CLOSE AD
MARKET DATA

Jika Harga Minyak Dunia Turun, Bahlil Minta SPBU Sesuaikan Harga BBM

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
21 July 2026 07:05
(Kiri-Kanan) Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dan Menteri PKP, Maruarar Sirait saat menyampaikan keterangan kepada media di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026). (
Foto: (Kiri-Kanan) Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dan Menteri PKP, Maruarar Sirait saat menyampaikan keterangan kepada media di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara mengenai penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang biasa terjadi pada akhir bulan. Saat ini, pihaknya sudah melakukan rapat bersama dengan badan usaha baik BUMN seperti PT Pertamina (Persero) dan juga swasta untuk segera melakukan penyesuaian jika harga minyak dunia menurun.

Yang pasti, kata Bahlil, harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan.

"Kita juga memastikan bahwa kenaikan terhadap BBM subsidi Insya Allah enggak ada kenaikan sama sekali. Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun kita sudah mulai meminta kepada badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian," kata Bahlil, di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026).

Saat ditanya kemungkinan penurunan produk BBM non subsidi seperti Pertamax pada bulan depan, Bahlil menyatakan sedang melakukan perhitungan terhadap harga minyak dunia.

"Kita akan melihat, saya sudah menghitung dan saya akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan. Karena teman-teman tahu kab bahwa harga kadang-kadang harga ICP hari ini besok turunm enggak sama 2 hari naik lagi," tuturnya.

Meski begitu pemerintah dengan badan usaha masih mencari formulasi yang bijak supaya tidak memberatkan rakyat, khususnya pengguna BBM non subsidi.

"Ini kan totalnya 20% (kuota BBM non subsidi keseluruhan), saudara-saudara kita yang mampu, Tapi juga kita tidak memberatkan pelaku usaha di sektor perminyakan," tutur Bahlil.

Harga ICP Juni Turun US$83,45 per Barel

Kementerian ESDM menetapkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Juni 2026 sebesar US$ 83,45 per barel. Angka ini mengalami penurunan dari ICP bulan sebelumnya yang dipatok sebesar US$ 106,56 per barel.

Penurunan harga minyak mentah acuan di pasar internasional antara lain dipengaruhi oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah yang sebelumnya sempat memicu gejolak di pasar minyak dunia.

Seiring pulihnya jalur distribusi dan berangsur stabilnya pasokan global, harga minyak mentah Indonesia turut mengalami penurunan.

Penetapan ICP Juni tercantum dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juni 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan harga ICP selama Juni 2026.

"Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar US$22,50 per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level US$106,56 per barel. Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang bulan Juni," kata Laode dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).

Selain meredanya ketegangan di Timur Tengah, gencatan senjata dan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap turut memengaruhi pasar. Pembukaan jalur tersebut memperlancar pasokan minyak dunia dan menekan harga di pasar internasional.

Harga minyak turut dipengaruhi faktor fundamental pasar. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan minyak dunia tumbuh 1,1 juta barel per hari (bph), sementara OPEC+ kembali meningkatkan produksi.

Rusia berencana meningkatkan pasokan minyak untuk memenuhi target OPEC+ 2026. Kenaikan pasokan dan perlambatan permintaan menekan harga minyak dunia.

Secara rinci, perkembangan rata-rata harga minyak mentah utama pada Juni 2026 dibandingkan Mei 2026 adalah sebagai berikut:

- ICP minyak mentah Indonesia turun US$23,11 per barel, dari US$106,56 menjadi US$83,45 per barel.

- Brent di ICE turun US$18,73 per barel, dari US$103,71 menjadi US$84,98 per barel.

- WTI di Nymex turun US$16,11 per barel, dari US$98,51 menjadi US$82,41 per barel.

- Dated Brent turun US$21,42 per barel, dari US$107,55 menjadi US$86,13 per barel.

- Basket OPEC turun US$23,52 per barel, dari US$114,55 menjadi US$91,03 per barel berdasarkan data hingga 28 Juni 2026.

Untuk Juli 2026, pemerintah memproyeksikan ICP berada pada kisaran US$67 hingga US$71 per barel. Realisasi harga akan bergantung pada perkembangan pasar dan situasi geopolitik global.

Risiko yang masih perlu diperhatikan antara lain kemungkinan eskalasi serangan baru yang dapat mengganggu produksi minyak. Di sisi lain, peningkatan pasokan dari Timur Tengah setelah pembukaan Selat Hormuz berpotensi kembali menekan harga.

"Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan baik. Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," ujar Laode.

Pemerintah akan menjadikan perkembangan pasokan, permintaan, serta kondisi geopolitik sebagai dasar pemantauan ICP pada periode berikutnya. Perubahan ketiga faktor tersebut akan menentukan arah harga minyak mentah Indonesia sepanjang Juli 2026.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga BBM Non Subsidi Turun di Bulan Juli? Ini Kata Bahlil


Most Popular
Features