-negara Eropa menjalankan kebijakan destabilisasi untuk memicu kekalahan strategis bagi Rusia," beber Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengenai isi pembahasan krisis Ukraina.

Lavrov menegaskan kembali kesiapan Moskow untuk mencapai penyelesaian diplomatik atas krisis tersebut. Pihaknya menyatakan tetap berkomitmen pada usulan AS yang telah diterima oleh Presiden Vladimir Putin pada KTT di Anchorage, Alaska, tahun lalu.

Selain isu konflik, kedua diplomat menyambut baik pemulihan kembali kontak penuh antara badan antariksa Roscosmos dan NASA. Keduanya juga sepakat mendukung perluasan pertukaran budaya serta perbaikan kondisi operasional bagi misi diplomatik kedua negara.

"Pembicaraan ini merupakan diskusi yang baik dan jujur, di mana AS tetap bersiap memainkan peran konstruktif untuk mengakhiri perang yang tidak masuk akal ini," ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio usai pertemuan.

"Namun, usulan Anchorage yang dirujuk pihak Rusia kini sudah tidak berlaku lagi karena telah ditolak oleh Kyiv. Penyelesaian konflik memerlukan ide dan konsep baru agar dapat diterima kedua belah pihak," lanjut Marco Rubio menambahkan.

Di sisi lain, Istana Kremlin mengimbau agar publik tidak berlebihan dalam menanggapi pertemuan diplomasi tersebut. Pihak Moskow menegaskan tetap terbuka untuk melanjutkan dialog tatap muka secara langsung di ibu kota Rusia.

"Kelanjutan kontak antar-negara merupakan hal yang positif, tetapi hal ini belum menjadi momentum baru atau percepatan dalam perundingan damai," tegas Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Kendati perundingan damai sempat menjanjikan di awal kepemimpinan Trump, upaya tersebut hingga kini sebagian besar terhenti sejak AS terlibat dalam perang di Timur Tengah. Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin menegaskan Rusia tetap berpegang pada syarat awal, yakni penyerahan wilayah perbatasan baru dan pembatalan niat Ukraina bergabung dengan NATO.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Menlu AS Tiba-Tiba Menghadap RI Cs, Warning Bahaya Iran Kuasai Hormuz


Most Popular
Features