Menlu AS Tiba-Tiba Menghadap RI Cs, Warning Bahaya Iran Kuasai Hormuz
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio melontarkan peringatan keras di hadapan para menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) terkait bahaya penguasaan Selat Hormuz oleh Iran. Langkah sepihak Teheran di jalur perairan vital tersebut dinilai bakal menciptakan preseden buruk yang berisiko merembet ke kawasan lain di dunia.
Mengutip laporan Channel News Asia (CNA), Rabu (22/07/2026), peringatan tersebut disampaikan Rubio saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Manila, Filipina. Sinyal bahaya dari Washington ini mencuat di saat pasukan Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan udara beruntun ke target militer Iran selama 11 malam berturut-turut demi melumpuhkan ancaman terhadap kapal komersial.
"Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah di mana sebuah negara bangsa dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur perairan internasional, memungut biaya tol, dan meledakkan kapal Anda jika Anda tidak membayar, kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya yang akan berulang di bagian lain dunia, termasuk wilayah ini," tegas Menlu AS Marco Rubio di hadapan para utusan diplomatik ASEAN.
"Pada intinya, ini sangat sederhana. Iran menuntut hak-yang tidak mereka miliki di bawah mekanisme hukum mana pun yang ada-untuk mengendalikan transit lalu lintas melalui Selat Hormuz. Ada prinsip mendasar tentang kebebasan navigasi yang terancam. Hal itu tidak boleh dibiarkan terjadi," lanjut Rubio, menambahkan mengenai urgensi pengamanan jalur laut internasional tersebut.
Bayang-Bayang Tensi Laut China Selatan dan Opsi Diplomasi
Pernyataan Rubio mengenai ancaman navigasi udara dan laut mendapatkan perhatian khusus dari para pemimpin Asia Tenggara. Pasalnya, kawasan Asia Tenggara sendiri saat ini tengah berjuang menghadapi klaim tumpang tindih serta eskalasi ketegangan antara China dan sejumlah negara anggota ASEAN di perairan Laut China Selatan, yang merupakan rute perdagangan maritim utama dunia.
Kehadiran Rubio di Manila juga bertepatan dengan kecaman resmi Washington atas insiden bentrokan terbaru antara pelaut China dan Filipina di wilayah perairan yang diperselisihkan tersebut. Di sela-sela KTT ASEAN, Rubio dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan Menlu China Wang Yi, serta mengadakan pembicaraan khusus bersama jajaran menteri dari kelompok Quad yang mencakup India, Australia, dan Jepang.
Terkait konflik militer dengan Teheran, pihak pemerintah Amerika Serikat menyiratkan bahwa pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Kendati demikian, Washington menilai pihak Teheran hingga saat ini tidak menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan damai.
"Amerika Serikat tetap terbuka dan bersedia untuk terlibat dalam negosiasi dan diskusi yang positif serta konstruktif, dengan syarat komitmen yang dibuat dihormati. Masalah yang kita hadapi saat ini adalah mereka tidak menganggap negosiasi tersebut secara serius," kata Marco Rubio menjelaskan posisi tawar politik AS.
"Jika mereka serius, kami pun akan demikian. Jika tidak, maka kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan kepentingan para sekutu kami."
source on Google [Gambas:Video CNBC]