MARKET DATA
INTERNASIONAL

Trump Ngamuk Saat Nonton Piala Dunia, Putuskan Serang Iran Lagi

tps,  CNBC Indonesia
20 July 2026 08:05
Presiden AS Donald Trump berbicara tentang keamanan pemilu selama pidato kenegaraan dari Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 16 Juli 2026. (SAUL LOEB/Pool via REUTERS)
Foto: (SAUL LOEB/Pool via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan naik pitam di tengah momentum gelaran Piala Dunia dan langsung memerintahkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran. Perintah penyerangan agresif ini dikeluarkan oleh Trump guna melumpuhkan kemampuan militer Iran sekaligus menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Mengutip laporan CNBC International, Minggu (19/07/2026), Trump menginstruksikan pasukannya untuk menggempur fasilitas militer Teheran setelah ia bersikap acuh tak acuh terhadap keputusan sepihak Iran yang menarik diri dari perjanjian damai darurat memorandum kesepahaman Islamabad.

Ketika dimintai keterangan oleh jurnalis mengenai langkah Iran yang tidak lagi mematuhi perjanjian damai tersebut, Trump menunjukkan respons yang sangat keras.

"Saya sama sekali tidak peduli," tukas Trump saat ditanya oleh jurnalis mengenai sikap Iran.

Ketegangan bersenjata yang dipicu oleh instruksi langsung Trump ini berdampak fatal pada meningkatnya jumlah korban jiwa di pihak militer Washington. Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa seorang lagi anggotanya tewas dalam pertempuran terbaru di Irak akibat ledakan drone serang Iran.

Secara akumulatif, total korban tewas dari pihak militer AS kini telah melonjak menjadi 17 jiwa sejak konflik bersenjata ini pecah pertama kali pada Februari lalu. Trump mengindikasikan bahwa kejadian ini menjadi sebuah pemicu serangan balik ke Negeri Para Mullah.

"Sangat menyedihkan, ini adalah hal yang sangat menyedihkan. Kita benci melihat hal itu terjadi. Itu demi berbakti kepada negara kita," tutur Trump menanggapi tewasnya anggota militer AS di Yordania.

Meskipun korban di pihak AS terus bertambah dan eskalasi perang memasuki fase mematikan, Trump tetap bersikeras mengklaim bahwa operasi militer AS berjalan dengan sangat sukses.

Di sisi lain, eskalasi konflik ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga 16% dalam sepekan terakhir akibat kekhawatiran kelumpuhan logistik di Selat Hormuz, di mana minyak mentah acuan Brent untuk pengiriman September melesat 4,6% ke level US$ 88,10 (Rp 1.585.800) per barel dan minyak mentah WTI AS naik 4,5% menjadi US$ 82,49 (Rp 1.484.820) per barel.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dunia Menahan Napas, AS-Iran di Ambang Ledakan Perang Baru


Most Popular
Features