MARKET DATA

Gak Cuma Tetes Tebu, BBM Bensin RI Bisa Dicampur Hasil Perkebunan Ini

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
20 July 2026 09:10
Ilustrasi Sorgum. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)
Foto: Ilustrasi Sorgum. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) sedang mengembangkan berbagai jenis bahan baku nabati di luar tebu untuk memproduksi bioetanol. Perusahaan mulai melirik potensi singkong, jagung, hingga sorgum sebagai bahan baku alternatif bahan campuran bahan bakar minyak (BBM) khususnya bensin.

CEO Pertamina NRE John Anis memaparkan rencana penggunaan berbagai sektor pangan untuk produksi bioetanol kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Ia menyebut hal itu sejalan dengan target pemerintah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam di berbagai daerah.

"Tapi kami juga mengembangkan dari multi-feedstock pak. Jadi bisa dari aren di Sulawesi Utara tempat bapak juga banyak pak di sana, kemudian bisa dari singkong, jagung, dan sorgum seperti yang bapak sampaikan kemarin pak cita-citanya," katanya dalam paparan Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI, secara daring, dikutip Senin (17/7/2026).

Saat ini, perusahaan mulai memproduksi bioetanol berbasis tetes tebu lewat pabrik di Mojokerto, Jawa Timur, berkapasitas 33.000 kiloliter per tahun. Namun, penggunaan bahan baku lain seperti singkong dan sorgum dinilai lebih fleksibel untuk dikembangkan di provinsi lain sesuai ketersediaan lokal.

"Nah yang menarik pak ini kan energi di sini pak kalau kilang kan di beberapa tempat aja, ini bisa desentralisasi di semua tempat tergantung dari kearifan lokal. Jadi bapak bisa mengembangkan petani setempat dengan potensi lokal menjadi lebih makmur pak," lanjutnya.

Pengembangan bioetanol tersebut bertujuan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara lain seperti India yang sudah mengimplementasikan campuran etanol 20% (E20). Saat ini, Indonesia baru menerapkan tahap E5 di wilayah Jakarta dan Jawa Timur dengan bahan baku tetes tebu.

"India udah E20 pak, jadi kita nggak mau kalah pak, kita harus kejar mereka. Kita baru E5 pak. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta," paparnya.

Menurutnya, penggunaan bahan baku lokal dari petani akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin. Dia memperhitungkan, dengan membangun sekitar 20 hingga 30 pabrik baru dalam dua tahun, devisa negara yang selama ini lari ke luar negeri bisa dialihkan untuk menyejahterakan petani dalam negeri.

"Impor pak. Jadi impor daripada uangnya ke luar pak, kasih petani pak," tegasnya.

Dengan begitu, perusahaan menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam memberikan kepastian harga dan regulasi mandatori. Hal ini diperlukan agar pasokan bahan baku dari petani seperti singkong dan jagung tetap terjaga.

"Ada dua pak, mandatory sama kepastian feedstock pak dan harganya pak, demikian," tandasnya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Bioetanol Naik Jadi Rp7.992 per Liter, Berlaku Mei 2026


Most Popular
Features