Perang Dagang AS 'Bangkit dari Kubur', Trump Naikkan Tarif Ini 200%
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang kini bak bangkit dari kubur. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump gencar mengumumkan tarif baru ke sejumlah negara, dalam sepekan terakhir.
Pada 16 Juli lalu, ia mematok 25% tarif ke Brasil sementara akhir pekan, ia menjatuhkan tarif 50% ke produk Kanada. USTR Selasa juga memberi sinyal tarif baru ke 60 negara termasuk RI, dengan alasan "praktik kerja paksa".
Dalam update Rabu (22/7/2026), giliran obat generik yang diimpor ke AS yang akan menghadapi tarif. Awalnya, obat-obat itu akan menerima tarif nol selama dua tahun mulai 1 Agustus, sebelum tarif naik 100% pada Agustus 2028 dan naik menjadi 200% setahun kemudian.
"Jadwal bertahap ini dimaksudkan untuk mendorong produsen obat generik memindahkan produksi ke dalam negeri," kata Trump dalam unggahan media sosialnya, menggambarkan peningkatan tersebut sebagai "hukuman" bagi perusahaan yang tidak membangun pabrik dan fasilitas di AS dalam masa tenggang.
"Tarif untuk obat-obatan yang dipatenkan dan bermerek akan tetap tidak berubah, kata Trump," ujarnya.
Trump memberlakukan tarif 100% pada produk dan bahan farmasi yang dipatenkan berdasarkan Pasal 232 pada 2 April. Namun, ia mengecualikan obat generik, biosimilar, dan bahan terkait.
Produsen obat yang lebih besar diberi waktu 120 hari sebelum tarif 100% berlaku. Sedangkan produsen obat yang lebih kecil, yang bergantung pada produsen kontrak, memiliki waktu 180 hari sebelum tarif tersebut berlaku.
Sebenarnya, lebih dari selusin produsen obat besar- termasuk Eli Lilly, Pfizer, dan Novo Nordisk- telah mencapai kesepakatan dengan Trump untuk menurunkan harga obat baru dan yang sudah ada. Trump telah menggunakan ancaman tarif dan kebijakan penetapan harga untuk menekan produsen obat agar tidak membebankan biaya kepada warga Amerika lebih tinggi daripada pasien di negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya.
Negara Terdampak
India diyakini akan sangat terdampak. Karena Perusahaan farmasi negara tersebut memasok hampir 50% dari semua obat generik yang dikonsumsi di Amerika.
AS menyumbang sekitar sepertiga dari ekspor farmasi India, sebagian besar berupa versi yang lebih murah dari obat-obatan populer, setiap tahunnya. Perusahaan-perusahaan China juga mendominasi pasokan hulu bahan aktif farmasi, seperti amoksisilin dan heparin.
source on Google [Gambas:Video CNBC]