Satu per Satu Petani Kelapa "Hilang" Banting Setir ke sini, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan salah satu penyebab terus menyusutnya luas perkebunan kelapa nasional. Selain terdampak bencana dan serangan hama, banyak petani mulai meninggalkan komoditas kelapa dan beralih menanam kelapa sawit karena harga kelapa yang selama ini cenderung rendah dan berfluktuasi.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, Agus Rosyid Wasingun mengatakan, tren penurunan luas areal dan produksi kelapa sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari alih fungsi lahan hingga konversi kebun kelapa ke komoditas lain yang dinilai lebih menguntungkan.
"Trennya memang untuk luas areal dan produksi itu terus menurun ya. Ada banyak faktor, antara lain dengan peralihan konversi infrastruktur, kemudian ada beberapa yang terkena bencana kemarin di tiga provinsi, kemudian ada serangan hama, lalu beberapa hal yang utama sebenarnya pada stabilitas harga ini, yang kadang membuat petani itu latah melirik komoditi lain, dalam hal ini saya katakan sebagai adik kandung begitu ya, misalnya kayak kelapa sawit yang cenderung stabil harganya. Ini tentunya memprihatinkan dan tentunya akan kita sikapi bersama," kata Rosyid dalam dalam Webinar Hilirisasi Kelapa Sinar Tani, Rabu (22/7/2026).
Tak hanya itu, persoalan harga juga masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Agus mengungkapkan, meski harga kelapa mulai membaik pada 2026, petani belum sepenuhnya menikmati kenaikan tersebut karena selisih harga antara tingkat petani dengan pedagang masih cukup lebar.
"Harganya cenderung memang fluktuatif dan saya katakan cenderung rendah itu cukup lama gitu ya. Contoh di 2025 itu lag-nya cukup tinggi antara harga di pengepul dan harga di petani ya, itu antara Rp2.000-an. Kemudian untuk di 2026 sudah mulai membaik, tidak terlalu jauh lag-nya, tetapi di akhir-akhir ini juga saya begitu turun ke lapangan masih kembali. Ketika produksi normal itu harga di petani kembali jauh lagi lag-nya dengan para pedagang dan pengepul. Ini tentunya PR kita bersama," ujarnya.
Menurut Agus, rantai pasok yang panjang menjadi salah satu penyebab harga di tingkat petani tertinggal dibanding harga yang diterima pedagang. Kondisi tersebut membuat motivasi petani untuk merawat kebun kelapa ikut menurun, bahkan mendorong sebagian petani beralih ke komoditas lain.
"Lalu rantai pasok yang cukup panjang buat kesenjangan harga di tingkat petani dan pedagang maupun pengepul ini cukup lebar gitu ya. Kemudian keterbatasan benih unggul bersertifikat karena dengan benih unggul ini sudah 30% keberhasilan dari produksi itu akan tercapai, tapi masih terbatas dan masih banyak menggunakan benih unggul lokal," jelas dia
"Kemudian penurunan luas dan produksi tadi tentu menyebabkan penurunan juga produktivitas. Lalu, selama ini hampir satu dekade produktivitasnya belum bisa meningkat," lanjut Rosyid.
Meski demikian, ia menilai prospek komoditas kelapa Indonesia masih sangat menjanjikan. Permintaan dunia terus meningkat, bahkan Malaysia masih bergantung pada pasokan kelapa dari Indonesia.
"Peluangnya, sebenarnya permintaan dunia cukup besar dan memang beberapa negara sudah mulai, bahkan seperti Malaysia itu hampir 89% kebutuhan kelapanya dari Indonesia, sehingga ketika kemarin sempat dua tahun lalu kekurangan bahan itu sempat datang ke kementerian untuk memohon supaya tidak ada penghentian ekspor kelapa, tetapi (diminta buatkan) pengaturan dan sebagainya. Itu saking kekhawatirannya sangat tinggi bahwa kebutuhan kelapa Malaysia itu 89% itu dipenuhi dari Indonesia. Kemudian peluang ekspornya juga cukup besar," ungkapnya.
Untuk itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi sebagai upaya meningkatkan nilai tambah sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani. Rasyid mengatakan, hilirisasi tidak hanya bertujuan memperkuat industri pengolahan di dalam negeri, tetapi juga menciptakan kemitraan yang lebih baik antara petani dan pelaku usaha, agar pasokan bahan baku tetap terjaga, sementara petani memperoleh harga yang lebih layak.
"Sebenarnya Hilirisasi ini memang tahun ini hilirnya sedang berjalan ya. Menggandeng juga Danantara ada 500 ribu hektare yang kita targetkan, tapi APBN itu baru mampu mungkin sekitar 221 ribuan hektare sampai 2027. Yang lain kita akan menggandeng swasta, PTPN dan sebagainya. Alhamdulillah PTPN juga sudah mulai bekerja keras di Jawa Timur, sudah membangun kebun inti kelapa dan akan merambah ke plasma," pungkasnya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]