MARKET DATA
CNBC Insight

Orang Arab Ramai-Ramai ke RI Cari Tanaman yang Disebut Al-Qur'an

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
19 July 2026 22:00
Pohon Kamper. (Dok. lindungihutan)
Foto: Pohon Kamper. (Dok. lindungihutan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanaman kamper atau kapur barus yang disebut dalam Al-Qur'an ternyata pernah menjadi komoditas yang membuat banyak pedagang Arab berlayar jauh hingga ke Nusantara. Tanaman yang diyakini sebagai Dryobalanops aromatica itu tidak tumbuh di Jazirah Arab, sehingga mereka harus mencari sumbernya ke wilayah yang kini menjadi Indonesia, tepatnya di Barus, Sumatra Utara.


Arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam Ancient Fansur, Aceh's Atlantis (2013) menjelaskan, jaringan perdagangan membuat masyarakat Arab mengetahui bahwa pusat penghasil kamper berada di Pulau Sumatra.


"Pusat tanaman kamper berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatra. Secara spesifik, lokasinya berada di Fansur atau kini disebut Barus," tulis Mc. Kinnon.


Penyebutan kamper dalam Al-Qur'an terdapat pada Surat Al-Insan ayat ke-5 yang menyebutkan bahwa orang-orang beriman akan memperoleh minuman yang bercampur air kafur. Para ulama menafsirkan kafur tersebut sebagai air yang berasal dari tanaman kamper, bukan kapur barus sintetis yang umum dikenal saat ini.


Tanaman Dryobalanops aromatica memiliki aroma khas dan sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan obat, wewangian, hingga komoditas bernilai tinggi.


Popularitas kamper dari Barus sudah tercatat dalam berbagai sumber sejarah. Pedagang Arab Ibn Al-Faqih pada 902 M menyebut Fansur sebagai daerah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana.


Sementara ahli geografi Ibn Sa'id al-Magribi pada abad ke-13 secara khusus menuliskan bahwa kamper terbaik berasal dari Pulau Sumatra. Bahkan, nama Barus telah dicatat oleh ahli geografi Romawi, Ptolemy, sejak abad pertama Masehi.

Seiring meningkatnya permintaan, pedagang Arab berbondong-bondong datang ke Sumatra. Sejarawan Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebut para saudagar Arab berlayar langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon atau Sri Lanka, sebelum akhirnya tiba di pesisir barat Sumatra. Mereka membawa kapal berukuran besar untuk mengangkut kapur barus yang memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional.


Guillot juga mencatat bahwa reputasi kamper Barus terus meningkat hingga dianggap memiliki kualitas lebih baik dibandingkan kamper dari Malaya maupun Kalimantan. Kondisi itu membuat Barus berkembang menjadi salah satu pelabuhan dagang terpenting di Sumatra sekaligus pusat perdagangan kamper dunia pada masanya.


Ramainya kedatangan pedagang Arab tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi. Barus juga menjadi salah satu titik awal penyebaran Islam di Nusantara. Para saudagar Muslim yang singgah dalam perjalanan menuju China sebagian memilih menetap dan membangun komunitas di kawasan pesisir.


Proses tersebut mendorong Islamisasi di sejumlah wilayah, seperti Barus (Fansur), Lamri, dan Haru. Salah satu bukti yang sering dikaitkan dengan masuknya Islam di kawasan itu adalah kompleks makam kuno Mahligai di Barus, yang diyakini menyimpan jejak awal keberadaan komunitas Muslim. Temuan tersebut kemudian melahirkan salah satu teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia, meski hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.


Terlepas dari perdebatan mengenai asal-usul penyebaran Islam, para pedagang Arab di Barus berhasil membangun jaringan perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Arab. Hubungan dagang yang berawal dari pencarian tanaman kamper itu turut menjadikan wilayah yang kini bernama Indonesia telah dikenal di kancah internasional sejak berabad-abad silam.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga Arab Kompak Pergi ke RI Cari Tanaman yang Disebut di Al-Quran


Most Popular
Features